Indikator Konsumsi Naik, Ekonom: Pemulihan Daya Beli Masyarakat Belum Fundamental
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda. (DOK. AMAR BANK)
12:08
5 Januari 2026

Indikator Konsumsi Naik, Ekonom: Pemulihan Daya Beli Masyarakat Belum Fundamental

Sejumlah indikator daya beli masyarakat menunjukkan perbaikan pada akhir 2025. Perbaikan tersebut dinilai belum mencerminkan pemulihan daya beli secara fundamental.

Ekonom Center of Economic and Law Studies atau CELIOS Nailul Huda menilai daya beli masyarakat membaik pada Kuartal IV 2025.

Perbaikan ini tercermin pada Indeks Keyakinan Konsumen November 2025 sebesar 124. Angka tersebut meningkat dibandingkan Oktober 2025 sebesar 121,2. Purchasing Managers’ Index Manufaktur Indonesia November 2025 tercatat 5,3, naik dari bulan sebelumnya sebesar 51,2.

"Kondisi daya beli masyarakat jika dilihat dari dua bulan terakhir, memang ada perbaikan terutama dari sisi ekspektasi konsumsi," ujarnya kepada Kompas.com, Senin (5/1/2026).

Huda menilai perbaikan daya beli bersifat siklikal. Faktor pemicunya berasal dari momentum akhir tahun saat konsumsi meningkat selama libur Natal dan Tahun Baru atau Nataru.

Kenaikan IKK pada November dipicu tambahan pendapatan berupa bonus akhir tahun. Kenaikan PMI Manufaktur Indonesia berkaitan dengan persiapan pembelian barang untuk kebutuhan 2026.

"Pertumbuhan konsumsi rumah tangga di Kuartal III juga masih menunjukkan perlambatan. Jadi secara data, memang terjadi perbaikan, namun sifatnya siklikal, bukan fundamental," ucapnya.

Tekanan masih terlihat dari sisi fundamental. Huda menyoroti pertumbuhan upah riil yang belum mampu mengejar laju pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Kondisi ini berisiko menekan daya beli ke depan. Upah pekerja Indonesia dinilai belum sanggup menutup kenaikan inflasi, terutama inflasi pangan bergejolak atau volatile food.

"Pertumbuhan upah riil yang terkontraksi menurut World Bank, memang berbanding terbalik dengan klaim pemerintah bahwa fondasi ekonomi kita kuat dengan pertumbuhan ekonomi kita di angka 5 persenan," kata dia.

Tekanan tersebut memicu fenomena makan tabungan. Masyarakat terpaksa menguras simpanan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat, sementara pendapatan tidak bertambah signifikan.

Penghasilan yang tidak mencukupi kebutuhan hidup mendorong kehati-hatian dalam mengambil kredit. Kondisi ini tercermin dari pertumbuhan kredit yang hanya mencapai 7,74 persen secara tahunan pada November 2025.

"Permasalahan ini sudah terlihat dalam setahun ke belakang ketika perekonomian lesu, daya beli melemah, yang membuat orang cenderung berpikir berkali-kali untuk berhutang. Undisbursed loans yang tinggi menjadi tanda lemahnya permintaan kredit," tuturnya.

Tag:  #indikator #konsumsi #naik #ekonom #pemulihan #daya #beli #masyarakat #belum #fundamental

KOMENTAR