Hutama Karya Rampungkan Pembangunan 2 Jembatan Bailey di Aceh Tenggara
PT Hutama Karya (Persero) telah merampungkan pemasangan dua jembatan Bailey di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh.
Jembatan ini untuk memulihkan mobilitas masyarakat dan logistik selama masa pemulihan pascabencana.
Terdapat dua jembatan yang dipasang yakni Jembatan Bailey Mengkudu sepanjang 36 meter dan Jembatan Bailey Penanggalan sepanjang 48 meter yang berada di Jalan Lintas Tengah ruas Kutacane-Blangkejeren, Kabupaten Aceh Tenggara.
Enam jembatan bailey di Provinsi Aceh rampung dibangun 100 persen pascabencana banjir dan longsor hingga Sabtu (27/12/2024). Keduanya berada pada koridor Lintas Tengah yang menjadi akses penting bagi aktivitas harian warga dan distribusi kebutuhan dasar. Proses pemasangan masing-masing jembatan memakan waktu 15 hari dan 6 hari.
Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah mengatakan, pemasangan jembatan Bailey ini menjadi bagian dari upaya pemulihan akses darat pascabencana di Aceh.
"Kembali berfungsinya ruas Lintas Tengah di dua titik tersebut, mobilitas warga dan distribusi logistik diharapkan kembali lancar pada masa tanggap darurat hingga transisi pemulihan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (1/1/2026).
Jembatan Mengkudu yang berlokasi di Desa Katimaju, Kecamatan Darul Hasanah, mulai dapat dilintasi sejak Selasa (23/12/2025).
Sementara itu, Jembatan Penanggalan di Desa Lawe Penanggalan, Kecamatan Ketambe, dibuka untuk umum pada Minggu (28/12/2025).
Pembangunan jembatan Bailey dilakukan di daerah terdampak bencana banjir dan tanah longsor, Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada Sabtu (27/12/2025). Secara teknis, Jembatan Mengkudu memiliki panjang 36 meter dengan lebar efektif 3,7 meter dengan tinggi rangka (truss) 2,4 meter. Jembatan ini memiliki kapasitas beban kendaraan maksimum 40 ton sehingga dapat dilalui kendaraan angkutan termasuk truk.
Sementara Jembatan Penanggalan memiliki bentang lebih panjang, yakni 48 meter dengan lebar efektif 3,7 meter dan tinggi truss 3,25 meter.
Jembatan ini dirancang mampu menahan beban kendaraan hingga 40 ton, sehingga dapat dilalui kendaraan logistik dan angkutan berat.
Adapun Jembatan Mengkudu dipasang di atas box culvert pada aliran air pegunungan menuju Sungai Alas. Sementara itu, Jembatan Penanggalan berada pada aliran air pegunungan menuju Sungai Alas.
Sebelum jembatan terpasang, akses di kedua lokasi sempat terputus akibat bencana. Warga terpaksa menggunakan lintasan darurat, termasuk melintas di atas box culvert eksisting, yang berisiko terhadap keselamatan dan menghambat distribusi kebutuhan pokok.
Selain pemasangan jembatan, Hutama Karya juga melakukan sejumlah pekerjaan pemulihan lainnya.
Di antaranya pembangunan tanggul dan pengalihan aliran sungai di sekitar Sungai Jembatan Natam untuk mengurangi risiko luapan yang kembali memutus akses.
Selain itu, dilakukan normalisasi sungai di wilayah Simpur Jaya guna mempercepat pembersihan material banjir.
Sisi konektivitas, perusahaan BUMN tersebut membuka akses jalan baru pada ruas Kutacane-Gayo Lues, membersihkan lumpur dan longsoran di Jalan Akses Ketambe dan Jalan Naga Kesiangan, serta membuka kembali jalur menuju sejumlah permukiman seperti Tangsaran, Tetumpun, Ise-ise, dan Rikit Gaib.
Dalam pelaksanaan pekerjaan perakitan modul jembatan Bailey, pembentukan oprit, pemasangan lantai jembatan, pengujian beban, serta pemasangan rambu, Hutama Karya mengerahkan alat berat berupa crane berkapasitas 50 ton dan excavator, serta melibatkan 10 personel dengan sistem kerja 12 jam untuk menjaga ketepatan waktu pekerjaan di lapangan.
Selama pekerjaan berlangsung, arus lalu lintas juga diatur secara bergiliran tanpa pembatasan jam lintas, serta disertai pengamanan area kerja dan penempatan rambu untuk menjaga keselamatan pengguna jalan.
Tag: #hutama #karya #rampungkan #pembangunan #jembatan #bailey #aceh #tenggara