Cetak Rekor Laba, Etihad Target Rekrut 3.000 Karyawan per Tahun
— Maskapai Etihad Airways mencatatkan kinerja keuangan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan pada 2025.
Maskapai penerbangan nasional Uni Emirat Arab (UEA) itu membukukan laba setelah pajak sebesar 2,6 miliar dirham, setara sekitar Rp 11,91 triliun (asumsi kurs Rp 4.581 per dirham), atau 698 juta dollar AS.
Dalam keterangan resmi perusahaan, dikutip pada Rabu (25/2/2026), capaian ini disebut sebagai dengan pertumbuhan laba sebesar 47 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga: INACA Sebut Industri Penerbangan Bakal Terimbas Efek Domino Tarif Trump
Pesawat Boeing 777 yang dioperasikan maskapai penerbangan Etihad Airways.
Selain laba, maskapai juga melaporkan pertumbuhan operasional yang signifikan. Jumlah penumpang mencapai 22,4 juta orang sepanjang 2025, dengan tingkat keterisian kursi (load factor) sebesar 88,3 persen.
Armada Etihad bertambah menjadi 127 pesawat, menandai ekspansi terbesar dalam sejarah perusahaan.
Di tengah ekspansi tersebut, strategi penguatan sumber daya manusia menjadi bagian penting dari pertumbuhan perusahaan.
Rekrut lebih dari 3.200 karyawan baru
Sepanjang 2025, Etihad merekrut lebih dari 3.200 karyawan baru dan memberikan sekitar 2.200 promosi internal.
Baca juga: Industri Penerbangan Global Diprediksi Positif di Tengah Perang Dagang
Rinciannya meliputi:
- Sekitar 1.600 awak kabin baru
- Hampir 400 pilot baru
- Lebih dari 1.500 promosi untuk awak kabin
- Sekitar 150 promosi untuk pilot
Perusahaan menyatakan tenaga kerjanya kini berasal dari 152 kewarganegaraan berbeda, mencerminkan karakter global operasional maskapai.
Ilustrasi pesawat Etihad Airways.
CEO Etihad, Antonoaldo Neves, menegaskan ekspansi armada dan jaringan akan terus diiringi perekrutan dalam beberapa tahun ke depan.
Etihad menargetkan perekrutan 2.500 hingga 3.000 orang per tahun, sejalan dengan penambahan sekitar 20 pesawat per tahun dalam lima tahun mendatang.
Baca juga: Pentingnya Perencanaan Jangka Panjang Industri Penerbangan Nasional
“Kami akan mempertahankan kisaran tersebut, yaitu 2.500 hingga 3.000 perekrutan per tahun, dan kami akan mempertahankan sekitar 20 pesawat per tahun, jadi kurang lebih itulah rasio yang akan kami terapkan selama lima tahun ke depan,” ujar Neves, dikutip dari Gulf News.
Pengembangan talenta dan program lokal
Selain perekrutan eksternal, Etihad juga menekankan pengembangan talenta internal.
Program cadet pilot serta penguatan jalur kepemimpinan bagi warga negara Uni Emirat Arab menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.
Dalam pernyataan resminya, perusahaan menyatakan komitmen untuk mengembangkan talenta nasional melalui berbagai program pelatihan dan akselerasi karier.
Baca juga: Pemerintah Proyeksikan Industri Penerbangan Full Pakai Bioavtur pada 2060
Langkah ini dilakukan di tengah kebutuhan industri yang semakin besar terhadap tenaga kerja terampil.
Kebutuhan tenaga kerja industri penerbangan global terus meningkat
Data industri menunjukkan, tren perekrutan Etihad terjadi dalam konteks kebutuhan tenaga kerja global yang meningkat tajam.
Menurut laporan Pilot and Technician Outlook dari Boeing, industri penerbangan global diperkirakan membutuhkan dalam 20 tahun ke depan, dengan rincian sebagai berikut.
- 660.000 pilot baru
- 710.000 teknisi perawatan pesawat
- 1 juta awak kabin
Ilustrasi pilot di kokpit pesawat.
Proyeksi tersebut mencerminkan kebutuhan akibat pertumbuhan armada global dan peningkatan perjalanan udara internasional.
Baca juga: Pertamina Perluas Penjualan Produk Bioavtur di Industri Penerbangan Nasional
Sementara itu, laporan Aviation Talent Forecast dari CAE memperkirakan dalam 10 sampai 15 tahun ke depan, lebih dari 129.000 pilot dibutuhkan hanya untuk menggantikan pilot yang pensiun, belum termasuk kebutuhan akibat ekspansi armada.
Beberapa proyeksi industri juga memperkirakan adanya kekurangan puluhan ribu pilot secara global pada pertengahan dekade ini.
Dampak struktural pasca-pandemi Covid-19
Industri penerbangan sempat mengalami kontraksi tajam saat pandemi Covid-19, ketika volume penerbangan turun drastis dan banyak maskapai melakukan pengurangan tenaga kerja.
Sejumlah laporan menunjukkan, pada puncak pandemi, lalu lintas udara global sempat anjlok lebih dari 90 persen di sejumlah kawasan, memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pensiun dini bagi ribuan pilot serta awak kabin.
Baca juga: INACA Sebut Monopoli Masih Terjadi di Industri Penerbangan Indonesia
Pemulihan yang terjadi sejak 2022–2023 menyebabkan permintaan perjalanan melonjak lebih cepat dibandingkan kesiapan tenaga kerja yang tersedia, sehingga menciptakan tekanan baru dalam perekrutan dan pelatihan.
Tantangan pasokan tenaga terampil
Selain pilot dan awak kabin, industri penerbangan juga menghadapi tantangan dalam ketersediaan teknisi perawatan pesawat dan tenaga operasional lainnya.
Laporan risiko industri dari Allianz Commercial menempatkan kekurangan tenaga kerja terampil sebagai salah satu risiko utama sektor penerbangan pada 2025, karena dapat berdampak pada biaya operasional dan kapasitas layanan.
Industri juga bersaing dengan sektor lain dalam menarik talenta teknis, terutama di bidang teknologi dan rekayasa.
Ilustrasi pesawat.
Baca juga: Industri Penerbangan Terdampak Pelemahan Rupiah, INACA Minta Ada Relaksasi
Penerbangan dan kontribusi lapangan kerja global
Menurut Asosiasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), sektor penerbangan tidak hanya menciptakan pekerjaan langsung seperti pilot dan awak kabin, tetapi juga lapangan kerja tidak langsung melalui rantai pasok, logistik, pariwisata, dan manufaktur pesawat.
ICAO mencatat, penerbangan merupakan salah satu sektor strategis yang mendorong konektivitas global dan aktivitas ekonomi lintas negara.
Dalam konteks ini, ekspansi tenaga kerja Etihad mencerminkan dinamika yang lebih luas di industri penerbangan internasional, di mana pertumbuhan armada dan rute penerbangan berjalan beriringan dengan peningkatan kebutuhan sumber daya manusia.
Tag: #cetak #rekor #laba #etihad #target #rekrut #3000 #karyawan #tahun