LinkedIn: AI Ciptakan 1,3 Juta Pekerjaan Baru di Dunia
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak sekadar menghapus pekerjaan, tetapi juga menciptakan peluang yang belum pernah ada sebelumnya.
Ini menjadi temuan kunci dari data LinkedIn yang disorot oleh Forum Ekonomi Dunia (WEF).
Dalam lanskap global yang masih melemah akibat perlambatan perekrutan, AI ternyata telah menjadi pendorong pertumbuhan lapangan kerja baru di beberapa sektor ekonomi utama.
Baca juga: Berkat Optimisme AI, Ringgit Malaysia Diproyeksi Terus Menguat di 2026
Ilustrasi kecerdasan buatan (AI).
Data yang dipublikasikan pada pertengahan Januari 2026 ini menunjukkan, sekitar 1,3 juta pekerjaan baru yang berkaitan langsung dengan AI telah muncul secara global dalam dua tahun terakhir.
Kondisi ini menunjukkan arah baru dalam perkembangan tenaga kerja di era digital.
Angka ini muncul di tengah kondisi pasar tenaga kerja yang secara keseluruhan mengalami pelambatan perekrutan hingga sekitar 20 persen di bawah tingkat sebelum pandemi Covid-19.
Perlambatan perekrutan vs pertumbuhan pekerjaan AI
Menurut laporan global LinkedIn bertajuk Building a Future of Work That Works, perekrutan secara umum masih berada di bawah level pra-pandemi, dengan ketidakpastian ekonomi dan kebijakan moneter sebagai faktor utama yang menekan aktivitas perekrutan.
Baca juga: BCA Jadi Bank Pertama di Asia Tenggara yang Dapat Sertifikasi Manajemen AI
Namun, data tersebut juga menunjukkan bahwa AI bukan penyebab penurunan perekrutan, melainkan katalisator baru untuk penciptaan lapangan kerja khusus yang berbasis teknologi.
"AI sebenarnya menambah pekerjaan di pasar tenaga kerja global. Data kami menunjukkan lebih dari 1,3 juta peran baru, termasuk peran seperti AI Engineer, Forward-Deployed Engineer, dan Data Annotators, sebuah pertumbuhan yang signifikan dalam permintaan tenaga kerja berbasis keterampilan AI," kata Dan Shapero, Chief Operating Officer LinkedIn, dikutip dari laman resmi WEF.
Meski demikian, statistik tersebut muncul dalam konteks gigitan yang tajam terhadap perekrutan umum.
Ilustrasi kecerdasan buatan di era digital.
Saat ini, lebih dari 50 persen pekerja global melaporkan mereka sedang mencari pekerjaan baru pada tahun 2026, sementara hampir 80 persen merasa belum siap untuk mendapatkan pekerjaan baru mereka sendiri di tengah transformasi ini.
Baca juga: Saat AI Melaju, Sekolah Jadi Titik Awal Pembelajaran
Profil pekerjaan baru di era AI
Permintaan pekerjaan baru bukan sekadar angka statistik. Data LinkedIn mengidentifikasi jenis-jenis pekerjaan yang tumbuh signifikan seiring dengan adopsi AI di berbagai industri.
Di antara pekerjaan-pekerjaan baru tersebut antara lain sebagai berikut.
1. AI Engineer
Ini adalah salah satu pekerjaan yang tumbuh paling cepat dalam beberapa tahun terakhir, mencerminkan permintaan terhadap tenaga ahli yang bisa mengembangkan dan mengimplementasikan teknologi AI.
2. Forward-Deployed Engineer
Forward-Deployed Engineer adalah profesional yang menerapkan solusi teknologi secara langsung di tempat klien atau lapangan.
Baca juga: Singapura Siapkan Insentif AI dalam APBN 2026, Bidik Produktivitas Bisnis
3. Data Annotators
Ini adalah tenaga kerja yang menopang kualitas data untuk machine learning AI.
Kehadiran pekerjaan ini mencerminkan gelombang baru yang sering disebut sebagai era “new-collar work”, di mana keterampilan praktis berbasis teknologi menjadi lebih penting daripada gelar formal atau klasifikasi pekerjaan tradisional sebelumnya.
Perubahan keterampilan dan permintaan pasar
Pertumbuhan peran AI juga mencerminkan perubahan cepat dalam keterampilan yang dibutuhkan oleh pasar kerja.
Ilustrasi kecerdasan buatan (AI). Ledakan kecerdasan buatan (AI) bukan hanya mengubah teknologi, tetapi juga mencetak miliarder baru dalam jumlah dan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di banyak negara, keterampilan literasi AI sudah menjadi standar persyaratan dalam berbagai jenis pekerjaan, termasuk non-teknis sekalipun.
Baca juga: AI Jadi Host Live Shopping E-Commerce: Transformasi atau Krisis Pekerjaan?
Misalnya, di Amerika Serikat (AS) tercatat peningkatan permintaan keterampilan literasi AI hingga 70 persen secara tahunan, menunjukkan betapa cepatnya perubahan kebutuhan tenaga kerja.
