Wisatawan Perlu Bertanggung Jawab atas Keselamatan Diri saat Berwisata
- Wisatawan perlu bertanggung jawab atas keselamatan diri sendiri saat berwisata.
Tanggungjawab terhadap diri sendiri ini dapat dilihat dari kesiapan yang matang dalam menjaga keamanan diri sendiri, dan memastikan kelayakan perbekalan yang dibawa.
Kemudian, disiplin dalam memilih jasa pelayanan pariwisata yang telah memiliki sertifikat, izin resmi, serta lisensi khusus.
"Selain civitas akademika, pelaku usaha dan PHRI memegang peranan penting dalam menjaga keselamatan wisata. Tidak kalah penting, kita sendiri sebagai wisatawan dan calon wisatawan juga memiliki tanggung jawab yang sama."
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Martini Mohamad Paham, dalam opening remarks Kuliah Umum bertajuk “Keselamatan Wisata” di Politeknik Pariwisata Makassar, dikutip dari siaran resmi, Kamis (12/2/2026).
Baca juga: 3 Negara Tujuan Turis Indonesia yang Paling Laris Dijual Travel Agent
Menurutnya, wisatawan masa kini tidak lagi dapat bersikap pasif. Realisasi tanggungjawab terhadap diri sendiri ini dinilai sebagai cara paling efektif untuk meminimalisasi sekaligus memitigasi risiko kecelakaan saat berwisata.
Khususnya pada sektor transportasi pariwisata yang kerap menjadi perhatian publik.
"Keselamatan bukan sekadar pelengkap dalam aktivitas wisata, melainkan prasyarat mutlak untuk mewujudkan destinasi yang tangguh, berdaya saing, dan dipercaya wisatawan,” kata Martini.
Ia menambahkan, keselamatan wisata dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mulai dari kondisi cuaca dan karakteristik alam, hingga aspek teknis operasional serta faktor manusia atau human error.
Namun demikian, lanjutnya, standar keselamatan yang kuat hanya dapat terwujud melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan.
Sebagaimana yang diketahui, kabar kecelakaan yang dialami oleh wisatawan saat berwisata bukanlah permasalahan kemaren sore di Indonesia. Sejumlah insiden kerap terjadi, bahkan ada yang sampai menelan korban jiwa.
Baca juga: Sampah Ancam Pariwisata RI, Prabowo: “Turis Mau Datang Kalau Kotor?”
Seperti yang terjadi beberapa pekan belakangan, ada seorang pendaki usia 18 tahun Gunung Slamet yang ditemukan meninggal setelah hilang selama 17 hari.
Kemudian, ada pula insiden kapal wisata yang tenggelam di perairan Pulau Padar, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur pada akhir 2025 lalu.
Insiden ini menelan korban jiwa, yaitu pelatih Valencia B Fernando Martin Carreras bersama dua anaknya. Sementara satu anaknya hilang dan belum ditemukan.
Masih insiden kapal tenggelam, kasus selanjutnya yang pernah terjadi yaitu KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali pada Rabu (2/7/2025).
Akibat insiden tersebut, dari 65 orang yang ada di kapal, sebanyak empat orang dilaporkan meninggal dunia.
Keamanan jadi fokus utama berwisata
Dalam kesempatan yang sama, Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kementerian Pariwisata, Fadjar Hutomo, menambahkan bahwa daya tarik alam memang menjadi magnet awal sebuah destinasi.
Baca juga: AI Bikin Turis Kesasar ke Sumber Air Panas yang Tidak Pernah Ada
Meskipun begitu, keselamatan adalah fondasi yang menentukan keberlanjutan kunjungan wisatawan.
"Destinasi yang paling indah sekalipun dapat ditinggalkan jika tidak mampu memberikan rasa aman,” kata Fadjar.
Ia menekankan rasa aman bukan hanya sekadar elemen pendukung, melainkan bagian dari kualitas layanan yang menentukan reputasi destinasi di mata dunia.
Sementara itu, Kepala Subdirektorat Pengerahan Potensi dan Pengendalian Operasi Kecelakaan Transportasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Jumaril, menegaskan bahwa keselamatan wisata bukan semata tanggung jawab lembaga penanggulangan atau operator layanan.
Namun, katanya, keselamatan berwisata merupakan tanggung jawab kolektif seluruh pihak, termasuk pengunjung.
“Mahasiswa Poltekpar di bawah naungan Kemenpar yang kelak menjadi pemangku kebijakan harus menjadi role model dalam menanamkan budaya keselamatan sejak dini dan mampu memengaruhi lingkungan sekitarnya untuk berbudaya safety,” ujar Jumaril.
Dalam kesempatan yang sama, President of UID Foundation, Tantowi Yahya, menyampaikan bahwa Kementerian Pariwisata perlu terus berperan sebagai katalisator yang memiliki wibawa dalam menggerakkan seluruh elemen ekosistem pariwisata.
“Kementerian Pariwisata harus menjadi motivator, katalisator, dan penggerak yang mampu menggerakkan mesin pariwisata di daerah agar ekosistemnya tetap terjaga,” ujarnya.
Tag: #wisatawan #perlu #bertanggung #jawab #atas #keselamatan #diri #saat #berwisata