Ilusi Sejahtera di Balik ''Bayar Nanti''
Ilustrasi kredit, kredit perbankan. Bank optimistis kredit dan likuiditas tetap tumbuh hingga akhir tahun.(SHUTTERSTOCK/JUICY FOTO)
07:48
1 April 2026

Ilusi Sejahtera di Balik ''Bayar Nanti''

“Beli sekarang, bayar nanti.” Kalimat ini terdengar seperti solusi. Namun, bagi banyak orang terutama generasi muda, ia perlahan berubah menjadi jebakan.

Dalam beberapa tahun terakhir, layanan Buy Now, Pay Later (BNPL) menjelma menjadi salah satu produk finansial paling populer di Indonesia. Platform seperti Shopee PayLater, Kredivo, dan Akulaku menawarkan kemudahan yang belum pernah ada sebelumnya: akses kredit instan tanpa proses rumit, tanpa kartu kredit, bahkan tanpa interaksi manusia. Cukup beberapa klik, transaksi selesai.

Di permukaan, ini adalah simbol kemajuan. Inklusi keuangan meningkat, akses masyarakat terhadap pembiayaan semakin luas, dan konsumsi domestik terdorong. Namun, di balik euforia tersebut, kita perlu bertanya lebih dalam: apakah BNPL benar-benar meningkatkan kesejahteraan finansial masyarakat, atau sekadar menciptakan ilusi kesejahteraan?

Data menunjukkan, tren ini bukan fenomena kecil. Laporan Otoritas Jasa Keuangan mencatat pertumbuhan signifikan pada pembiayaan berbasis paylater dalam beberapa tahun terakhir, dengan dominasi pengguna dari kelompok usia muda. Sementara itu, Bank Indonesia juga menyoroti pesatnya perkembangan ekonomi digital yang turut mendorong penggunaan layanan kredit instan.

Lebih Menghargai Kepuasan Saat Ini

Namun, angka pertumbuhan tidak selalu identik dengan kualitas kesejahteraan. BNPL pada dasarnya mengubah cara kita memaknai “mampu membeli”. Jika sebelumnya kemampuan membeli ditentukan oleh ketersediaan dana saat ini, kini batas tersebut menjadi kabur. Seseorang dapat membeli barang bukan karena memiliki uang, tetapi karena memiliki akses ke utang.

Inilah yang dalam perspektif perilaku keuangan disebut sebagai present bias, kecenderungan manusia untuk lebih menghargai kepuasan saat ini dibanding konsekuensi di masa depan. BNPL memanfaatkan bias ini secara sistematis. Dengan cicilan kecil, tanpa bunga di awal, dan proses yang instan, beban utang terasa ringan, bahkan nyaris tidak terasa.

Baca juga: Anak Muda dan Utang Digital: Ancaman Buy Now Pay Later

Lebih jauh, BNPL juga bermain dalam wilayah psikologis yang disebut mental accounting. Pengguna tidak merasakan total beban finansial secara utuh karena pembayaran dilakukan secara bertahap dan terpisah-pisah. Utang menjadi “tidak terlihat”. Yang terlihat hanyalah cicilan kecil yang tampak terjangkau.

Masalahnya, akumulasi dari cicilan kecil inilah yang sering kali menjadi bom waktu. Bagi generasi muda terutama mahasiswa risiko ini menjadi lebih serius. Mereka berada pada fase awal kemandirian finansial, namun belum sepenuhnya memiliki literasi keuangan yang memadai. Ketika akses terhadap kredit begitu mudah dan kontrol diri belum terbentuk kuat, maka konsumsi impulsif menjadi hampir tak terhindarkan.

Fenomena ini mengarah pada kondisi yang paradoksal. Di satu sisi, individu merasa lebih sejahtera karena dapat memenuhi berbagai keinginan konsumsi. Di sisi lain, secara objektif kondisi keuangan mereka justru semakin rentan. Kesejahteraan yang dirasakan (perceived financial well-being) meningkat, tetapi kesejahteraan yang sesungguhnya bisa saja menurun.

Di sinilah BNPL menciptakan ilusi. Tentu, tidak adil jika seluruh kesalahan dibebankan pada industri fintech. Inovasi teknologi finansial pada dasarnya membawa manfaat besar, terutama dalam meningkatkan inklusi keuangan. Bagi sebagian masyarakat, BNPL bahkan dapat menjadi alat yang membantu mengelola arus kas jangka pendek.

Namun, persoalannya terletak pada absennya keseimbangan antara kemudahan akses dan kesiapan pengguna. Regulasi yang ada saat ini masih cenderung berfokus pada aspek industri, seperti perlindungan data dan stabilitas sistem.

Sementara itu, aspek perilaku pengguna yang justru menjadi inti dari persoalan belum mendapat perhatian yang memadai. Literasi keuangan sering kali hanya menjadi slogan, bukan gerakan yang sistematis dan berkelanjutan.

Padahal, tanpa literasi yang kuat, inklusi keuangan dapat berubah menjadi inklusi risiko. Oleh karena itu, ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian bersama.

Pertama, penguatan literasi keuangan yang kontekstual. Edukasi tidak cukup hanya menjelaskan apa itu bunga atau cicilan, tetapi juga harus menyentuh aspek perilaku: bagaimana mengendalikan impuls, memahami bias kognitif, dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Kedua, desain produk yang lebih bertanggung jawab. Platform BNPL perlu didorong untuk tidak hanya memaksimalkan kemudahan transaksi, tetapi juga memberikan peringatan yang lebih jelas terkait risiko utang. Transparansi total kewajiban harus menjadi standar, bukan pilihan.

Ketiga, peran institusi pendidikan. Kampus tidak lagi cukup hanya mengajarkan teori manajemen keuangan, tetapi juga harus membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis dalam mengelola keuangan pribadi di era digital.

Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa kemudahan bukan selalu berarti kebaikan. Dalam banyak kasus, justru kemudahanlah yang mengaburkan batas antara kebutuhan dan keinginan.

Baca juga: Layanan Buy Now Pay Later Dinilai Berisiko bagi Konsumen, Ini Sebabnya

Kesejahteraan finansial sejatinya bukan diukur dari seberapa banyak barang yang dapat dimiliki hari ini, melainkan dari kemampuan seseorang untuk mengelola sumber daya secara bijak dan berkelanjutan.

Jika tidak diantisipasi dengan serius, BNPL berpotensi melahirkan generasi yang tampak sejahtera di permukaan, namun rapuh secara finansial di dalam. Kemudian ketika itu terjadi, “bayar nanti” bukan lagi sekadar metode pembayaran, melainkan masalah yang kita tunda bersama.

Tag:  #ilusi #sejahtera #balik #bayar #nanti

KOMENTAR