Kisah Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Belajar Dengarkan Sinyal Tubuh Setelah Hadapi Penyakit Serius
Penyiar radio sekaligus Head of Communication Yayasan Jantung Indonesia, Iwet Ramadhan, dalam acara peluncuran tensimeter Omron SF Series di Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).(Kompas.com / Nabilla Ramadhian)
11:05
21 Mei 2026

Kisah Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Belajar Dengarkan Sinyal Tubuh Setelah Hadapi Penyakit Serius

- Menjaga pola makan bergizi dan rutin berolahraga sering dianggap sebagai cara untuk terhindar dari berbagai masalah kesehatan.

Banyak orang merasa tenang dan aman ketika sudah menerapkan kedisiplinan tersebut dalam rutinitas kesehariannya selama bertahun-tahun.

Namun, kondisi fisik yang tampak prima dari luar ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kesehatan organ dalam.

Baca juga: Pascaoperasi Bypass Jantung, Dave Hendrik Jaga Asupan Makan dan Rajin Olahraga

Tuntutan pekerjaan yang memicu stres, kurangnya waktu istirahat, hingga faktor genetik bawaan tetap memiliki peran besar dalam memicu masalah kardiovaskular, seperti yang dialami oleh penyiar radio Iwet Ramadhan dan presenter Dave Hendrik.

"Sesehat-sehatnya apa pun elo, eventually elo akan punya risiko untuk sakit parah. That's for sure," ungkap Dave saat membagikan pengalamannya dalam acara peluncuran tensimeter Omron SF Series di Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).

Ancaman penyakit kardiovaskular di balik fisik yang bugar

Stres pekerjaan dan bawaan genetik

Iwet dikenal sebagai figur yang rajin mengikuti lari maraton kelas dunia seperti di Berlin dan New York. Latihan fisiknya yang intens, ia merasa memiliki daya tahan tubuh yang sangat tangguh.

Sayangnya, tumpukan stres pekerjaan dan waktu tidur yang tidak teratur membuat tekanan darahnya melonjak hingga memicu stroke (subarachnoid hemorrhage).

"Stres itu tuh benar-benar membuat semua tuh hancur. Jadi pembuluh darahnya berantakan, aku enggak pernah cek, dan kejadian (stroke)," ucap Iwet yang juga menjabat sebagai Head of Communication Yayasan Jantung Indonesia.

Di sisi lain, Dave telah menerapkan diet ketat demi menjaga kebugaran tubuhnya secara konsisten sejak usia 24 tahun.

Namun, ia tetap harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami penyumbatan di tujuh titik pembuluh darah jantungnya.

"Orangtua saya tidak hanya mewariskan saya bakat bicara, tapi juga mewariskan bawaan kondisi badan yang emang dari default pabriknya udah begitu," kata Dave.

Dengan kata lain, faktor genetik membuatnya sulit menoleransi kadar kolesterol di dalam tubuh.

Presenter Dave Hendrik dalam acara peluncuran tensimeter Omron SF Series di Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Presenter Dave Hendrik dalam acara peluncuran tensimeter Omron SF Series di Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).

Sinyal peringatan tubuh yang sering diabaikan

Sebelum terjadi serangan fatal, tubuh sebenarnya sudah mengirimkan peringatan melalui rasa sakit yang kerap disepelekan.

Iwet sempat mengalami pecah pembuluh darah di bagian mata secara berulang saat sedang bekerja, tetapi ia hanya menganggapnya sebagai kelelahan biasa.

"Gejala yang aku alami itu, constantly nonstop aku sakit kepala dari Januari sampai ke Februari 2023. Dan aku diemin karena aku pikir, 'Ya elah sakit kepala aja'," ujar Iwet yang kala itu hanya mengandalkan obat pereda nyeri.

Sementara itu, Dave mulai merasakan kejanggalan ketika dadanya mendadak terasa sesak setelah selesai bekerja pada sore hari pada April 2023.

Baca juga: Cerita Iwet Ramadhan, dari Benci Olahraga hingga Kecanduan Lari

Karena merasa dirinya sangat sehat, ia tidak langsung menyadari bahwa hal tersebut merupakan gejala kelainan jantung akut.

"Rasanya tuh kayak ada lempengan besi menimpa dada. Ada rasa panasnya, dan itu constant," tutur Dave.

Belajar dari pengalaman tersebut, ia menyadari pentingnya tidak mengabaikan keluhan fisik sekecil apa pun.

"Buat aku, the most honest person on this planet is actually our body. When it gives you signal, itu bahasa dia mencari perhatian," tambah Dave.

Penyesuaian gaya hidup pasca-pemulihan

Meski sempat terbaring di ruang operasi, fondasi kesehatan yang telah dibangun di masa lalu nyatanya membantu proses pemulihan mereka berjalan jauh lebih cepat dari perkiraan medis.

Baik Iwet maupun Dave tetap melanjutkan rutinitas olahraga, tetapi dengan batasan yang lebih aman.

"Proses recovery itu yang terbayar tunai dengan apa yang kita lakukan, pilihan gaya hidup sehat dan berolahraga. Kalau elo sakit pasti akan jauh lebih cepat (terjadi stroke atau serangan jantung)," jelas Dave.

Selain itu, Dave juga kini semakin lebih disiplin dalam menjaga asupan bergizi dan membiasakan diri tidur antara pukul 21.00-22.00.

Untuk Iwet, gaya hidupnya tidak jauh berbeda dengan Dave. Keduanya juga sama-sama menjadi lebih rutin untuk mengukur tekanan darah menggunakan tensimeter setiap pagi.

Namun khusus Iwet,  kini dirinya juga lebih memprioritaskan ketenangan pikiran dan mulai belajar mengelola emosi.

"Ketika ada sesuatu yang terjadi, dan tidak sesuai dengan keinginan, aku berusaha untuk kayak, 'Oke, ini bisa diatasi atau tidak?'. Kalau misalnya jawabannya tidak bisa diatasi, let it go," pungkas dia.

Baca juga: Menjalankan Gaya Hidup Sehat yang Hemat tapi Nikmat, Mungkinkah?

Tag:  #kisah #iwet #ramadhan #dave #hendrik #belajar #dengarkan #sinyal #tubuh #setelah #hadapi #penyakit #serius

KOMENTAR