Talenta RI di Google Bicara Arah AI dan Dampaknya ke Ekonomi Global
Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). (shutterstock)
11:24
18 Januari 2026

Talenta RI di Google Bicara Arah AI dan Dampaknya ke Ekonomi Global

– Di tengah percepatan adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara global, talenta Indonesia mulai mengambil peran di level strategis industri teknologi dunia. Salah satunya Juan Anugraha Djuwadi, Product Manager Google Amerika Serikat, yang terlibat dalam pengembangan dan arah inovasi AI berskala global.

Peran tersebut dinilai relevan dengan dinamika ekonomi digital, ketika AI semakin memengaruhi cara pemerintah, korporasi, dan pelaku usaha merancang layanan serta meningkatkan efisiensi. Pengalaman Juan di perusahaan teknologi global menjadi gambaran bagaimana talenta Indonesia berkontribusi dalam ekosistem ekonomi berbasis inovasi.

Pandangan itu disampaikan Juan dalam webinar bertajuk "AI Streamline Your Business: Build Internal Apps with AI" yang digelar di Jakarta, Selasa (14/1/2026) lalu. Dalam forum tersebut, ia membahas arah pengembangan AI, tantangan adopsi lintas pasar, serta implikasinya bagi dunia usaha dan kebijakan publik.

Menurut Juan, pengembangan AI tidak semata soal kecanggihan teknologi, tetapi tentang relevansi terhadap kebutuhan pengguna.

“Pengguna tidak peduli seberapa canggih teknologi di belakang layar. Mereka peduli apakah solusi itu berguna dan menyelesaikan masalah nyata,” ujarnya, melalui keterangannya, dikutip Minggu (18/1/2026).

AI dan Skala Ekonomi Digital

Juan Anugraha Djuwadi, Product Manager Google, saat memaparkan pandangannya soal arah pengembangan AI global dalam webinar bertajuk AI Streamline Your Business: Build Internal Apps with AI yang digelar di Jakarta, Selasa (14/1/2026) lalu. DOK. WEBINAR AI Streamline Your Business: Build Internal Apps with AI Juan Anugraha Djuwadi, Product Manager Google, saat memaparkan pandangannya soal arah pengembangan AI global dalam webinar bertajuk AI Streamline Your Business: Build Internal Apps with AI yang digelar di Jakarta, Selasa (14/1/2026) lalu.

Juan menekankan dua prinsip yang kerap menjadi rujukan dalam pengembangan produk berskala besar, yakni less is more dan perhatian pada detail. Dalam sistem digital dengan jutaan hingga miliaran pengguna, kesalahan kecil dapat berdampak luas.

“Ketika satu persen pengguna mengalami kesulitan, itu berarti jutaan orang. Di sinilah detail menjadi isu strategis, bukan sekadar teknis,” kata Juan.

Prinsip ini, menurut dia, relevan bagi pemerintah dan badan usaha yang mengembangkan layanan publik dan sistem digital berskala nasional.

Dalam konteks pengambilan keputusan, Juan memandang data dan intuisi sebagai dua hal yang saling melengkapi. Data berperan untuk optimasi kinerja dan efisiensi, sementara intuisi dan visi produk dibutuhkan untuk lompatan inovasi jangka panjang.

“Data memvalidasi masa kini, intuisi mendefinisikan masa depan,” ujarnya.

Pendekatan tersebut dinilai penting di tengah persaingan ekonomi digital global, agar pelaku usaha dan regulator tidak hanya bersifat reaktif, tetapi mampu membaca arah perubahan teknologi.

Tantangan Adopsi AI di Indonesia

Isu kepercayaan atau trust menjadi salah satu tantangan utama dalam penerapan AI lintas negara. Juan menilai, solusi AI perlu dibangun dengan memahami konteks lokal, budaya, dan ekspektasi pengguna di masing-masing pasar.

Ia menyebut, Google mengandalkan kolaborasi tim global dan lokal agar inovasi yang dihasilkan tidak bersifat seragam, melainkan relevan. Pelajaran ini dianggap penting bagi Indonesia dan kawasan Asia Pasifik yang memiliki keragaman sosial dan ekonomi.

Terkait Indonesia, Juan melihat potensi besar sekaligus tantangan struktural. Dibandingkan Amerika Serikat yang sudah matang dalam adopsi dan monetisasi perangkat lunak, Indonesia masih berada dalam fase transisi. Namun, ia memprediksi perhatian terhadap privasi data, etika AI, dan akuntabilitas sistem akan meningkat seiring kematangan ekosistem digital.

Juan juga memproyeksikan perubahan besar dalam lima tahun ke depan, seiring demokratisasi AI. Perangkat lunak akan semakin bersifat on-the-fly, dihasilkan secara real time sesuai kebutuhan pengguna, dan mengubah cara pemerintah serta dunia usaha merancang layanan berbasis teks maupun suara.

Dengan pengalaman lintas industri, Juan menilai kehadiran talenta Indonesia di perusahaan global bukan sekadar simbol. Peran tersebut menjadi bagian dari kontribusi strategis dalam membentuk arah AI yang berdampak pada ekonomi, beretika, dan berorientasi pada manusia.

Menperin: AI Berpotensi Sumbang 366 Miliar Dollar AS ke Ekonomi Indonesia

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang KartasasmitaDok. Kemenperin Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita

Sebagai informasi, Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi kontributor utama ekonomi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kawasan Asia Tenggara.

Studi AT Kearney mencatat, penerapan AI di Indonesia berpotensi menciptakan nilai ekonomi hingga 366 miliar dollar AS atau sekitar 12 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada 2030.

Dalam proyeksi yang sama, kawasan ASEAN diperkirakan memperoleh tambahan nilai ekonomi hingga 13 persen dari rata-rata PDB negara anggotanya. Indonesia berada di peringkat teratas dengan potensi nilai ekonomi AI sebesar 366 miliar dollar AS, melampaui Thailand yang diperkirakan mencapai 117 miliar dollar AS dan Malaysia sebesar 115 miliar dollar AS.

Namun, besarnya potensi tersebut dinilai tidak otomatis terwujud tanpa kesiapan yang memadai.

Berdasarkan riset AI Radar Survey 2025 dari Boston Consulting Group, faktor penentu keberhasilan implementasi AI justru lebih banyak bertumpu pada kesiapan sumber daya manusia dan proses bisnis, yang menyumbang sekitar 70 persen, dibandingkan teknologi dan algoritma.

“Untuk mewujudkan potensi besar kontribusi ekonomi dari penerapan AI di Indonesia, kita perlu memahami secara mendalam faktor-faktor yang menjadi kunci keberhasilan implementasinya,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam acara "Kumparan AI For Indonesia" di Jakarta, Kamis (23/10/2025) lalu.

Tag:  #talenta #google #bicara #arah #dampaknya #ekonomi #global

KOMENTAR