Hubungan Venezuela dan AS Memanas, Berdampak ke IHSG?
Ketegangan hubungan antara Venezuela dan Amerika Serikat kembali memanas dan menjadi sorotan pelaku pasar global.
Eskalasi geopolitik memunculkan kekhawatiran potensi dampak buruk bagi pasar keuangan global, termasuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Situasi memanas menyusul langkah keras Amerika Serikat terhadap Venezuela yang memicu penolakan dari pemerintahan Caracas.
Ketegangan tersebut terjadi di tengah kondisi global yang masih rapuh akibat perlambatan ekonomi dunia, konflik geopolitik yang belum mereda di sejumlah kawasan, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter global.
Kombinasi faktor tersebut membuat pasar keuangan global cenderung lebih sensitif terhadap sentimen negatif.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai memanasnya hubungan Venezuela dan Amerika Serikat berpotensi menambah tekanan sentimen di pasar keuangan, meskipun dampaknya terhadap Indonesia bersifat tidak langsung.
Menurutnya, konflik geopolitik yang melibatkan negara produsen energi tetap perlu dicermati oleh pelaku pasar. Meski Venezuela tidak termasuk dalam jajaran 20 besar produsen minyak mentah dunia, ketegangan yang terjadi tetap dapat mempengaruhi persepsi risiko global, khususnya terhadap pasokan energi dan stabilitas harga komoditas.
“Apa yang akan terjadi hari ini? Kami melihat saham berbasis harga minyak akan mengalami kenaikkan, meskipun Venezuela tidak masuk ke dalam 20 terbesar produsen minyak mentah. Hal ini tentu saja akan memberikan potensi tekanan inflasi khususnya dan akan menimbulkan risiko bagi pasar,” ujar Nico dalam analisa hariannya, Senin (5/1/2026).
Lantas bagaimana dengan pergerakan IHSG hari ini?
Nico menilai kondisi tersebut dapat menahan laju penguatan indeks dalam jangka pendek. Investor, khususnya investor asing, cenderung bersikap lebih berhati-hati sambil menunggu kejelasan arah konflik, serta respons negara-negara lainnya terhadap langkah Amerika Serikat.
“Untuk pasar saham dan obligasi, kami melihat ada potensi koreksi meskipun pelaku pasar dan investor akan cenderung wait and see pada perdagangan hari ini,” paparnya.
Berdasarkan analisa teknikalnya, ia melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 8.645-8.775.
Meski demikian, fundamental ekonomi domestik Indonesia dinilai masih cukup solid untuk menopang pasar saham, terutama dari sisi konsumsi domestik, stabilitas sistem keuangan, serta prospek kinerja emiten.
Nico mencatat aktivitas manufaktur Indonesia tetap ekspansif hingga akhir 2025 meski melambat. PMI Manufaktur Indonesia pada Desember 2025 tercatat 51,2, turun dari 53,3 pada November.
Ekspansi ditopang kenaikan permintaan baru yang berlanjut lima bulan berturut-turut, terutama dari pasar domestik, meski pesanan ekspor masih terkontraksi.
Produksi terus meningkat secara terbatas akibat kendala bahan baku, sementara permintaan yang relatif kuat mendorong kenaikan ketenagakerjaan, aktivitas pembelian, serta penambahan persediaan, dengan stok barang jadi mencapai level tertinggi dalam enam tahun terakhir.
Tekanan biaya input masih tinggi akibat kenaikan harga dan gangguan pasokan, namun mulai mereda, sehingga kenaikan harga jual berlangsung lebih moderat.
Memasuki 2026, optimisme pelaku usaha menguat seiring ekspektasi permintaan yang tetap terjaga.
“Kami menilai ekspansi manufaktur yang berlanjut menunjukkan sektor industri masih menopang pertumbuhan ekonomi domestik, didukung permintaan dalam negeri yang relatif kuat,” lanjutnya.
Namun, pelemahan pesanan ekspor mencerminkan tekanan perlambatan ekonomi global. Tekanan biaya yang masih ada dan kenaikan harga jual berpotensi menjaga inflasi inti tetap tinggi, sehingga ruang pelonggaran kebijakan moneter terbatas.
“Ke depan prospek manufaktur tetap positif, tetapi dibayangi risiko gangguan pasokan dan lemahnya permintaan eksternal,” katanya.