IHSG Dihantam Sentimen Global, Investor Ritel Keluar atau Bertahan?
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak sideways dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek, seiring belum adanya katalis kuat untuk pembalikan arah.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup turun 18,399 poin atau 0,26 persen ke level 6.971,027 pada perdagangan Selasa (7/4/2026). Indeks sempat dibuka di posisi 7.001,278 dan bergerak dalam rentang yang cukup lebar, dengan posisi tertinggi di 7.022,041, serta menyentuh level terendah di angka 6.942,627.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan level 6.900 menjadi support psikologis terdekat indeks yang kini sedang diuji.
Jika tekanan berlanjut, IHSG berpotensi turun ke posisi 6.800-6.850 sebagai area bottom jangka pendek.
Baca juga: IHSG Selasa Gagal Bertahan di Zona 7.000, Asing Net Sell Rp 1,78 T
Namun demikian peluang rebound tetap terbuka apabila ketegangan geopolitik di Timur Tengah mereda.
“Atau terdapat sentimen positif dari arah global maupun domestik, mengingat valuasi saham saat ini mulai menarik setelah koreksi yang cukup dalam,” ujar Hendra saat dihubungi Kompas.com, Selasa malam (7/4/2026).
Kondisi IHSG yang cenderung melemah dalam jangka pendek memunculkan pertanyaan di kalangan investor ritel: apakah harus keluar, bertahan, atau justru mulai masuk pasar?
Hendra menilai meskipun pasar sedang tertekan, kondisi itu tidak serta-merta menjadi alasan untuk keluar dari pasar modal.
Menurutnya, saat ini pasar sedang mengalami proses repricing, di mana risiko telah mulai tecermin dalam harga saham.
Bagi investor ritel dengan strategi yang terukur, kondisi tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi secara bertahap, dibandingkan melakukan pengalihan aset secara agresif yang berpotensi kehilangan momentum saat pasar berbalik arah.
Dari sisi sektoral mulai terlihat adanya rotasi ke sektor yang lebih defensif.
Sektor infrastruktur dan telekomunikasi menunjukkan ketahanan yang relatif, didukung oleh karakter bisnis yang stabil dan visibilitas pendapatan yang lebih terjaga.
Selain itu, sektor energi juga tetap menarik dalam konteks kenaikan harga minyak global, meskipun volatilitas masih tinggi.
Sebaliknya, sektor industri dan otomotif cenderung tertekan karena lebih sensitif terhadap perlambatan ekonomi dan kenaikan biaya produksi.
Terkait intervensi pasar, Hendra memandang langkah yang dibutuhkan bukanlah intervensi langsung untuk menopang indeks, melainkan penguatan fundamental pasar.
Upaya yang telah dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan dan otoritas bursa lainnya melalui peningkatan transparansi, penyesuaian aturan free float, serta pengawasan kepemilikan saham dinilai menjadi langkah yang tepat untuk menjaga kredibilitas pasar dalam jangka panjang.
“Meskipun berdampak negatif dalam jangka pendek, kebijakan ini justru menjadi fondasi penting untuk meningkatkan kepercayaan investor ke depan,” paparnya.
Hendra kembali menekan bahwa IHSG saat ini berada dalam fase tekanan dan ketidakpastian, namun tetap menyimpan peluang.
Pasar tidak kehilangan daya tariknya, melainkan sedang berada dalam fase penyesuaian.
Baca juga: Saham Masuk Daftar HSC Bisa Tertekan, Berpotensi Didepak dari MSCI
Dengan pendekatan yang disiplin, selektif, dan berorientasi jangka menengah hingga panjang, pasar modal Indonesia masih relevan sebagai instrumen investasi di tengah dinamika global yang terus berkembang.
Untuk diketahui, secara eksternal, pasar global berada dalam fase wait and see akibat eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, terutama setelah sikap tegas Presiden AS Donald Trump yang memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran stagflasi.
Kondisi tersebut mendorong investor global mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Di sisi domestik, kekhawatiran terkait potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global seperti MSCI akibat isu free float dan tingginya konsentrasi kepemilikan saham turut memperburuk sentimen, tecermin dari aksi jual asing yang masih berlanjut.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #ihsg #dihantam #sentimen #global #investor #ritel #keluar #atau #bertahan