Analis: Penangkapan Maduro Tak Langsung Guncang Pasar Minyak Global
Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istri, Cilia Flores, saat meninggalkan gedung Majelis Nasional, atau Capitolio, setelah mengambil sumpah jabatan di Caracas, 10 Januari 2025. Maduro ditangkap oleh AS dalam serangan cepat pada 3 Januari 2026.(AFP/JUAN BARRETO)
14:24
5 Januari 2026

Analis: Penangkapan Maduro Tak Langsung Guncang Pasar Minyak Global

Penggulingan dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dinilai tidak akan langsung mengguncang pasar energi global dalam waktu dekat.

Sejumlah analis mengatakan, pasar minyak telah lebih dulu memperhitungkan risiko geopolitik Venezuela, sementara kondisi kelebihan pasokan global masih menjadi faktor dominan penekan harga.

“Meskipun skala serangan AS tidak terduga, pasar telah memperhitungkan konflik dengan Venezuela yang akan mengganggu ekspor minyak,” kata Arne Lohmann Rasmussen, Kepala Analis dan Kepala Riset di A/S Global Risk Management kepada CNBC, dikutip pada Senin (5/1/2026).

Kebakaran di Fuerte Tiuna, kompleks militer terbesar Venezuela, terlihat dari kejauhan, Sabtu (3/1/2026).AFP/GETTY IMAGES via BBC INDONESIA Kebakaran di Fuerte Tiuna, kompleks militer terbesar Venezuela, terlihat dari kejauhan, Sabtu (3/1/2026).

Venezuela merupakan anggota pendiri Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia.

Namun demikian, Rasmussen menekankan bahwa kontribusi produksi negara Amerika Selatan itu terhadap pasokan global saat ini relatif kecil.

“Venezuela saat ini memproduksi kurang dari satu juta barrel per hari (bph), yang berarti kurang dari 1 persen dari produksi minyak global,” ujar dia.

Dari jumlah produksi minyak tersebut, Venezuela hanya mengekspor sekitar setengahnya, atau sekitar 500.000 bph.

Pada saat yang sama, konflik ini terjadi ketika pasar minyak global berada dalam kondisi kelebihan pasokan, dengan permintaan yang relatif lemah. Ini merupakan pola yang kerap muncul pada kuartal pertama setiap tahun.

Ilustrasi harga minyak, harga minyak mentah. THINKSTOCKPHOTOS Ilustrasi harga minyak, harga minyak mentah.

Dampak terbatas terhadap harga minyak mentah

Rasmussen memperkirakan dampak geopolitik tersebut terhadap harga minyak akan terbatas. Ia memproyeksikan harga minyak mentah Brent hanya akan naik sekitar 1 sampai 2 dollar AS per barrel, atau bahkan lebih kecil, ketika perdagangan berjangka dibuka.

Ia memperkirakan harga minyak mentah Brent justru akan sedikit lebih rendah pada pekan berikutnya dibandingkan penutupan Jumat di level 60,75 dollar AS per barrel.

“Meskipun ini merupakan peristiwa geopolitik besar yang biasanya diharapkan akan positif atau mendorong harga minyak naik, intinya adalah masih terlalu banyak minyak di pasar, dan itulah mengapa harga minyak tidak akan melonjak,” tutur Rasmussen.

Sementara itu, Bob McNally, analis dari Rapidan Energy mengatakan, sekitar sepertiga produksi minyak Venezuela berisiko terganggu akibat konflik.

Meski demikian, McNally menilai tidak seluruh produksi Venezuela akan terhenti.

“Itu tidak akan menimbulkan risiko yang berarti bagi pasar minyak dalam jangka pendek,” ujarnya.

Pasar minyak masih tertekan produksi global

Kondisi pasar minyak global sepanjang 2025 juga memperkuat pandangan bahwa dampak geopolitik Venezuela akan terbatas. Tahun lalu, pasar minyak mencatat penurunan tahunan terbesar dalam lima tahun terakhir.

Harga acuan minyak mentah Brent turun sekitar 19 persen sepanjang 2025, sementara minyak mentah AS kehilangan hampir 20 persen.

Tekanan tersebut muncul setelah OPEC+ mulai meningkatkan produksi setelah bertahun-tahun melakukan pembatasan pasokan.

Di luar itu, AS juga mencatatkan produksi minyak pada level rekor, yakni lebih dari 13,8 juta bph.

