Industri Tambang Dorong Praktik Berkelanjutan Lewat Aliansi Baru
– Pelaku industri pertambangan mulai mendorong pendekatan kolaboratif untuk memperkuat praktik operasional berkelanjutan di Indonesia melalui pembentukan sebuah aliansi yang dipimpin oleh industri.
“Pertambangan berkelanjutan menghadirkan tantangan operasional, lingkungan, dan sosial yang saling terkait. Dialog dan Aliansi ini dibentuk sebagai wadah kolaborasi industri untuk menyelaraskan perspektif dan menghimpun keahlian lintas pemangku kepentingan,” ujar Vice President Asia Pacific Lubrizol Henry Liu dalam kegiatan dialog industri di Jakarta, Rabu (5/2/2026).
Lubrizol bersama PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) sebagai founding partner menyelenggarakan dialog industri sekaligus memperkenalkan Alliance for Sustainable Mining Operations. Inisiatif ini dimaksudkan sebagai platform dialog bagi pelaku industri dalam mendorong praktik pertambangan yang lebih terkoordinasi dan aplikatif.
Sektor pertambangan memiliki peran strategis dalam pertumbuhan ekonomi nasional dan rantai pasok global. Namun, seiring peran tersebut, tuntutan terhadap kinerja lingkungan, efisiensi operasional, keselamatan kerja, serta dampak sosial juga semakin meningkat.
Baca juga: VKTR Bidik 30 Persen Pasar BRT Listrik dan 10 Persen Truk Listrik pada 2030
Menjembatani Komitmen dan Implementasi
Berbagai kebijakan dan komitmen keberlanjutan telah tersedia, tetapi tantangan utama masih terletak pada penerjemahan komitmen tersebut ke dalam praktik di lapangan, terutama di tengah beragam kondisi operasional pertambangan di Indonesia.
Melalui forum dialog ini, pelaku industri, pemerintah, dan pemangku kepentingan lain didorong untuk membahas penguatan praktik pertambangan berkelanjutan secara konstruktif dan berbasis kebutuhan operasional.
Dalam kegiatan tersebut, juga diluncurkan sebuah Green Paper yang memuat area fokus utama serta peta jalan pengembangan praktik pertambangan berkelanjutan. Dokumen ini diposisikan sebagai pemantik diskusi dan referensi awal bersama bagi para pemangku kepentingan industri.
Aliansi ini membuka ruang bagi partisipasi mitra industri lainnya untuk memberikan masukan serta turut membentuk arah pengembangan inisiatif ke depan.
Baca juga: Penerapan B35 untuk Industri Pertambangan Butuh Edukasi Lebih Lanjut
Empat Pilar Fokus Aliansi
Selain sebagai forum dialog, Alliance for Sustainable Mining Operations dirancang sebagai landasan kolaborasi jangka panjang. Aliansi ini akan berfokus pada empat pilar utama.
Pertama, pembangunan kapabilitas, termasuk dukungan terhadap adopsi energi yang lebih bersih dalam operasional pertambangan, seperti penggunaan biodiesel.
Kedua, adopsi teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan keselamatan pada peralatan serta mesin berat.
Ketiga, peningkatan infrastruktur melalui pemanfaatan ilmu material maju guna meningkatkan efisiensi dalam proses kimia, pengolahan air, dan manajemen bahan kimia.
Keempat, pengembangan masyarakat dengan penekanan pada pendidikan serta pembangunan sumber daya manusia yang terampil.
Baca juga: Pendapatan VKTR Tumbuh 11 Persen Kuartal III 2025, Fokus Adopsi Kendaraan Listrik Komersial
Chief of Corporate Affairs VKTR Indah Permatasari Saugi menilai persepsi keberlanjutan di dunia usaha juga mengalami pergeseran.
“Selama ini, keberlanjutan kerap dipandang sebagai kewajiban tambahan. Kini, pandangan tersebut mulai berubah, dan keberlanjutan mulai diposisikan sebagai bagian dari strategi bisnis,” ujarnya.
Ke depan, Aliansi ini akan terus berinteraksi dengan para pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi langkah-langkah konkret yang dapat dijalankan, mengacu pada hasil dialog dan peta jalan dalam Green Paper, dengan harapan menghasilkan dampak nyata yang berkelanjutan.
Tag: #industri #tambang #dorong #praktik #berkelanjutan #lewat #aliansi #baru