Daya Beli Masih Tertahan, Masyarakat Kelas Menengah di Zona Rentan
Ilustrasi belanja, daya beli masyarakat. (SHUTTERSTOCK/MINERVA STUDIO)
16:32
1 Januari 2026

Daya Beli Masih Tertahan, Masyarakat Kelas Menengah di Zona Rentan

- Daya beli rumah tangga di Indonesia masih tertahan sejak pandemi Covid-19 sehingga aktivitas konsumsi masyarakat sulit menguat.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, konsumsi rumah tangga masih berkontribusi besar terhadap perekonomian dengan porsi sekitar 53,1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Namun, pertumbuhannya relatif tidak berubah, yakni bertahan di kisaran 4,9 persen selama tiga tahun berturut-turut.

"Kondisi daya beli rumah tangga saat ini cenderung tertahan, sehingga pemulihan belanja terasa lebih seperti bertahan daripada benar-benar menguat," ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (1/1/2026).

Menurut dia, stagnasi tersebut mencerminkan sikap kehati-hatian rumah tangga dalam mengelola pengeluaran di tengah tekanan biaya hidup dan ketidakpastian pendapatan.

Alhasil, konsumsi masih berjalan, tetapi belum mampu menciptakan dorongan pertumbuhan yang lebih kuat.

Kendati demikian, persepsi masyarakat menunjukkan daya beli belum merosot tajam. Hal ini terlihat dari indeks kepercayaan konsumen (IKK) sepanjang 2025 tercatat berada di kisaran 118 sampai 127 atau masih berada di zona optimistis.

Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada November 2025 menunjukkan, IKK berada pada level optimis sebesar 124, lebih tinggi dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 121,2.

Sementara dari sisi transaksi, Josua menyebut, perbaikan konsumsi masyarakat mulai terlihat pada paruh kedua 2025.

Ilustras belanja, belanja pakaian di mal.PEXELS/COTTONBRO STUDIO Ilustras belanja, belanja pakaian di mal.

Penjualan ritel pada Oktober 2025 tumbuh 4,3 persen secara tahunan dan diperkirakan meningkat menjadi 5,9 persen pada November 2025. Meski membaik, angka tersebut menunjukkan permintaan domestik masih termoderasi.

Josua bilang, tekanan struktural terhadap daya beli terlihat dari menyusutnya kelas menengah yang jumlahnya turun dari sekitar 57,33 juta orang pada 2019 menjadi sekitar 47,85 juta orang pada 2024.

"Ini menunjukkan semakin banyak rumah tangga berada di zona rentan ketika ada guncangan biaya hidup atau pendapatan," ucapnya.

Dari sisi pendapatan, kelas menengah kerap merasakan ruang belanja menyempit, terutama ketika kenaikan pendapatan tidak stabil antartahun, sementara biaya kebutuhan pokok dan layanan perkotaan bergerak naik.

Hal ini dikarenakan beberapa komponen kebutuhan hidup melonjak tinggi seperti perawatan pribadi dan jasa lainnya 12,49 persen, yang menunjukkan sebagian rumah tangga menghadapi kenaikan biaya pada pos tertentu jauh di atas inflasi umum.

Meskipun kenaikan gaji pekerja secara agregat sebenarnya masih sejalan, bahkan lebih tinggi dibanding inflasi dalam jangka panjang. Namun, kondisi tersebut tidak selalu dirasakan oleh kelas menengah perkotaan.

Sepanjang periode 2014-2025, inflasi tercatat naik sekitar 138 persen, sementara upah nominal meningkat lebih tinggi sekitar 177 persen.

"Jika dilihat jangka panjang secara agregat kenaikan gaji sejalan dengan inflasi, tetapi tidak selalu terasa demikian bagi kelas menengah perkotaan," tuturnya.

Tag:  #daya #beli #masih #tertahan #masyarakat #kelas #menengah #zona #rentan

KOMENTAR