Airlangga: Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 110,7 Triliun di 2025, Tekstil hingga Semikonduktor Jadi Andalan 2026
- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah sepanjang 2025 aktif menyalurkan stimulus fiskal senilai total Rp 110,7 triliun guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Stimulus tersebut digelontorkan secara bertahap di setiap kuartal dan diperkuat dengan berbagai program non-APBN, seperti Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas), Belanja di Indonesia Saja (BINA), hingga program Every Purchase is Cheap (EPIC Sale).
"Memasuki 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen dengan mengandalkan sejumlah sektor prioritas," kata Airlangga dalam keterangan resmi pada Senin (12/11/2026).
Di antaranya ketahanan pangan dengan alokasi anggaran Rp 164,4 triliun, ketahanan energi Rp 402,4 triliun, program Makan Bergizi Gratis Rp 335 triliun, pendidikan Rp 757,8 triliun, kesehatan Rp 244 triliun, UMKM dan desa Rp 181,8 triliun, pertahanan Rp 424,8 triliun, serta investasi dan perdagangan Rp 57,7 triliun.
Pemerintah juga terus mendorong penguatan sektor industri dan UMKM melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).
"Dalam pertemuan tadi malam di Hambalang, Bapak Presiden Prabowo Subianto juga mendorong pentingnya sektor industri tekstil untuk kita pertahankan karena sektor industri tekstil ini adalah yang paling terbuka untuk menghadapi perang dagang," ujar Airlangga.
Oleh karena itu Presiden minta agar dibuat langkah khusus dan untuk mempertahankan industri tekstil di Indonesia dan dari hasil studi tersebut Indonesia berpotensi menjadi 5 pemain besar tekstil dunia karena dari segi pertumbuhan, sektor tekstil ini selalu akan dibutuhkan.
Ia menjelaskan, Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui usulan tahap awal pembentukan pendanaan untuk insentif sektor tekstil dengan kebutuhan sekitar 6 miliar dollar AS.
Pendanaan tersebut ditujukan untuk melengkapi rantai nilai industri tekstil nasional.
Selain itu, pemerintah juga berencana membangun kembali peran BUMN atau Danantara yang secara khusus akan menangani sektor tekstil.
Melalui langkah tersebut, pemerintah menargetkan lonjakan nilai ekspor tekstil dari sekitar Rp 4 miliar menjadi Rp 40 miliar dalam kurun 10 tahun ke depan.
Di saat yang sama, penyerapan tenaga kerja di sektor tekstil ditargetkan meningkat dari sekitar 4 juta orang menjadi 6 juta orang, atau bertambah sekitar 2 juta tenaga kerja.
Selain tekstil, sektor elektronik juga menjadi perhatian pemerintah di tengah dinamika global.
Pemerintah akan mendorong pengembangan kembali industri semikonduktor sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah menjalin komunikasi dengan perusahaan semikonduktor global asal Inggris yang menyatakan minat menjadi mitra strategis Indonesia.
Sejalan dengan arahan Presiden, pemerintah juga akan membentuk BUMN khusus di bidang semikonduktor.
Pengembangan industri ini akan difokuskan pada penguatan sumber daya manusia, mengingat ekosistem semikonduktor sangat bergantung pada kapabilitas SDM.
Industri semikonduktor diarahkan untuk menjawab kebutuhan masa depan, terutama bagi sektor otomotif, internet of things (IoT), komputer personal, pusat data, serta layanan komputasi awan.
Airlangga menilai Indonesia memiliki keunggulan tersendiri karena ditopang oleh pasar domestik yang besar dan statusnya sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di kawasan ASEAN.
Pemerintah pun optimistis penguatan industri strategis tersebut akan menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.
Tag: #airlangga #pemerintah #gelontorkan #stimulus #1107 #triliun #2025 #tekstil #hingga #semikonduktor #jadi #andalan #2026