OpenAI Rilis Daybreak, AI Keamanan Siber Pesaing Claude Mythos
Ilustrasi Daybreak dari OpenAI.(OpenAI)
14:06
12 Mei 2026

OpenAI Rilis Daybreak, AI Keamanan Siber Pesaing Claude Mythos

- OpenAI resmi meluncurkan Daybreak, sebuah inisiatif keamanan siber berbasis kecerdasan buatan (AI), pada Senin (11/5/2026). 

Daybreak dirancang untuk membantu perusahaan mendeteksi dan memperbaiki berbagai celah keamanan (vulnerability) dalam perangkat lunak (software) secara otomatis.

Kehadiran Daybreak disebut-sebut menjadi jawaban OpenAI terhadap teknologi keamanan siber AI milik rivalnya, Anthropic, yakni Claude Mythos.

Belakangan, Claude Mythos ramai disorot karena diklaim mampu menemukan celah keamanan lebih cepat dibanding manusia.

Di sisi lain, teknologi tersebut juga menuai kontroversi karena disebut dapat menemukan celah keamanan yang belum diketahui pengembang (zero-day), dan dikhawatirkan bisa disalahgunakan untuk aktivitas peretasan.

Baca juga: Claude Mythos, AI yang Terlalu Berbahaya untuk Dirilis?

Berdasarkan informasi dari blog resmi OpenAI, teknologi Daybreak memanfaatkan berbagai model AI milik perusahaan, termasuk agen keamanan khusus bernama Codex.

OpenAI menjelaskan bahwa Daybreak dibangun dengan visi bahwa keamanan siber seharusnya tidak hanya fokus mencari dan menambal celah keamanan setelah ditemukan.

Menurut OpenAI, sistem keamanan perlu dirancang sejak awal agar software lebih tahan terhadap serangan siber.

“AI kini dapat membantu defender memahami codebase, mengidentifikasi kerentanan tersembunyi, memvalidasi perbaikan, menganalisis sistem yang belum dikenal, hingga mempercepat proses dari penemuan masalah ke remediasi,” tulis OpenAI.

Percepat proses analisis ancaman

Dalam praktiknya, Daybreak diklaim mampu membantu tim keamanan memprioritaskan ancaman paling berbahaya dan memangkas proses analisis dari hitungan jam menjadi menit.

Sistem ini juga disebut dapat membuat serta menguji patch keamanan langsung di repositori kode perusahaan.

Nantinya, sistem OpenAI akan membangun model ancaman (threat model) dari repositori kode tersebut melalui Codex Security.

Setelah itu, Daybreak akan memfokuskan analisis pada jalur serangan yang realistis dan kode dengan risiko tinggi.

Selain menguji ancaman serangan, Daybreak juga diklaim mampu mengirimkan hasil analisis beserta bukti audit ke sistem perusahaan untuk membantu proses verifikasi dan remediasi keamanan.

Mengandalkan model GPT

Ilustrasi OpenAI, pengembang ChatGPT.businessoutreach.in Ilustrasi OpenAI, pengembang ChatGPT.

Untuk mendukung berbagai kebutuhan keamanan siber, OpenAI menyediakan beberapa model AI berbeda, terutama dari aneka model GPT-5.5.

Baca juga: Ditakuti Menkeu dan Bankir, Begini Kemampuan Mythos AI Anthropic yang Kontroversial

GPT-5.5 dipakai untuk penggunaan umum, sementara GPT-5.5 with Trusted Access for Cyber digunakan untuk secure code review, analisis malware, validasi patch, hingga vulnerability triage (penyortiran celah keamanan).

Adapun GPT-5.5-Cyber dirancang untuk kebutuhan yang lebih sensitif seperti penetration testing, red teaming, hingga validasi keamanan terkontrol dengan pengamanan akun yang lebih ketat.

Meski pakai banyak model GPT bervariasi, OpenAI menegaskan model-model tersebut tetap dibekali sistem verifikasi, safeguard, dan kontrol akses guna mencegah penyalahgunaan AI untuk aktivitas siber berbahaya.

Dalam pengembangannya, OpenAI bekerja sama dengan sejumlah perusahaan keamanan siber supaya Daybreak relevan dengan pasar dan ancaman keamanan siber masa kini.

Beberapa perusahaan tersebut meliputi Cloudflare, Cisco, CrowdStrike, Palo Alto Networks, Oracle, Zscaler, Akamai Technologies, hingga Fortinet.

Saat ini, Daybreak belum tersedia secara umum bagi pengguna publik.

Namun, perusahaan yang tertarik dapat mengajukan permintaan pemindaian kerentanan atau menghubungi OpenAI melalui laman resmi Daybreak, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari OpenAI.

Tag:  #openai #rilis #daybreak #keamanan #siber #pesaing #claude #mythos

KOMENTAR