Mulai Batasi Turis, Ini Negara-Negara Eropa yang Kini Kurang Ramah Wisatawan
KOMPAS.COM – Eropa masih menjadi salah satu destinasi wisata paling populer di dunia. Namun di balik lonjakan kunjungan wisatawan internasional, sejumlah negara mulai menunjukkan sikap yang lebih tegas terhadap dampak pariwisata massal (overtourism).
Mulai dari aksi protes warga, kenaikan pajak wisata, hingga pembatasan jumlah pengunjung, beberapa negara Eropa kini dinilai semakin kurang ramah terhadap wisatawan dibandingkan beberapa tahun lalu.
Temuan tersebut diungkap dalam sebuah studi terbaru yang dikutip oleh Euro News dan dilaporkan kembali oleh Vietnam.vn, pada (7/6/26).
Penelitian yang dilakukan platform hiburan digital JB.com menilai tingkat sentimen antiwisata di berbagai negara berdasarkan sejumlah indikator, termasuk frekuensi demonstrasi, pemberitaan media, kebijakan pembatasan wisatawan, hingga rasio jumlah turis terhadap populasi lokal.
Dalam hasil penelitian tersebut, Spanyol menempati posisi teratas sebagai negara Eropa yang menunjukkan reaksi paling kuat terhadap pariwisata massal.
Baca juga: Berusia 400 Tahun, Pohon Ek Laukiai Jadi Pohon Terbaik Eropa 2026
Negara ini dalam beberapa tahun terakhir menghadapi gelombang protes warga di berbagai kota wisata populer seperti Barcelona, Mallorca, hingga Kepulauan Canary.
Warga setempat mengeluhkan meningkatnya harga sewa rumah, sulitnya mendapatkan hunian terjangkau, serta tekanan terhadap infrastruktur publik akibat membludaknya wisatawan. Pada saat yang sama, jumlah kunjungan internasional ke Spanyol terus meningkat.
Dalam empat bulan pertama tahun 2026, kedatangan wisatawan mancanegara dilaporkan naik 3,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kementerian Pariwisata Spanyol bahkan memperkirakan jumlah penumpang internasional yang datang pada Juni 2026 akan meningkat sekitar 7,1 persen dibandingkan tahun lalu. Kondisi inilah yang memperkuat kekhawatiran masyarakat lokal mengenai dampak jangka panjang pariwisata massal.
Di posisi berikutnya terdapat Italia, negara yang juga menghadapi tantangan besar akibat lonjakan wisatawan. Kota-kota ikonik seperti Venesia, Roma, dan Florence terus menjadi magnet wisata dunia, tetapi jumlah pengunjung yang sangat besar memunculkan berbagai kebijakan pembatasan baru.
Baca juga: Gerbang Baru ke Eropa, Vietjet Luncurkan Rute Hanoi-Praha Mulai Rp 7,2 Jutaan
Menurut studi JB.com, Italia menjadi salah satu negara dengan sentimen antiwisata tertinggi di Eropa.
Pemerintah daerah di sejumlah destinasi wisata mulai menerapkan langkah-langkah untuk mengendalikan arus pengunjung dan mengurangi tekanan terhadap situs bersejarah maupun kawasan permukiman warga.
Menariknya, meskipun muncul berbagai pembatasan, Italia diperkirakan tetap mencatat pertumbuhan wisatawan sekitar 12 persen pada Juni 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Prancis melengkapi daftar tiga negara Eropa yang dinilai paling menunjukkan reaksi terhadap pariwisata massal. Sebagai negara yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu tujuan wisata terpopuler di dunia, Prancis menghadapi tantangan serupa terkait kepadatan wisatawan dan tekanan terhadap fasilitas publik.
Penelitian JB.com menempatkan Prancis di peringkat ketiga berdasarkan tingkat perhatian media, kebijakan terkait wisatawan, dan respons masyarakat terhadap pertumbuhan sektor pariwisata.
Meski demikian, negara ini tetap diprediksi mengalami pertumbuhan kunjungan wisatawan sekitar 2,6 persen pada Juni 2026.
Baca juga: Turis Eropa Kini Pilih China, Tren Wisata ke Asia Tenggara Mulai Bergeser
Mengapa Warga Lokal Mulai Menolak Wisata Massal?
Fenomena penolakan terhadap wisatawan bukan berarti masyarakat Eropa antiwisata. Sebaliknya, banyak warga mengakui bahwa sektor pariwisata memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian lokal. Namun, pertumbuhan wisata yang terlalu cepat dinilai memicu sejumlah masalah sosial.
Beberapa isu yang paling sering dikeluhkan antara lain:
- Kenaikan harga sewa dan properti akibat maraknya penyewaan jangka pendek.
- Meningkatnya biaya hidup di kawasan wisata.
- Kepadatan transportasi dan ruang publik.
- Kerusakan lingkungan serta situs budaya.
- Berkurangnya kualitas hidup masyarakat lokal.
Akibatnya, berbagai kota di Eropa mulai menerapkan kebijakan baru seperti pembatasan kapal pesiar, pembatasan jumlah wisatawan harian, kenaikan pajak turis, hingga pengawasan lebih ketat terhadap akomodasi sewa jangka pendek.
Baca juga: Wisatawan di Eropa Akan Hadapi Pajak dan Aturan Baru Pada Musim Panas 2026
Siprus dan Albania Justru Dianggap Paling Ramah
Di tengah meningkatnya sentimen antiwisata di beberapa negara besar, penelitian JB.com menemukan bahwa Siprus dan Albania masih menjadi dua negara Eropa yang paling ramah terhadap wisatawan.
Kedua negara tersebut hampir tidak mencatat adanya demonstrasi besar terkait pariwisata dan relatif sedikit menerapkan pembatasan terhadap pengunjung internasional.
Kondisi ini membuat Siprus dan Albania semakin menarik bagi wisatawan yang ingin menikmati pengalaman liburan Eropa dengan suasana yang lebih santai dan tidak terlalu padat.
Baca juga: Tak Banyak Turis yang Tahu, Ini 5 Negara Hidden Gem di Eropa
Baca juga: Harga Tiket Pesawat Rute Asia-Eropa Naik hingga 70 Persen akibat Konflik Timur Tengah
Tag: #mulai #batasi #turis #negara #negara #eropa #yang #kini #kurang #ramah #wisatawan