Shalat Idul Adha with View di Garung Wonosobo, Bisa Menginap Gratis di Rumah Warga
Suasana Lapangan Garung Wonosobo Saat Shalat Idul Adha, Jumat (6/6/2025).(KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA)
04:49
26 Mei 2026

Shalat Idul Adha with View di Garung Wonosobo, Bisa Menginap Gratis di Rumah Warga

— Tradisi menyambut ribuan jemaah dari luar daerah saat pelaksanaan Shalat Idul Adha di Lapangan Garung, Dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo tidak hanya terlihat dari kesiapan lokasi ibadah. 

Warga setempat juga membuka rumah mereka untuk digunakan sebagai tempat beristirahat secara gratis bagi para pendatang. Para jemaah yang ingin datang lebih awal bisa menginap di rumah-rumah warga yang telah dipersiapkan panitia. 

Kepala Desa Butuh, Dzikroni, mengatakan kebiasaan menerima tamu yang datang untuk mengikuti Shalat Idul Adha sudah berlangsung dari tahun ke tahun dan menjadi bagian dari semangat kebersamaan warga.

Menurut dia, antusiasme masyarakat yang ingin merasakan salat berjemaah dengan latar pegunungan membuat banyak pengunjung datang lebih awal, bahkan beberapa hari sebelum pelaksanaan.

“Kalau pendatang biasanya memang sudah mulai datang dari jauh-jauh hari. Ada yang dari luar Jawa juga,” ujar Dzikroni.

Shalat Idul Adha di Lapangan Garung sendiri dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 27 Mei 2026. Lokasi tersebut dikenal luas karena menawarkan panorama langsung ke arah Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing sehingga dalam beberapa tahun terakhir menjadi tujuan wisata religi.

Dzikroni menjelaskan, jumlah rumah di Dusun Garung mencapai sekitar 950 unit. Dari jumlah itu, sebagian besar dapat dimanfaatkan untuk menampung tamu yang datang dan membutuhkan tempat singgah.

Namun, ia menegaskan rumah warga yang dibuka tersebut bukan sistem sewa seperti penginapan komersial. Namun, para jemaah diperbolehkan menginap tanpa membayar sepeserpun. 

“Bukan disewakan. Kalau diarahkan panitia itu untuk tempat istirahat dan tidak dipungut biaya. Istilahnya kalau warga di sini ada tamu itu senang,” kata dia.

Menurut Dzikroni, mekanisme penerimaan tamu dilakukan secara swadaya dan koordinatif melalui panitia serta warga yang bersedia menerima jemaah.

Model tersebut menjadi solusi karena jumlah jemaah yang datang setiap tahun jauh melampaui kapasitas lapangan.

Kapasitas Lapangan Garung diperkirakan sekitar 7.000 orang. Namun pada pelaksanaan tahun sebelumnya, jumlah jemaah disebut mencapai sekitar 30.000 orang sehingga banyak orang memilih datang lebih awal dan menginap.

Selain rumah warga, tersedia juga sejumlah penginapan di sekitar kawasan Garung bagi pengunjung yang menginginkan fasilitas komersial.

Meski begitu, rumah warga tetap menjadi pilihan yang banyak diminati karena memberi pengalaman lebih dekat dengan kehidupan masyarakat desa di kawasan lereng pegunungan.

Dzikroni menyebut tidak sedikit tamu yang datang bukan hanya untuk salat, tetapi juga menikmati suasana desa sebelum dan sesudah Idul Adha.

Bahkan, menurut dia, pengunjung yang datang berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Kalimantan dan Sulawesi, tetapi mulai ada yang datang dari luar negeri.

Karena tingginya jumlah kedatangan, Dzikroni mengimbau jemaah yang ingin mengikuti salat di Garung untuk datang lebih awal dan berkoordinasi dengan panitia setempat apabila membutuhkan tempat beristirahat.

Ia juga mengingatkan pengunjung agar menjaga kebersihan, menghormati warga, serta tetap menjaga kearifan lokal yang selama ini menjadi ciri khas Desa Butuh.

Bagi warga Garung, menerima tamu tanpa memungut biaya bukan sekadar menyediakan tempat singgah, melainkan bentuk penyambutan kepada sesama jemaah yang datang untuk beribadah di lereng dua gunung.

Tag:  #shalat #idul #adha #with #view #garung #wonosobo #bisa #menginap #gratis #rumah #warga

KOMENTAR