BP BUMN Tarik WIKA dari Proyek Kereta Cepat Whoosh, Ini Alasannya
Kepala BP BUMN Dony Oskaria saat ditemui di Istana, Jakarta, Selasa (7/4/2026). (KOMPAS.com/ADHYASTA DIRGANTARA)
19:40
7 April 2026

BP BUMN Tarik WIKA dari Proyek Kereta Cepat Whoosh, Ini Alasannya

- Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) Dony Oskaria menyatakan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA tidak akan lagi terlibat dalam proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) atau Whoosh.

Langkah ini diambil seiring dengan besarnya beban keuangan WIKA yang mencatatkan rugi Rp 1,8 triliun per tahun akibat proyek Kereta Cepat Whoosh.

Dony mengatakan, pihaknya sedang mengatasi permasalahan yang dihadapi WIKA agar BUMN konstruksi ini bisa fokus pada bisnis intinya.

Maka dari itu, WIKA tidak akan lagi terlibat dalam pengelolaan bisnis perkeretaapian.

Baca juga: KCIC Angkat Suara Terkait Whoosh Berhenti Mendadak di Wilayah Kopo

"Jadi kan itu yang lama kita bereskan. Jadi mereka tidak akan lagi terlibat di dalam kereta api karena tidak in-line dengan bisnisnya mereka," ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Sebagai informasi, KCIC merupakan perusahaan joint venture antara konsorsium Indonesia dan China.

Konsorsium Indonesia diwakili oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dengan saham 60 persen.

Sementara konsorsium China lewat Beijing Yawan HSR Co. Ltd menggenggam 40 persen.

PSBI mencakup empat BUMN, yaitu PT KAI (Persero), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) atau PTPN VIII.

Dony menuturkan, pemerintah akan menyelesaikan secara menyeluruh permasalahan yang dihadapi oleh BUMN yang tergabung dalam konsorsium Whoosh. Ia ingin, setiap BUMN bisa kembali ke fokus bisnisnya masing-masing.

"Kita maunya sekali selesai tuntas semua. Kita kembalikan lagi ke porsinya, misalnya WIKA memang bukan bidangnya di situ, akan fokus ke kontraktor. Jadi satu persatu kita bereskan," ucapnya.

Ia menjelaskan, langkah pembenahan tersebut merupakan bagian dari upaya restrukturisasi besar-besaran yang dilakukan secara bertahap namun dengan penyelesaian menyeluruh.

Penataan ini juga akan menyasar ke BUMN lainnya yang terlibat dalam sektor perkeretaapian, namun bukan menjadi bisnis intinya.

"Jadi memang penyelesaian itu satu per satu. Pasti teman-teman tahulah, misalkan ada WIKA di sini, ada juga terkait juga dengan kereta api dengan Bukit Asam dan sebagainya. Ini kita bereskan, rapikan," kata Dony.

Kereta cepat WhooshDOK. KCIC Kereta cepat WhooshSebelumnya, Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito mengungkapkan perusahaan menanggung beban kerugian sebesar Rp 1,7 triliun-Rp 1,8 triliun setiap tahunnya dari proyek Kereta Cepat Whoosh.

Beban tersebut berkaitan dengan kewajiban keuangan yang muncul dari keterlibatan WIKA dalam proyek Whoosh.

"Setiap tahun memang masih ada beban yang harus ditanggung,” ujar Agung, usai media visit Tol HBR II, Jakarta, Senin (6/4/2026).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi perusahaan dalam menjaga kinerja keuangan di tengah berbagai proyek strategis yang dijalankan.

Dia memastikan, perseroan tetap berupaya melakukan berbagai langkah penyehatan keuangan untuk mengurangi tekanan dari kewajiban tersebut, seiring dengan upaya restrukturisasi yang tengah dilakukan perusahaan.

Baca juga: Purbaya: Skema Restrukturisasi Kereta Cepat Tunggu Pengumuman Resmi Presiden

Tag:  #bumn #tarik #wika #dari #proyek #kereta #cepat #whoosh #alasannya

KOMENTAR