Aset Kripto Terseret ke Zona Merah, Bitcoin Ambruk 4 Persen
Ilustrasi bitcoin. (WIKIMEDIA COMMONS/JORGE FRANGANILLO)
08:36
23 Februari 2026

Aset Kripto Terseret ke Zona Merah, Bitcoin Ambruk 4 Persen

Pasar kripto masih dalam tekanan. Harga aset kripto papan atas terseret ke zona merah dalam perdagangan 24 jam terakhir.

Mengutip CoinMarketCap Senin (23/2/2026) pukul 08.00 WIB, harga Bitcoin (BTC) turun 4,01 persen ke level 65.296,31 dollar AS. Dalam sepekan, pelemahan mencapai 5,12 persen,

sementara secara bulanan ambles 26,76 persen. Sepanjang tahun berjalan (year to date), Bitcoin sudah terkoreksi 25,19 persen.

Baca juga: Clarity Act Berpeluang Lolos 90 Persen, Harga Bitcoin Diprediksi Meledak

Kapitalisasi pasar Bitcoin kini berada di kisaran 1,31 triliun dollar AS dengan volume transaksi harian sekitar 18,99 miliar dollar AS. Dominasi pasar masih tinggi di posisi 57,93 persen.

Koreksi tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Ethereum (ETH) turun 4,69 persen ke posisi 1.881,10 dollar AS. XRP melemah 4,90 persen ke level 1,359 dollar AS, sementara BNB terkoreksi 4,92 persen ke 594,21 dollar AS.

Tekanan lebih dalam dialami Solana (SOL) yang merosot 6,59 persen ke harga 79,53 dollar AS. Dogecoin (DOGE) juga terkoreksi 5,48 persen ke 0,09251 dollar AS, disusul Cardano (ADA) yang turun 5,75 persen ke 0,2624 dollar AS.

Sementara itu, stablecoin seperti USDT dan USDC relatif stabil di kisaran 0,999 dollar AS,

Mengutip Bloomberg, Bitcoin menghadapi tekanan terdalam sepanjang sejarahnya, tanpa tanda-tanda pemulihan yang jelas.

Baca juga: Bitcoin Turun ke 66.450 dollar AS, Jadi Sinyal Fase Konsolidasi?

Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia itu telah merosot lebih dari 40 persen dari posisi puncaknya. Pola klasik yang selama ini menjadi “penyelamat” pasar, yakni aksi beli saat harga turun (buy on dip), tidak lagi efektif. Minat pembeli melemah, sementara faktor-faktor yang biasanya mendorong pemulihan justru berbalik arah menjadi beban.

Dalam lanskap makro, emas dinilai lebih unggul sebagai aset lindung nilai. Untuk kebutuhan pembayaran, stablecoin dianggap lebih efisien dan stabil. Sementara untuk spekulasi, perhatian investor mulai bergeser ke pasar prediksi dan instrumen lain di luar kripto.

Tekanan ini bukan terjadi karena kurangnya dukungan kebijakan. Pemerintah Amerika Serikat dinilai semakin akomodatif terhadap industri kripto. Adopsi institusional juga semakin dalam, dengan partisipasi Wall Street yang kian luas.

Bitcoin seolah telah memperoleh legitimasi yang selama ini diperjuangkan, namun hal itu belum cukup untuk menopang harga.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar tentang peran Bitcoin ke depan. Jika bukan sebagai lindung nilai utama, bukan pula sarana pembayaran paling efisien, dan bukan instrumen spekulasi paling menarik, maka apa sebenarnya fungsi utama Bitcoin?

Owen Lamont, manajer portofolio di Acadian Asset Management, menilai narasi utama Bitcoin selama ini bertumpu pada kenaikan harga.

“Kisah utama Bitcoin selama ini adalah harganya terus naik dan sekarang kita tidak lagi memiliki itu,” ujar Owen Lamont. “Yang terjadi sekarang justru ‘harganya turun’. Itu bukan cerita yang bagus,” paparnya.

Berbeda dengan saham atau komoditas yang memiliki indikator fundamental seperti laba dan arus kas, nilai Bitcoin sangat bergantung pada kepercayaan dan narasi yang mampu menarik investor baru. Ketika narasi tersebut melemah, daya tariknya pun ikut tergerus.

Trader ritel yang masuk saat reli dipicu sentimen politik sebelumnya kini banyak yang berada dalam posisi merugi. Di sisi lain, munculnya instrumen spekulatif baru ikut mengalihkan perhatian investor.

Noelle Acheson, penulis buletin Crypto is Macro Now, mengatakan bahwa ketika Bitcoin telah diposisikan sebagai aset makro, maka ia harus bersaing dengan berbagai alternatif lain yang dinilai lebih mudah dipahami dan dijelaskan kepada klien maupun pemegang kepentingan.

“Wahana spekulatif baru seperti pasar prediksi, bahkan bursa komoditas, mulai menyedot perhatian dari pasar kripto,” ucap Noelle Acheson.

“Sekarang ketika BTC diposisikan sebagai ‘aset makro’, ia harus bersaing dengan begitu banyak alternatif lain, yang sebagian besar lebih mudah dipahami dan lebih mudah dijelaskan kepada wali amanat, klien, maupun dewan direksi,” lanjutnya.

Tag:  #aset #kripto #terseret #zona #merah #bitcoin #ambruk #persen

KOMENTAR