Hashim Djojohadikusumo Ungkap Alasan Petinggi BEI dan OJK Diminta Mundur: Tidak Ada Transparansi
- Gejolak pasar modal Indonesia berujung pada pengunduran diri sejumlah petinggi otoritas pasar modal secara serentak pada Jumat (30/1/2026). Hal itu terjadi tak lama setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk menyusul peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait isu transparansi pasar.
Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan Hidup, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan alasan pengunduran pejabat PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) lantaran isu transparansi pasar, sehingga mereka pun diminta mengundurkan diri.
“Itu menjadi topik hangat minggu lalu, kan? Beberapa orang diminta untuk mengundurkan diri, dan ada alasannya, karena tidak ada transparansi,” ujar Hashim dalam acara ASEAN Climate Forum di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Baca juga: Prabowo Marah Besar Pasar Modal Anjlok, Begini Respon Pjs Dirut BEI
Menurut Hashim, Presiden Prabowo Subianto geram lantaran tekanan tajam di pasar modal. Amblasnya IHSG dinilai mencoreng kredibilitas Indonesia di mata investor global.
Pemerintah pun memberi sinyal tegas untuk memperketat pengawasan terhadap BEI dan OJK demi memulihkan kepercayaan pasar.
“Jadi, saya mengambil kesempatan ini untuk mengatakan dengan tegas, Presiden Prabowo sangat marah. Beliau marah dengan apa yang terjadi minggu lalu, terutama dengan kehormatan negara kita yang dipertaruhkan,” paparnya.
Atas kondisi tersebut, Hashim menyebutkan bahwa pemerintah melakukan pengawasan terhadap otoritas pasar modal.
“Jadi saya tujukan ini kepada Anda, Pak Jeffrey (BEI) dan Anda Pak Hasan (OJK). Pemerintah akan mengawasi Anda dengan ketat, dan saya serius,” kata Hashim.
“Kalian semua tahu kan apa yang terjadi minggu lalu? Morgan Stanley, jatuhnya pasar saham, dan saya tidak tahu apakah kalian mengikutinya, tapi itu menjadi topik hangat minggu lalu, kan? Beberapa orang diminta untuk mengundurkan diri,” tambah dia.
Sorotan terhadap pasar modal Indonesia juga datang dari lembaga indeks global, Morgan Stanley Capital International.
Hashim menyebut MSCI mengirim empat surat kepada pemerintah Indonesia untuk mempertanyakan sejumlah aspek dalam pengelolaan pasar modal.
Meski tidak merinci isi surat tersebut, Hashim menegaskan persoalan utamanya berkaitan dengan transparansi.
“Dan ada alasannya, karena tidak ada transparansi, dan ada ketidaktransparanan, itu dianggap sebagai pasar yang tidak transparan, Pak. Rupanya, Morgan Stanley mengirim empat surat, empat surat kepada pemerintah Indonesia,” ungkap Hashim.
Lebih jauh, ia menekankan kepercayaan dan kredibilitas merupakan fondasi utama dalam sistem pasar keuangan.
Tanpa kedua elemen tersebut, pasar tidak akan berfungsi secara optimal dan sehat.
Hashim juga menyampaikan bahwa delapan investor yang menemuinya secara langsung meminta pemerintah menjaga integritas pasar modal nasional.
“Namun, ini semua tentang kepercayaan dan kredibilitas. Pasar-pasar ini hanya akan berhasil jika ada kepercayaan dan kredibilitas. Jadi, delapan investor yang bertemu dengan saya pada hari Senin lalu, mereka meminta saya dan pemerintah untuk menjaga kredibilitas pasar kita,” lanjutnya.
Pekerja berjalan melewati refleksi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026).
Respons BEI
Menanggapi pernyataan tersebut, manajemen BEI memandang sikap pemerintah sebagai bentuk dukungan institusional.
Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan pemerintah memberikan dorongan agar jajaran direksi yang baru segera mengambil langkah-langkah strategis dan korektif untuk memperkuat tata kelola dan meningkatkan transparansi.
“Kami tentu berterima kasih mendapatkan dukungan yang luar biasa dari pemerintah. Seperti tadi Pak Hashim sampaikan, beliau memberikan dukungan bagi kami yang baru menjabat untuk bisa melakukan hal-hal yang penting dan perlu dilakukan dalam sesegera mungkin. Dan itu akan kami lakukan,” ujar Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Rabu.
Menurutnya, komunikasi dengan pemerintah berlangsung substansial.
Meski tidak ada arahan teknis secara detail, pesan yang disampaikan dinilai tegas dan jelas.
Sebelumnya IHSG mengalami koreksi besar-besaran dipicu sentimen negatif dari kebijakan pengelola indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI Rabu (28/1/2026), memutuskan menghentikan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan emiten Indonesia. Saat itu IHSG turun 742,58 poin atau 8,27 persen ke level 8.237,64. Trading halt pun diaktifkan BEI.
Tekanan jual berlanjut pada Kamis (29/1/2026). Tak lama setelah pembukaan perdagangan, BEI kembali mengaktifkan trading halt setelah IHSG anjlok 835,20 poin atau setara 10,04 persen ke level 7.485,35.
Pada Jumat (30/1/2026), IHSG akhirnya ditutup menguat di posisi 8.329,60. Namun, indeks sempat anjliok ke level 7.400 di tengah perdagangan.
Tekanan kembali berlanjut pada Senin (2/2/2026). Hingga penutupan sesi pertama, IHSG merosot 5,31 persen atau 442,44 poin ke level 7.887,16.
Baca juga: IHSG Hari Ini Dibuka Melemah 0,52 Persen ke Level 8.222
Tag: #hashim #djojohadikusumo #ungkap #alasan #petinggi #diminta #mundur #tidak #transparansi