Mandiri Sekuritas Optimis: Pipeline IPO 2026 Lebih Gemuk
PT Mandiri Sekuritas Indonesia memastikan masih membawahi sejumlah perusahaan untuk mencatatkan saham perdana (initial public offering/IPO) pada 2026.
Bahkan, jumlahnya lebih “gemuk” dibandingkan tahun lalu.
Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, mengatakan jumlah calon emiten yang masuk dalam pipeline IPO tahun ini tercatat lebih banyak dibandingkan tahun lalu.
Baca juga: 8 Perusahaan Antre IPO, IHSG Bisa Tembus 10.000?
Ilustrasi saham. Membangun kekayaan dari pasar saham bukan soal keberuntungan. Investor sukses memiliki tujuh kebiasaan yang mereka lakukan secara konsisten dan terbukti menghasilkan dalam jangka panjang.
Bahkan, saat pasar modal mendapat sentimen negatif dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Moody’s tak satu pun perusahaan menunda ataupun membatalkan rencana penawaran umum perdana sahamnya.
“Mengenai IPO tahun ini, sebenarnya tahun ini di pipeline kita untuk IPO tahun ini sebenarnya lebih banyak daripada tahun lalu,” ujar Oki di sela-sela buka puasa bersama awak media, Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).
“Jadi event setelah kondisi MSCI, kondisi Moody's, gak ada satu pun dari calon emiten yang kita kerjakan itu yang hold atau even mundur gitu ya,” paparnya.
Justru momentum reformasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tengah digenjot Self-Regulatory Organization (SRO) diyakini bisa memperkuat struktur pasar modal domestik.
Baca juga: BEI Revisi Aturan IPO, Akankah Pencatatan Saham Melambat pada 2026?
Peningkatan kualitas regulasi dan dorongan terhadap likuiditas dinilai membuat pasar menjadi lebih dalam dan atraktif bagi investor.
Dengan kondisi tersebut, Mandiri Sekuritas optimistis minat terhadap IPO tetap terjaga, bahkan berpotensi meningkat seiring ekspektasi pasar yang semakin konstruktif.
“Jadi karena kita yakin reformasi ini justru akan membuat market kita jauh lebih liquid,” beber Oki.
Lebih jauh, ia menjelaskan peningkatan ketentuan porsi kepemilikan saham publik (free float) minimal 15 persen justru akan memperkuat likuiditas pasar.
Ilustrasi saham, pergerakan saham.
Baca juga: Airlangga Ungkap Demutualiasi BEI Gunakan Private Placement atau IPO
Jika sebelumnya saham dengan porsi publik kecil masih bisa tergolong likuid, ke depan standar tersebut menjadi lebih ketat sehingga saham yang melantai benar-benar memiliki peredaran yang memadai di pasar.
“Bayangin aja kalau misalnya yang tadinya itu liquid itu yang kecil, itu kita sekarang harus 15 persen (free float) dan itu harus liquid gitu ya. Jadi itu full portfolio investor itu yang bener-bener akan invest di capital market kita,” katanya.
Dengan komposisi seperti itu, portofolio investor, terutama institusi, akan lebih optimal ditempatkan di pasar modal domestik karena saham yang tersedia cukup besar dan aktif diperdagangkan.
Menurutnya, dalam praktik pasar, semakin besar ukuran emisi dan kapitalisasi, semakin besar pula peluang masuknya investor institusi.
Baca juga: Aturan Baru OJK: Free Float 15 Persen, IPO Makin Likuid tapi Volatilitas Lebih Tinggi
Institusi cenderung tertarik pada saham dengan kedalaman pasar yang memadai agar dapat menyerap dana dalam jumlah besar tanpa mengganggu harga secara signifikan.
“Jadi kalau mindset-nya itu semakin banyak, semakin besar, itu semakin banyak institusi yang akan masuk, kita akan liquid. Jadi kalau semakin besar, yang institusi akan jauh lebih interested untuk masuk. Jadi kebalikan kalau ditanya, oh ini issuance-nya besar sekali gitu ya,” lanjut Oki.
Ia mengakui terdapat ambang tertentu apabila nilai emisi sangat jumbo sehingga membutuhkan kapasitas pasar yang lebih luas.
Namun untuk kisaran IPO Rp 1 triliun hingga Rp 5 triliun, kondisi pasar saat ini dinilai masih sangat mampu menyerap.
Baca juga: Aturan Free Float 15 Persen Berlaku untuk IPO Baru, Emiten Lama Diberi Masa Transisi
“Memang ada beberapa sort of threshold (ambang batas) gitu ya, kalau misalkan besar bener-bener, super besar banget, memang agak susah. Tapi kalau kita bicarakan mengenai IPO ini sekarang, ya Rp 1 triliun, Rp 2 triliun, Rp 3 triliun, even up to Rp 5 triliun, itu sih sangat doable (memungkinkan). Dalam arti kalau kecil malah susah IPO ini,” ungkap Oki.
Tag: #mandiri #sekuritas #optimis #pipeline #2026 #lebih #gemuk