Tarif Trump 15 Persen Bikin IHSG Rawan Koreksi, Sektor Apa Paling Terdampak?
Ilustrasi saham. FTSE Russell menunda peninjauan indeks saham Indonesia periode Maret 2026 di tengah proses reformasi pasar modal. ()
12:44
27 Februari 2026

Tarif Trump 15 Persen Bikin IHSG Rawan Koreksi, Sektor Apa Paling Terdampak?

– Rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menaikkan tarif impor menjadi 15 persen dinilai berpotensi memberi tekanan terhadap pasar saham domestik.

Kebijakan tersebut diperkirakan memicu sentimen risk-off global, yakni kondisi ketika investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko. Dalam situasi ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi terkoreksi, terutama pada sektor yang sensitif terhadap perdagangan internasional dan pergerakan nilai tukar.

Kebijakan proteksionis dinilai dapat meningkatkan ketidakpastian global. Pasar keuangan umumnya merespons isu perang dagang secara cepat karena berdampak pada arus perdagangan, pertumbuhan ekonomi, serta proyeksi laba korporasi.

Dalam skenario risk-off, dana asing cenderung keluar dari emerging market seperti Indonesia dan beralih ke aset safe haven, seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS.

Baca juga: Tarif Trump 15 Persen Jadi Ancaman IHSG, Risiko Koreksi hingga 7 Persen Intai Pasar

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan sektor yang paling rentan dalam kondisi perlambatan global adalah manufaktur berbasis ekspor dan komoditas industri seperti nikel.

“Sektor yang paling rentan adalah manufaktur berbasis ekspor dan komoditas industri seperti nikel, karena sangat sensitif terhadap perlambatan permintaan global. Jika ekonomi Tiongkok dan AS melambat, harga komoditas bisa terkoreksi,” ujar Hendra saat dihubungi Kompas.com, Jumat (27/2/2026).

Menurut dia, batu bara juga berpotensi tertekan apabila proyeksi konsumsi energi industri melemah, terutama jika perlambatan ekonomi berlangsung luas.

“Batu bara juga berpotensi tertekan jika proyeksi konsumsi energi industri melemah,” paparnya.

Ia menambahkan, prospek saham batu bara dan nikel akan sangat bergantung pada kedalaman perlambatan global. Jika kenaikan tarif hanya memicu gejolak jangka pendek, koreksi harga komoditas diperkirakan terbatas. Namun jika terjadi kontraksi perdagangan global yang lebih luas, tekanan bisa berlanjut.

Baca juga: IHSG Hari Ini Berpotensi Menguat di Area 8.650

Di sisi lain, sektor perbankan kerap mengalami tekanan jual asing karena bobotnya besar dalam IHSG dan likuiditasnya tinggi. Saham bank sering menjadi sumber dana saat investor global melakukan rebalancing portofolio.

Meski demikian, secara fundamental perbankan dinilai relatif lebih tangguh dibanding sektor berbasis ekspor karena didukung struktur permodalan yang kuat dan pasar domestik yang dominan.

“Perbankan memang bisa terkena sentimen jual asing karena bobotnya besar di IHSG dan likuiditasnya tinggi, sehingga sering menjadi sumber dana saat investor global melakukan rebalancing. Namun secara fundamental, bank besar relatif lebih tahan karena struktur permodalan kuat dan pasar domestik masih dominan,” beber Hendra.

Baca juga: Wall Street Ditutup Melemah, Saham Teknologi Dihantam Tekanan

Senada, pengamat pasar modal Reydi Octa menilai manufaktur berbasis ekspor menjadi sektor paling rentan saat terjadi perlambatan global karena langsung terdampak penurunan permintaan luar negeri.

“Manufaktur berbasis ekspor paling rentan karena langsung terdampak pelemahan demand global. Komoditas seperti nikel juga sensitif karena sangat tergantung China. Perbankan relatif defensif, tapi tetap bisa terkoreksi karena jadi perlambatan ekonomi,” ucap Reydi kepada Kompas.com.

Ia juga menyoroti risiko nilai tukar. Emiten dengan eksposur utang dalam dollar AS dan pendapatan berbasis rupiah berpotensi menghadapi tekanan lebih besar ketika rupiah melemah.

“Emiten dengan eksposur dollar besar dan pendapatan rupiah akan paling tertekan, terutama sektor properti, infrastruktur, atau manufaktur. Beban bunga naik dan selisih kurs bisa menggerus laba,” katanya.

Secara historis, lanjut Reydi, saham bank besar kerap menjadi sumber likuiditas saat investor asing keluar dari pasar. Namun, saham yang sama biasanya menjadi yang paling cepat pulih ketika sentimen kembali positif.

“Bank besar likuid dan bobotnya besar di indeks, jadi sumber likuiditas saat asing keluar. Tapi justru biasanya itu juga yang paling cepat rebound ketika sentimen membaik,” pungkas Reydi.

Tag:  #tarif #trump #persen #bikin #ihsg #rawan #koreksi #sektor #paling #terdampak

KOMENTAR