Goldman Sachs Wanti-wanti Volatilitas Harga Perak Berlanjut Tahun Ini
Goldman Sachs memperingatkan harga perak akan terus bergejolak karena pasokan terhambat dan kebijakan ekspor yang belum jelas. Kondisi ini berpotensi membuat logam putih ini tetap sulit bergerak stabil.(canva.com)
07:32
9 Januari 2026

Goldman Sachs Wanti-wanti Volatilitas Harga Perak Berlanjut Tahun Ini

- Harga perak mencatat kenaikan tajam sepanjang 2025, bahkan dua kali lipat lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Namun, Goldman Sachs mengungkapkan, volatilitas harga perak belum akan berhenti pada 2026.

Penyebab utamanya bukan kekurangan pasokan perak secara global, melainkan posisi fisik logam yang tersebar tak merata.

London, tempat acuan harga perak dunia ditetapkan, kini stoknya menipis. Banyak perak dipindahkan ke brankas di Amerika Serikat sejak tahun lalu karena kekhawatiran tarif dari pemerintah AS.

Situasi ini membuat harga perak mudah tertekan. Saat investor menyerap sisa logam di London, harga melonjak cepat. Sebaliknya, saat pasokan agak longgar, harga langsung turun tajam.

Dikutip dari Business Insider, Jumat (9/1/2026), saat ini harga perak di pasar spot mencapai 76 dollar AS per troy ons, naik 8,5 persen sejak awal tahun setelah melonjak lebih dari dua kali lipat sepanjang 2025.

Lonjakan harga perak didorong oleh masuknya dana investasi yang mencari perlindungan, harapan pelonggaran suku bunga The Fed, dan diversifikasi aset. Namun kekurangan stok perak di London semakin memperkuat gejolak harga.

Goldman Sachs memperkirakan pergerakan harga ekstrim masih akan berlanjut. Biasanya, permintaan bersih mingguan sekitar 1.000 ton metrik menaikkan harga sekitar 2 persen. Kini, sensitivitas harga perak terhadap permintaan melonjak hingga sekitar 7 persen.

Meski harga perak sudah tinggi, permintaan investor untuk logam mulia diprediksi masih terbuka. Kepemilikan perak dalam bentuk ETF, yang didukung fisik perak, masih di bawah puncak 2021 dan berpotensi naik seiring pelonggaran suku bunga dan diversifikasi investasi.

Namun, harga perak bisa turun jika ada kepastian kebijakan sehingga perak mengalir kembali dari brankas AS ke London. Sayangnya, ketidakpastian kebijakan ini justru membuat perak berpotensi terjebak di AS.

Contohnya, sebagian besar emas tetap tersimpan di brankas COMEX New York walau pemerintah AS telah memastikan emas tidak dikenakan tarif.

Goldman Sachs memperkirakan perak bisa mengikuti pola yang sama, sehingga volatilitas harga tetap tinggi.

Faktor lain yang menambah ketidakpastian adalah kebijakan ekspor China mulai 1 Januari 2026. China mewajibkan izin resmi untuk ekspor perak, langkah yang bisa memecah pasar perak global, mengurangi likuiditas, dan memperbesar fluktuasi harga.

Goldman Sachs memperingatkan, risiko gangguan ini bisa membuat pelaku pasar menahan stok sendiri, tidak lagi berbagi cadangan secara global.

Hal ini berpotensi mengubah pasar perak yang semula terintegrasi menjadi pasar regional yang terisolasi, memicu fluktuasi harga lokal yang tajam.

Tag:  #goldman #sachs #wanti #wanti #volatilitas #harga #perak #berlanjut #tahun

KOMENTAR