Rupiah Undervalued, Ekonom: Kalau Bukan Orang Tua yang Sekolahkan Anaknya ke Luar Negeri Tak Perlu Pusing
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede saat public expoos 2025 di Jakarta, Jumat (7/3/2025).(KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU)
14:44
20 Februari 2026

Rupiah Undervalued, Ekonom: Kalau Bukan Orang Tua yang Sekolahkan Anaknya ke Luar Negeri Tak Perlu Pusing

- Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menyebut rupiah yang dinilai Bank Indonesia (BI) berada dalam posisi undervalued belum menimbulkan dampak langsung kepada masyarakat.

Menurutnya, pelemahan rupiah saat ini hanya berdampak pada masyarakat kalangan tertentu yang langsung bersinggungan dengan valuta asing.

"Kalau memang Anda bukan orang tua yang menyekolahkan anaknya ke luar negeri ataupun tidak ada pelaku usaha yang memang kebutuhan impornya juga cukup tinggi, sebenarnya tidak perlu pusing dengan pergerakan nilai tukar rupiah saat ini," ujarnya saat acara Economic Outlook 2026, Jumat (20/2/2026).

Baca juga: Gubernur BI Sebut Nilai Tukar Rupiah Telah Undervalued, Apa Penyebabnya?

Oleh karenanya, dia menilai kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan oleh masyarakat luas.

Sebab pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen global dibandingkan tekanan domestik.

Secara fundamental kondisi ekonomi domestik masih cukup solid dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,39 persen pada Kuartal IV 2025, inflasi terkendali, serta cadangan devisia yang berada pada level yang memadai untuk menjaga stabilitas eksternal.

"Urgensinya untuk kita panik itu tidak ada sama sekali. Apalagi kalau memang kita tidak terpapar risiko nilai tukar," imbuhnya.

Kendati demikian, Josua mengakui terdapat dampak berbeda di sisi dunia usaha, terutama jika pelemahan rupiah terus berlanjut dalam jangka waktu yang lama.

Dari sisi eksportir, pelemahan rupiah dapat menjadi berkah karena memberikan keuntungan karena penerimaan dalam dollar AS meningkat ketika dikonversi ke rupiah.

Sebaliknya, pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor, justru berpotensi menghadapi kenaikan biaya produksi.

Harga bahan baku impor yang lebih mahal dapat menekan margin usaha jika tidak diimbangi efisiensi atau penyesuaian harga.

"Sehingga ini dikhawatirkan kalau penguatan dollar AS terus berlanjut, tentunya ini akan bisa berdampak kepada kenaikan biaya produksi dan juga akan bisa ter-pass through kepada harga barang tersebut," ucapnya.

Namun, lanjut Josua, risiko tersebut sebenarnya juga dapat dimitigasi melalui instrumen lindung nilai (hedging) yang disediakan perbankan.

Dengan instrumen ini pelaku usaha dapat mengelola risiko kerugian akibat fluktuasi nilai tukar.

Dengan demikian, Josua menekankan bahwa pelemahan rupiah saat ini belum bersifat sistemik dan tidak serta-merta menekan daya beli masyarakat secara luas, selama tidak terjadi lonjakan inflasi akibat kenaikan harga barang impor.

"Tapi di luar itu saya pikir tidak perlu panik masyarakat umum. Ya tentunya kalau misalkan kita (khawatir) belilah produk-produk lokal untuk bisa mengurangi ketergantungan kepada barang impor," tukasnya.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menilai nilai tukar rupiah berada di bawah nilai wajarnya jika dibandingkan dengan fundamental ekonomi domestik.

Per 18 Februari 2026, rupiah berada di level Rp 16.880 per dollar AS. Posisi ini melemah 0,56 persen secara point to point dibanding akhir Januari 2026.

"Bank Indonesia memandang nilai tukar rupiah telah dinilai rendah (undervalued) dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia," ujar Perry dalam konferensi pers RDG BI, Kamis (19/2/2026).

Tekanan terhadap rupiah dinilai lebih dipengaruhi sentimen eksternal.

Ketidakpastian pasar keuangan global dan meningkatnya permintaan valuta asing dari korporasi domestik ikut memberi tekanan.

"Faktor-faktor teknikal, faktor-faktor premi risiko yang khususnya terjadi di global, memang kelihatan faktor-faktor ini yang memang menimbulkan tekanan-tekanan jangka pendek terhadap nilai tukar," ungkapnya.

Baca juga: Rupiah Pagi Sempat Melemah Tembus Rp 16.913 Per Dollar AS

Tag:  #rupiah #undervalued #ekonom #kalau #bukan #orang #yang #sekolahkan #anaknya #luar #negeri #perlu #pusing

KOMENTAR