Ilustrasi produksi minyak, harga minyak mentah. SHUTTERSTOCK/GOLDEN DAYZ Ilustrasi produksi minyak, harga minyak mentah.

Dengan latar belakang tersebut, sejumlah analis justru menilai harga minyak berpotensi turun lebih lanjut apabila perubahan rezim di Venezuela membuka peluang peningkatan produksi.

Potensi lonjakan produksi jika sanksi dicabut

Saul Kavonic, Kepala Riset Energi di MST Financial, memperkirakan ekspor minyak Venezuela dapat meningkat signifikan dalam jangka menengah.

Ia menyebut, ekspor minyak Venezuela berpotensi mendekati 3 juta bph jika pemerintahan baru mendorong pencabutan sanksi internasional dan membuka kembali pintu bagi investor asing.

“Jika ada, masa depan Venezuela akan berdampak negatif pada pasar, karena sebenarnya tidak ada jalan lain selain naik,” ucap David Goldwyn, konsultan industri energi sekaligus mantan pejabat senior energi Departemen Luar Negeri AS pada era Presiden Barack Obama.

Saat ini, embargo minyak terhadap Venezuela masih diberlakukan. Trump menegaskan hal tersebut dalam konferensi pers pada Sabtu (3/1/2026) waktu setempat.

Ia mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan minyak AS akan menginvestasikan miliaran dollar AS untuk membangun kembali sektor energi Venezuela.

Namun, Trump tidak merinci perusahaan mana yang akan terlibat, bagaimana mekanisme investasinya, maupun bagaimana AS akan mengelola Venezuela untuk sementara waktu “bersama sebuah kelompok”.

Ketidakpastian politik jadi pertimbangan investor

Goldwyn menilai prospek investasi perusahaan minyak AS di Venezuela masih diselimuti ketidakpastian.

Menurut dia, pengalaman transisi pemerintahan di sejumlah negara menunjukkan proses tersebut kerap berlangsung rumit dan berisiko.

Ilustrasi migasSHUTTERSTOCK Ilustrasi migas

“Semua yang telah kita pelajari tentang transisi pemerintahan dari Irak, dari Afghanistan, dari negara-negara lain, adalah bahwa transisi itu sulit,” sebut dia.

“Tidak ada perusahaan yang mau berkomitmen untuk menginvestasikan miliaran dolar untuk operasi jangka panjang sampai mereka mengetahui apa persyaratannya. Dan mereka tidak dapat mengetahui apa persyaratannya sampai mereka mengetahui seperti apa pemerintahannya nanti,” imbuhnya.

Ia juga menambahkan, sejumlah perusahaan, termasuk Exxon Mobil, masih menunggu pelunasan utang yang dimiliki oleh perusahaan minyak nasional Venezuela, Petroleos de Venezuela S.A. (PDVSA).

McNally menilai kondisi tersebut menjadikan investasi di Venezuela sebagai proposisi yang kompleks bagi perusahaan minyak AS.

Ia mengingatkan bahwa produsen minyak belum melupakan pengalaman awal 2000-an, ketika Venezuela menyita aset perusahaan minyak asing dan mengusir mereka dari negara tersebut.

Namun demikian, ia mengakui bahwa akses terhadap cadangan minyak terbesar di dunia tetap menjadi daya tarik besar jika sanksi benar-benar dicabut.

“Dibutuhkan investasi selama puluhan tahun dan miliaran dollar AS,” kata McNally.

Apakah investasi itu sepadan atau tidak, menurut dia, bergantung pada satu pertanyaan utama: apakah dunia masih membutuhkan minyak sebanyak itu.

“Hingga akhir tahun lalu, konsensus pasar adalah bahwa permintaan minyak akan berhenti tumbuh dalam empat tahun. Itu didorong oleh kendaraan listrik, kebijakan efisiensi bahan bakar, dan kebijakan perubahan iklim,” ujarnya.

Namun, McNally mencatat, melemahnya kebijakan iklim di AS dan sejumlah negara lain, termasuk Tiongkok dan Kanada, serta melambatnya penjualan kendaraan listrik, mulai mengubah prospek tersebut.

“Tiba-tiba Anda mulai berkata: ‘Wah, kita akan membutuhkan lebih banyak minyak,’” terang McNally.

Tag:  #analis #penangkapan #maduro #langsung #guncang #pasar #minyak #global

KOMENTAR