Elektrifikasi Energi Dinilai Kunci Tekan Subsidi
Ilustrasi SPKLU. Jawa Barat sedang bersiap untuk ekonomi lebih hijau dari hulu hingga hilir, yakni PLTA hingga SPKLU. (Dok BERKAT CAWAN GROUP)
08:27
4 April 2026

Elektrifikasi Energi Dinilai Kunci Tekan Subsidi

— Di tengah memanasnya geopolitik Timur Tengah, upaya memperkuat kemandirian energi nasional menjadi semakin krusial. Salah satu langkah yang dinilai relevan adalah percepatan elektrifikasi di sektor transportasi dan rumah tangga untuk mengurangi ketergantungan pada energi impor.

Langkah ini dinilai penting seiring lonjakan beban subsidi energi dalam beberapa tahun terakhir, yang sebagian besar masih terserap untuk bahan bakar minyak (BBM) dan LPG.

“Kondisi saat ini menjadi pengingat bagi Indonesia untuk segera memperkuat kemandirian energi melalui pemanfaatan sumber daya domestik, terutama ketenagalistrikan di tengah risiko stabilitas pasokan dan harga energi dunia,” kata Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/4/2026).

Sugeng menambahkan, elektrifikasi kendaraan menjadi langkah strategis untuk mengalihkan konsumsi energi dari bahan bakar fosil ke listrik.

“Dengan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, konsumsi energi dapat lebih bertumpu pada sistem kelistrikan nasional yang bersumber dari dalam negeri,” katanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, subsidi energi meningkat dari Rp 95,7 triliun pada 2020 menjadi Rp 159,6 triliun pada 2023, lalu naik ke Rp 203,4 triliun pada 2024.

Pada 2025, total anggaran bahkan mencapai Rp 394,3 triliun dan direncanakan Rp 210,06 triliun dalam RAPBN 2026, dengan porsi besar tetap untuk BBM dan LPG.

Baca juga: Konflik Iran-AS-Israel Picu Dorongan Percepat Elektrifikasi RI

Elektrifikasi Jadi Strategi Tekan Ketergantungan

Selain kendaraan listrik, Sugeng juga menilai konversi kompor berbahan bakar gas ke kompor listrik di tingkat rumah tangga sebagai langkah penting.

“Penggunaan kompor listrik dapat menjadi alternatif yang lebih efisien sekaligus memanfaatkan jaringan listrik yang telah tersedia luas di berbagai daerah,” imbuh dia.

Menurut dia, langkah ini menjadi bagian dari upaya menghadapi ketidakpastian global sekaligus memperkuat sistem energi nasional.

“Peningkatan konsumsi listrik domestik secara produktif akan memperkuat sistem energi nasional di tengah tekanan eksternal,” ucap Sugeng.

Ia menekankan, kebijakan elektrifikasi perlu didukung regulasi yang matang agar implementasinya tidak membebani masyarakat.

“Dengan demikian, transisi energi dapat berlangsung bertahap sekaligus memberikan manfaat nyata bagi ketahanan energi nasional,” tutup dia.

Baca juga: Elektrifikasi Transportasi: Warga Desa Dapat Apa?

Pengamat: Kurangi Ketergantungan BBM Impor

Pengamat energi Komaidi Notonegoro menilai elektrifikasi di sektor rumah tangga dan transportasi menjadi solusi strategis di tengah ketidakpastian pasokan energi global.

“Elektrifikasi di sektor rumah tangga dan transportasi dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM), yang dalam bauran energi nasional masih mencapai sekitar 30 persen sehingga sangat rentan terhadap gejolak geopolitik dan fluktuasi harga internasional,” kata Komaidi dalam keterangan tertulis, Senin (30/3/2026).

Ia menyebut, kompor listrik menjadi alternatif karena listrik tidak bergantung pada minyak dan gas.

“Kita masih memiliki sumber energi lain, termasuk batu bara yang dalam bauran energi nasional, dan ketersediaannya relatif lebih besar di dalam negeri,” imbuhnya.

Keunggulan listrik juga terletak pada fleksibilitas sumber energi, mulai dari batu bara, gas, air, hingga panas bumi.

Baca juga: Strategi Kurangi Impor Energi: Kendaraan dan Kompor Listrik

Selain itu, kendaraan listrik dinilai berperan penting menekan konsumsi BBM nasional yang mencapai sekitar 532 juta barrel per tahun, dengan sektor transportasi menyumbang sekitar 52 persen.

“Kendaraan listrik dapat membantu mengurangi ketergantungan pada BBM impor. Dalam jangka panjang, ini juga dapat meningkatkan ketahanan energi sekaligus menekan beban subsidi energi,” jelas dia.

Komaidi juga mengapresiasi berbagai insentif pemerintah, mulai dari pembebasan pajak hingga subsidi pembelian.

“Dengan sosialisasi yang lebih masif dan dukungan kebijakan yang konsisten, kompor listrik dan kendaraan listrik berpotensi menjadi bagian penting dalam strategi memperkuat ketahanan energi nasional,” tutupnya.

Sementara itu, Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menyebut elektrifikasi juga berdampak signifikan pada pengurangan konsumsi energi impor.

"Penggantian satu juta mobil listrik dapat mengurangi kebutuhan minyak mentah hingga 13,2 juta barrel per tahun,” ujar Fabby.

Ia menambahkan, penggunaan kompor listrik di rumah tangga juga efektif menekan konsumsi LPG.

“Jika rumah tangga mulai menggunakan kompor induksi, penghematan LPG bisa mencapai lebih dari 130 ton per tahun,” tambah Fabby.

Tag:  #elektrifikasi #energi #dinilai #kunci #tekan #subsidi

KOMENTAR