Harga Emas dan Perak Rebound, Analis Sebut Dunia Hadapi “Metals War”
Harga emas dan perak bangkit setelah aksi jual tajam. Kenaikan ini terjadi di tengah ketatnya persaingan global dalam mengamankan pasokan logam strategis.()
09:44
31 Desember 2025

Harga Emas dan Perak Rebound, Analis Sebut Dunia Hadapi “Metals War”

– Harga emas dan perak kembali menguat pada Selasa (30/12/2025) waktu setempat, setelah mengalami tekanan jual tajam. Pergerakan ini memicu optimisme bahwa reli historis logam mulia masih memiliki ruang untuk berlanjut.

Kontrak berjangka emas naik kurang dari 1 persen ke kisaran 4.362 dollar AS per troy ons. Sementara itu, harga perak melonjak 8 persen setelah mencatatkan penurunan harian terbesar sejak 2021.

Kedua logam mulia tersebut berada di jalur untuk mencetak kenaikan tahunan terbesar sejak 1979. Kinerja ini mencerminkan kuatnya permintaan serta dinamika pasokan global yang semakin ketat.

Di saat yang sama, platinum dan tembaga juga diperdagangkan di dekat level rekor. Pergerakan ini terjadi di tengah perlombaan global dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) serta upaya negara-negara untuk menguatkan kembali basis manufaktur domestik.

“Kita sedang berada dalam perang logam,” ujar pendiri sekaligus CEO produsen dan distributor logam mulia Scottsdale Mint, Josh Phair, dikutip dari Yahoo Finance, Rabu (31/12/2025).

Phair menjelaskan, tren negara-negara yang mengamankan sumber daya logam dimulai dari emas. Pembelian besar-besaran oleh bank sentral mendorong harga emas melonjak 68 persen sejak awal tahun, setelah mencatatkan kenaikan 27 persen pada tahun sebelumnya.

Harga perak dan tembaga turut melonjak dalam beberapa bulan terakhir setelah Amerika Serikat memasukkan keduanya ke dalam daftar mineral kritis. Kedua logam tersebut dinilai vital bagi perekonomian dan keamanan nasional AS.

“Pusat-pusat data yang berkembang sangat cepat di Amerika Serikat membutuhkan perak untuk menjaga posisinya di dunia,” kata Phair.

Dari sisi pasokan, China yang merupakan negara penambang perak terbesar ketiga di dunia diperkirakan akan membatasi ekspor perak mulai 1 Januari. Kebijakan ini memicu kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan pasokan global.

“China membatasi ekspornya. Itu berarti negara-negara lain harus mencari sumber logam tersebut dari tempat lain,” ujar Phair.

Sekitar 60 persen perak dunia digunakan untuk kebutuhan industri, mulai dari panel surya, komponen pusat data, hingga baterai kendaraan listrik, menurut data Silver Institute.

Pada Oktober lalu, Samsung menandatangani kesepakatan senilai 7 juta dollar AS untuk mengamankan pasokan perak di masa depan dari sebuah tambang di Meksiko. Langkah ini menegaskan tingginya kebutuhan industri terhadap logam tersebut.

Meski sejumlah analis memperingatkan bahwa harga logam mulia berada pada level yang terlalu tinggi, Phair menilai harga perak masih tergolong murah jika disesuaikan dengan inflasi.

“Perak mungkin sudah terlalu murah dalam waktu yang lama, dan itu menjadi salah satu pendorong kenaikannya,” katanya.

Ia menambahkan, jika harga tertinggi perak pada 1980 sebesar 50 dollar AS disesuaikan dengan inflasi, nilainya kini berada di atas 200 dollar AS per troy ons.

Kenaikan harga logam sepanjang tahun ini juga terjadi seiring melemahnya dollar AS hampir 10 persen serta kebijakan Federal Reserve yang memangkas suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang 2025.

Tag:  #harga #emas #perak #rebound #analis #sebut #dunia #hadapi #metals

KOMENTAR