Harga Emas Dunia Rebound ke 4.500 Dollar AS, Dipicu Aksi Borong
– Harga emas dunia berbalik menguat dan berpeluang mencatat kenaikan mingguan pertama sejak pecahnya konflik Amerika Serikat (AS)–Israel dengan Iran.
Penguatan ini terjadi di tengah aksi beli saat harga murah (bargain buying) setelah logam mulia tersebut sempat tertekan dalam beberapa pekan terakhir.
Pada perdagangan Jumat (27/3/2026) waktu setempat, harga emas sempat melonjak hingga 4,1 persen dan menembus level 4.550 dollar AS per ons. Kenaikan ini sekaligus memangkas penurunan pada sesi sebelumnya.
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 28 Maret 2026, Cek Rinciannya
Tertekan Lonjakan Minyak dan Ekspektasi Suku Bunga
Sebelumnya, harga emas mengalami tekanan signifikan seiring lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik.
Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan menaikkan suku bunga guna meredam inflasi.
Kenaikan suku bunga menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), sehingga kurang menarik dibandingkan instrumen berbunga.
Sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026, harga emas tercatat telah turun hampir 15 persen. Pergerakannya juga cenderung searah dengan saham, serta berbanding terbalik dengan harga minyak.
Analis TD Securities menilai emas saat ini lebih diperdagangkan layaknya aset berisiko (risk asset).
Baca juga: Rincian Harga Emas Antam di Pegadaian 28 Maret 2026, Buyback Turun
Eskalasi Konflik Masih Membayangi
Meski harga mulai pulih, tekanan terhadap emas belum sepenuhnya mereda. Ketidakpastian terkait peluang gencatan senjata masih tinggi seiring eskalasi konflik yang berlanjut.
Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menyerang fasilitas nuklir dan baja Iran. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan di kawasan Teluk Persia.
Situasi ini menekan pasar keuangan global sekaligus mendorong harga minyak lebih tinggi.
Eskalasi tersebut terjadi setelah mantan Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari. Pernyataan ini sempat memberikan ruang pemulihan bagi harga emas.
Baca juga: Emas Anjlok, Bitcoin Ungguli 20 Persen, Tanda Rotasi Besar Aset Global?
Aksi Bank Sentral Tambah Tekanan
Tekanan tambahan datang dari langkah bank sentral Turki yang menjual dan melakukan swap sekitar 60 ton emas dalam dua pekan, dengan nilai lebih dari 8 miliar dollar AS.
Padahal, dalam beberapa tahun terakhir, pembelian emas oleh bank sentral menjadi salah satu penopang utama reli harga logam mulia tersebut.
Jika langkah serupa diikuti oleh bank sentral lain, laju pembelian emas global berpotensi melambat. Hal ini sekaligus memunculkan keraguan terhadap asumsi bahwa bank sentral cenderung enggan melepas cadangan emasnya.
Senior Commodity Strategist TD Securities, Daniel Ghali, menyebut konflik ini berpotensi menimbulkan dampak ekonomi signifikan bagi negara-negara Timur Tengah yang selama ini aktif membeli emas.
Menurut dia, guncangan ekonomi akibat perang dapat menekan permintaan emas dari sejumlah bank sentral. Bahkan, sebagian negara kemungkinan harus menjual cadangan emas untuk memenuhi kewajiban dalam denominasi dollar AS.
Baca juga: Emas Bukan Cuma Antam, Ini 6 Jenis Emas Batangan di Indonesia
Selat Hormuz Masih Tertutup
Di sisi lain, Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia, masih sebagian besar tertutup seiring konflik yang mendekati satu bulan.
Penutupan jalur ini turut memperbesar ketidakpastian di pasar global, terutama terkait pasokan energi dan distribusi komoditas.
Pada penutupan perdagangan, harga emas di pasar spot tercatat naik 3,2 persen ke level 4.515,26 dollar AS per ons.
Sementara itu, harga perak menguat 2,7 persen mendekati 70 dollar AS per ons. Platinum dan palladium juga mencatat kenaikan, sedangkan indeks dollar AS menguat tipis 0,2 persen.
Tag: #harga #emas #dunia #rebound #4500 #dollar #dipicu #aksi #borong