Faktor Ekonomi, 61.116 Warga Malaysia Lepas Kewarganegaraan
Paspor Malaysia naik ke posisi tiga besar dunia.(X @richardker)
11:48
9 Januari 2026

Faktor Ekonomi, 61.116 Warga Malaysia Lepas Kewarganegaraan

Faktor ekonomi dan pertimbangan keluarga menjadi pendorong utama di balik keputusan puluhan ribu warga Malaysia yang melepaskan kewarganegaraan mereka dalam lima tahun terakhir.

Data resmi menunjukkan, arus pelepasan kewarganegaraan tersebut berlangsung relatif stabil dengan rata-rata sekitar 10.000 orang per tahun.

Direktur Jenderal Departemen Registrasi Nasional Malaysia, Datuk Badrul Hisham Alias, mengungkapkan sebanyak 61.116 warga Malaysia tercatat telah melepaskan kewarganegaraan mereka dalam periode lima tahun hingga 17 Desember 2025.

Paspor Malaysia kini berada di peringkat ketiga dunia berdasarkan Passport Index 2025 yang diterbitkan oleh firma keuangan global Arton Capital.Instagram @imigresen Paspor Malaysia kini berada di peringkat ketiga dunia berdasarkan Passport Index 2025 yang diterbitkan oleh firma keuangan global Arton Capital.

Dari jumlah tersebut, perempuan menjadi kelompok terbesar, yakni 35.356 orang.

“Keputusan untuk melepaskan kewarganegaraan Malaysia sebagian besar didorong oleh faktor ekonomi dan keluarga,” kata Badrul kepada Harian Metro, dikutip pada Jumat (9/1/2026).

Singapura jadi tujuan utama

Berdasarkan data Departemen Registrasi Nasional, sebagian besar warga Malaysia yang melepas kewarganegaraan memilih Singapura sebagai negara tujuan.

Singapura mencakup 93,78 persen dari total kasus pelepasan kewarganegaraan dalam lima tahun terakhir.

Negara tujuan lain yang tercatat adalah Australia dengan 2,15 persen dan Brunei sebesar 0,97 persen. Sementara itu, sekitar 3,1 persen sisanya tersebar di berbagai negara lain.

Badrul menjelaskan, daya tarik Singapura tidak terlepas dari peluang kerja dan tingkat pendapatan yang relatif lebih tinggi dibandingkan Malaysia.

Ilustrasi negara Malaysia.Dok. UNSPLASH/Mohd Jon Ramlan Ilustrasi negara Malaysia.

Banyak warga Malaysia yang telah lama bekerja di Singapura, khususnya di sektor jasa, manufaktur, dan teknologi, sehingga proses memperoleh kewarganegaraan negara tersebut dinilai lebih memungkinkan.

Data pemerintah Singapura sebelumnya juga menunjukkan bahwa tenaga kerja asal Malaysia merupakan salah satu kelompok pekerja asing terbesar di negara tersebut, terutama di sektor profesional dan semi-terampil.

Kondisi ini memperkuat keterkaitan ekonomi lintas batas antara kedua negara.

Alasan keluarga menonjol

Selain faktor ekonomi, pertimbangan keluarga disebut menjadi alasan yang sangat menonjol.

Badrul mengatakan, banyak warga Malaysia yang menikah dengan warga negara asing, kemudian bermigrasi dan menetap di luar negeri sebelum akhirnya memilih untuk mengambil kewarganegaraan pasangan mereka.

Fenomena ini sejalan dengan tren mobilitas tenaga kerja dan perkawinan lintas negara di kawasan Asia Tenggara, yang meningkat seiring keterbukaan ekonomi dan kemudahan mobilitas regional.

Aturan kewarganegaraan tunggal

Dalam keterangannya, Badrul juga menyinggung adanya kasus pencabutan kewarganegaraan, meskipun jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan pelepasan secara sukarela.

Hal ini berkaitan dengan ketentuan dalam Konstitusi Federal Malaysia yang tidak mengakui kewarganegaraan ganda.

“Ketika seorang warga negara Malaysia menggunakan hak-hak negara asing, seperti memberikan suara dalam pemilu di negara tersebut, mereka dianggap telah memperoleh kewarganegaraan negara tersebut, dan kewarganegaraan Malaysia mereka harus dicabut,” ujarnya.

Ketentuan ini membuat warga Malaysia yang ingin mengambil kewarganegaraan asing harus secara resmi melepaskan status kewarganegaraan Malaysia mereka, berbeda dengan sejumlah negara lain yang mengizinkan kewarganegaraan ganda.

Ilustrasi Kuala Lumpur, Malaysia. Malaysia unggul dalam bidang wisata medis.UNSPLASH/ESMONDE YONG Ilustrasi Kuala Lumpur, Malaysia. Malaysia unggul dalam bidang wisata medis.

Kelompok usia poduktif mendominasi

Dari sisi demografi, kelompok usia produktif mendominasi pemohon pelepasan kewarganegaraan.

Warga berusia 31 sampai 40 tahun tercatat sebagai kelompok terbesar dengan 19.287 orang atau sekitar 31,6 persen dari total pemohon.

Kelompok usia 21 sampai 30 tahun menyusul dengan 18.827 orang (30,8 persen), diikuti usia 41 sampai 50 tahun sebanyak 14.126 orang (23,1 persen), dan mereka yang berusia di atas 50 tahun sebanyak 8.876 orang (14,5 persen).

Komposisi usia tersebut menunjukkan bahwa keputusan melepas kewarganegaraan banyak diambil pada fase usia kerja aktif, ketika pertimbangan karier, pendapatan, dan stabilitas keluarga menjadi faktor utama dalam menentukan pilihan kewarganegaraan.

Dinamika ekonomi regional

Sejumlah analis ekonomi di kawasan Asia Tenggara menilai pergerakan warga negara lintas batas, termasuk pelepasan kewarganegaraan, tidak terlepas dari dinamika ekonomi regional.

Perbedaan upah, peluang kerja, serta sistem jaminan sosial antarnegara kerap menjadi faktor pembanding bagi tenaga kerja terampil.

Singapura, misalnya, dikenal memiliki tingkat upah rata-rata dan produktivitas tenaga kerja yang lebih tinggi dibandingkan negara-negara tetangganya, meskipun biaya hidup di negara tersebut juga relatif mahal.

Bagi sebagian warga Malaysia yang telah lama bekerja dan menetap di sana, pengambilan kewarganegaraan Singapura dipandang sebagai langkah administratif untuk memperkuat kepastian hukum dan akses ekonomi.

Sementara itu, pemerintah Malaysia dalam beberapa kesempatan menyatakan tetap berupaya meningkatkan daya saing ekonomi domestik dan kualitas lapangan kerja, khususnya untuk menahan laju keluarnya tenaga kerja terampil ke luar negeri.

Tag:  #faktor #ekonomi #61116 #warga #malaysia #lepas #kewarganegaraan

KOMENTAR