Harga Bitcoin Menguat Usai Data Inflasi AS Sesuai Ekspektasi
Vice President Indodax Antony Kusuma.(DOK. INDODAX)
15:48
15 Januari 2026

Harga Bitcoin Menguat Usai Data Inflasi AS Sesuai Ekspektasi

Harga bitcoin (BTC) kembali menguat dan sempat menembus level 97.000 dollar AS pada Kamis (15/1/2026).

Penguatan tersebut terjadi setelah rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) periode Desember 2025 yang dinilai cenderung sesuai dengan ekspektasi pasar.

Setelah mencapai level tertinggi harian, harga bitcoin terkoreksi tipis dan bergerak di kisaran 95.000 sampai 96.000 dollar AS.

Ilustrasi bitcoin. Harga bitcoin naik tembus 95.000 dollar AS.UNSPLASH/ERLING LOKEN ANDERSEN Ilustrasi bitcoin. Harga bitcoin naik tembus 95.000 dollar AS.

Data inflasi AS yang dirilis Biro Statistik Tenaga Kerja AS (Bureau of Labor Statistics/BLS) menunjukkan inflasi naik 0,3 persen secara bulanan (month to month/mom) dan 2,7 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Sementara itu, inflasi inti atau core inflation rate tercatat tetap terkendali di level 0,2 persen mom dan 2,6 persen (yoy).

BLS mencatat, kenaikan inflasi Desember 2025 terutama didorong oleh sektor perumahan (shelter) yang mengalami kenaikan 0,4 persen secara bulanan.

Di luar sektor tersebut, tekanan harga dinilai relatif moderat, sehingga inflasi secara keseluruhan masih berada dalam rentang yang diperkirakan pasar.

Dalam kondisi inflasi yang relatif stabil, bank sentral AS Federal Reserve (The Fed), dinilai memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga acuan. Dalam kondisi tertentu, stabilitas inflasi juga membuka peluang penurunan suku bunga guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Menanggapi perkembangan tersebut, Vice President INDODAX Antony Kusuma menilai stabilnya inflasi AS memberikan ruang bagi pasar kripto untuk bergerak lebih leluasa setelah periode konsolidasi yang cukup panjang.

Ilustrasi Bitcoin, mata uang kripto paling bernilai di dunia.Unsplash/michael fortsch Ilustrasi Bitcoin, mata uang kripto paling bernilai di dunia.

“Angka inflasi Desember 2025 masih sejalan dengan ekspektasi, sehingga pasar relatif lebih tenang. Dalam kondisi seperti ini, investor global biasanya mulai kembali melirik aset berisiko, termasuk kripto, karena ketidakpastian kebijakan moneter menurun dan likuiditas global berpotensi tetap terjaga,” ujar Antony dalam keterangan tertulisnya, Kamis.

Ia menambahkan, untuk saat ini pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed dengan menunggu rilis data ekonomi berikutnya.

“Untuk saat ini pelaku pasar akan fokus menunggu arah kebijakan suku bunga The Fed sambil mencermati data ekonomi berikutnya,” kata Antony.

Selain faktor makroekonomi, penguatan harga Bitcoin juga terjadi di tengah aksi pembelian oleh institusi besar.

Strategy Inc mengumumkan penambahan kepemilikan Bitcoin senilai lebih dari US$1 miliar pada awal 2026. Aksi tersebut menjadi pembelian terbesar perusahaan itu sejak pertengahan 2025.

Langkah Strategy Inc memperkuat posisinya sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar secara global.

Aksi akumulasi tersebut juga dinilai turut memberikan dorongan sentimen positif ke pasar, meskipun permintaan dari investor ritel secara global masih cenderung terbatas.

Menurut Antony, konsistensi pembelian yang dilakukan institusi besar memperkuat pandangan bahwa bitcoin semakin dipandang sebagai aset dengan fundamental yang kuat.

“Institusi tidak masuk karena momentum sesaat. Akumulasi yang dilakukan secara berkelanjutan mencerminkan keyakinan jangka panjang terhadap bitcoin, terlepas dari volatilitas jangka pendek yang masih terjadi,” ujarnya.

Tidak hanya bitcoin, sejumlah aset kripto utama lainnya juga mencatatkan penguatan dalam periode yang sama.

Ilustrasi BitcoinDok. Shutterstock/Mega Bintang Ilustrasi Bitcoin

Ethereum, Solana, serta beberapa altcoin berkapitalisasi besar bergerak lebih agresif, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko seiring meredanya tekanan dari faktor makroekonomi global.

Di tengah pergerakan harga tersebut, INDODAX mengimbau pelaku pasar untuk tetap mengedepankan manajemen risiko yang disiplin.

Investor juga diminta melakukan riset secara mandiri atau Do Your Own Research (DYOR), mengingat volatilitas masih menjadi karakter utama dalam pasar aset kripto.

Tag:  #harga #bitcoin #menguat #usai #data #inflasi #sesuai #ekspektasi

KOMENTAR