Dampak ini tidak hanya terlihat dalam penciptaan peran baru, tetapi juga dalam perilaku pekerja itu sendiri.
Berdasarkan temuan LinkedIn, sebanyak 53 persen pekerja di AS berencana secara proaktif mempelajari keterampilan AI dalam enam bulan ke depan, menunjukkan respons langsung terhadap perubahan kebutuhan pasar.
Selaini itu, sebanyak 48 persen percaya keterampilan AI akan membantu pertumbuhan karier mereka di masa depan.
Baca juga: Raksasa Bir Dunia PHK 6.000 Karyawan, Fokus Produktivitas Berbasis AI
Pergeseran ini menggambarkan bahwa kemampuan untuk menggabungkan keterampilan manusia, seperti kreativitas, empati, dan penilaian, dengan kemampuan teknologi AI kini menjadi kombinasi yang semakin dicari oleh para pemberi kerja.
AI dan dinamika pasar kerja global
Dinamika penciptaan lapangan pekerjaan AI ini juga memiliki variasi geografi yang menarik. Meskipun pasar tenaga kerja secara umum melambat di banyak ekonomi maju, negara-negara seperti India dan Uni Emirat Arab mencatat pertumbuhan perekrutan di atas 30 persen, menunjukkan momentum kuat dalam adopsi teknologi digital dan kesempatan kerja baru.
Menurut laporan LinkedIn, pekerjaan yang terkait dengan AI tidak hanya muncul di sektor teknologi murni, tetapi juga tersebar di seluruh sektor ekonomi.
Ini termasuk peran-peran yang mendukung infrastruktur digital, seperti pekerjaan yang berkaitan dengan data center AI, yang menyumbang lebih dari 600.000 pekerjaan baru di seluruh dunia.
Baca juga: Deloitte: Adopsi AI Meluas, tapi Transformasi Bisnis Masih Terbatas
Peran industri dan strategi perusahaan
Ilustrasi Artificial Intelligence
Perubahan peran pekerjaan ini juga memaksa perusahaan untuk menyesuaikan strategi perekrutan dan pengembangan bakat mereka.
WEF menyatakan, dengan pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif untuk keterampilan AI, perusahaan dituntut mengambil pendekatan baru dalam menemukan dan mengembangkan talenta, termasuk:
- Melebarkan keahlian kandidat yang dicari di luar gelar dan pengalaman tradisional.
- Memanfaatkan alat berbasis AI untuk mempercepat proses perekrutan.
- Meningkatkan strategi upskilling internal untuk membangun kapabilitas AI di dalam perusahaan.
Langkah-langkah ini tidak hanya penting untuk menarik talenta baru, tetapi juga sebagai strategi untuk mempertahankan pekerja di tengah gelombang persaingan global.
Baca juga: AI Picu Gelombang Kecemasan Baru di Dunia Kerja
Dengan demikian, reshaping pasar tenaga kerja bukan hanya sekadar penciptaan peran baru, tetapi juga redefinisi cara organisasi melihat dan mengelola tenaga kerja mereka sendiri.
Meningkatnya kebutuhan upskilling
Di tengah pergeseran permintaan pekerjaan dan keterampilan, upskilling menjadi fokus utama bagi banyak pemimpin perusahaan.
Mengembangkan keterampilan baru, terutama dalam kemampuan AI, dianggap sebagai bentuk investasi strategis untuk mempertahankan produktivitas tenaga kerja di era digital.
"Saat keterampilan berubah dan peran baru terus muncul, upskilling jelas menjadi bagian sentral dari strategi talent kita, agar pekerja dapat bertahan dan berkembang di pasar kerja yang terdisrupsi oleh teknologi ini," terang Shapero.
Baca juga: Saham Microsoft Anjlok, Investor Khawatir Biaya Investasi AI Bengkak
Data ini menggambarkan, sementara banyak pekerja merasa belum siap menghadapi perubahan, perusahaan semakin memandang upskilling sebagai landasan untuk membangun daya saing organisasi dalam jangka panjang.
Tantangan dan peluang ke depan
ilustrasi artificial intelligence (AI). Tiga skill yang wajib dikuasai agar pekerjaan tidak diambil alih AI.
Walaupun angka 1,3 juta pekerjaan baru terasa menggembirakan di tengah perlambatan pasar tenaga kerja global, realitasnya adalah bahwa pertumbuhan pekerjaan tersebut tidak serta-merta merata di seluruh sektor atau populasi pekerja.
Transisi menuju era new-collar work memerlukan waktu, biaya pendidikan ulang, serta kebijakan yang mendukung akses pekerja terhadap keterampilan baru.
Data juga menunjukkan bahwa tingkat persiapan pekerja masih tertinggal, dan ketimpangan keterampilan dapat menjadi hambatan besar dalam memastikan manfaat AI tersebar luas.
Baca juga: Mengapa AI Bikin Perusahaan Teknologi Global Ramai-ramai PHK?
Preventif terhadap meningkatnya kesenjangan akan menjadi perhatian di masa mendatang, baik di tingkat perusahaan maupun dalam kebijakan publik.