Menanti Kehadiran Prabowo di Pembukaan Bursa 2026, Bakal Jadi Katalis IHSG?
- Pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) di awal tahun selalu menjadi perhatian pelaku pasar. Selain menandai dimulainya aktivitas bursa pada tahun berjalan, agenda ini kerap dimaknai sebagai dukungan pemerintah terhadap industri pasar modal nasional.
Pada pembukaan perdagangan BEI 2025 lalu, Presiden Prabowo Subianto tidak hadir dan diwakili oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Namun demikian, absennya Presiden dalam seremoni tersebut tidak menghambat laju pasar modal Indonesia.
Sepanjang 2025, kinerja bursa justru tercatat solid, ditandai dengan penguatan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang beberapa kali menembus rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH).
IHSG ditutup menguat 22,10 persen secara year to date (YTD) di level 8.644,26 pada Senin (29/12/2025). Sebelumnya, pada Senin (8/12/2025), indeks bahkan mencatatkan rekor ATH di level 8.710,69.
Penguatan tersebut diiringi meningkatnya partisipasi investor serta likuiditas transaksi, yang mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek pasar modal Indonesia.
Di tengah kinerja pasar yang menguat, analis pasar modal, Hans Kwee, menilai kehadiran pejabat negara dalam seremoni pembukaan perdagangan lebih bersifat simbolik.
Menurutnya, secara langsung kehadiran Presiden atau pejabat tinggi negara bukan faktor utama penentu pergerakan IHSG, tetapi dapat mencerminkan dukungan dan perhatian pemerintah terhadap pasar modal.
“Kehadiran Presiden itu menunjukkan concern pemerintah terhadap industri keuangan, terutama pasar modal, meskipun memang arah pasar tetap lebih ditentukan oleh fundamental ekonomi, valuasi saham, serta sentimen global dan domestik,” ujar Hans lewat keterangan pers, Selasa (30/12/2025).
Ia memandang penguatan IHSG sepanjang 2025 tidak terjadi secara instan dan bukan sekadar fenomena sesaat. Pasar sempat menghadapi tekanan cukup dalam pada awal tahun, termasuk koreksi tajam yang dipicu oleh sentimen global.
“Awal tahun indeks berada di kisaran 7.100. Pasar sempat melemah dan bahkan mengalami trading halt pada Maret, dipicu oleh dinamika global dan kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat,” paparnya.
Seiring berjalannya waktu, lanjut Hans, persepsi investor terhadap risiko global dan domestik dinilai membaik. Ketidakpastian eksternal tidak lagi dipandang seburuk sebelumnya, sementara pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar turut menopang penguatan indeks.
Di sisi lain, sentimen domestik juga didukung oleh optimisme terhadap perbaikan kebijakan dan komunikasi ekonomi.
“Pasar cenderung lebih tenang ketika ada pengakuan bahwa ekonomi menghadapi tantangan dan perlu diperbaiki. Ini memberikan ruang bagi investor untuk melihat peluang jangka menengah dan panjang,” beber Hans.
Penguatan IHSG juga sejalan dengan pertumbuhan basis investor pasar modal. Berdasarkan data BEI, per 29 Desember 2025 jumlah Single Investor Identification (SID) mencapai 20,32 juta, dengan jumlah investor saham menembus 8,59 juta. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 16.000 triliun, setara sekitar 70 persen Produk Domestik Bruto (PDB).
Likuiditas transaksi pun mencetak rekor baru, dengan rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp 18,06 triliun. Capaian ini menunjukkan semakin besarnya peran pasar modal dalam perekonomian nasional, baik sebagai sarana investasi masyarakat maupun sumber pendanaan bagi dunia usaha.
Dengan kinerja pasar modal yang solid sepanjang 2025, perhatian pelaku pasar kini beralih ke pembukaan perdagangan BEI 2026.
Pelaku pasar menantikan sinyal kebijakan serta arah dukungan pemerintah terhadap pengembangan pasar modal ke depan, termasuk kejelasan peran pasar modal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto pada pembukaan perdagangan tahun 2026 pun dinilai dapat menjadi sinyal penting dalam menjaga momentum positif pasar modal Indonesia pada tahun mendatang.
Tag: #menanti #kehadiran #prabowo #pembukaan #bursa #2026 #bakal #jadi #katalis #ihsg