Kabel Internet di Selat Hormuz Jadi Mesin Uang Baru Iran?
Ilustrasi kabel bawah laut.(Telkom)
09:06
12 Mei 2026

Kabel Internet di Selat Hormuz Jadi Mesin Uang Baru Iran?

- Selama ini Selat Hormuz dikenal sebagai jalur penting distribusi minyak dunia. Namun kini, Iran mulai melihat kawasan tersebut sebagai “titik tekanan digital” global.

Kantor berita Tasnim, yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), menyerukan agar Iran mulai menghasilkan uang dari kabel fiber optik bawah laut yang melintasi Selat Hormuz.

Setidaknya ada tujuh kabel internet bawah laut internasional yang melintasi Selat Hormuz. Kabel-kabel ini menjadi jalur penting untuk koneksi data antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa, termasuk untuk pusat data cloud dan layanan internet global.

Menurut Tasnim, lebih dari 10 triliun dollar AS transaksi finansial global terjadi setiap hari melalui kabel internet bawah laut yang melewati jalur tersebut.

Baca juga: Konflik Timur Tengah Ganggu Proyek Kabel Internet Terpanjang di Dunia

3 langkah utama

Meski begitu, Iran merasa selama ini tidak mendapatkan manfaat ekonomi maupun keuntungan kedaulatan dari infrastruktur digital tersebut karena Selat Hormuz masih dipandang secara “tradisional”, hanya sebagai jalur kapal dan minyak.

Karena itu, dalam artikelnya yang berjudul “Three practical steps for generating revenue from Strait of Hormuz internet cables”, Tasnim mendorong pemerintah Iran mengambil tiga langkah utama.

  • Pertama, mengenakan biaya lisensi awal dan biaya pembaruan tahunan kepada perusahaan asing yang memakai kabel tersebut.
  • Kedua, mewajibkan perusahaan teknologi besar yang pakai kabel laun, seperti Meta, Amazon, dan Microsoft beroperasi di bawah hukum Iran.
  • Ketiga, memberikan kontrol eksklusif kepada perusahaan Iran untuk proses pemeliharaan dan perbaikan kabel bawah laut tersebut.

Outlet media Fars, yang juga terafiliasi IRGC, turut melaporkan hal senada. Fars menyebut Hormuz sebagai “jalan tol digital tersembunyi” yang bisa menjadi alat kekuatan baru Iran.

Dalam proposal yang diusulkan, perusahaan asing nantinya diwajibkan meminta izin dan membayar biaya transit untuk kabel internet yang melintasi kawasan tersebut.

Jika Iran benar-benar menerapkan kontrol atau pungutan baru, analis khawatir dampaknya bisa meluas ke sistem keuangan global, layanan cloud, hingga operasional perusahaan teknologi besar.

Seruan mengambil "pajak" kabel internet bawah laut di Selat Hormuz ini tampaknya meniru apa yang dilakukan Mesir. Negeri Piramida ini memang memungut biaya transit untuk kabel internet bawah laut yang menghubungkan Laut Merah dan Laut Mediterania.

Baca juga: Iran Terapkan “Tol Bitcoin” di Selat Hormuz, Kapal Tanker Bayar Rp 32 Miliar

Kabel-kabel tersebut melintasi daratan Mesir sebelum kembali masuk ke laut, dan perusahaan milik negara Telecom Egypt ikut terlibat dalam bisnis kabel sekaligus menarik biaya transit dari operator global.

Model inilah yang kini tampaknya ingin ditiru Iran untuk Selat Hormuz, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Seoul Economic Daily dan Iran International.

Tentang Iran dan Selat Hormuz

Peta Selat Hormuz. Selat Hormuz resmi ditutup. Letak Selat Hormuz. Selat Hormuz adalah.WIKIMEDIA COMMONS Peta Selat Hormuz. Selat Hormuz resmi ditutup. Letak Selat Hormuz. Selat Hormuz adalah.

Selat Hormuz ini merupakan perairan berkelok dengan lebar sekitar 33 kilometer di titik tersempitnya.

Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, yang kemudian menjadi jalur kapal menuju pasar global. Kedua negara tersebut memiliki kedaulatan atas wilayah perairan pesisir masing-masing.

Dalam hukum maritim internasional, setiap negara pantai berhak menguasai hingga 12 mil laut dari garis pantainya.

Oleh karena selat ini relatif sempit, wilayah laut Iran dan Oman saling tumpang tindih, sehingga sebagian besar jalur perairan itu berada dalam yurisdiksi hukum keduanya.

Baca juga: Iran Setop Pakai GPS AS, Beralih ke Sistem Navigasi China

Secara geografis dan hukum teritorial, Iran dan Oman memang memiliki kontrol langsung atas kawasan tersebut. Meski begitu, selat ini dipandang sebagai jalur internasional yang dapat dilalui semua kapal.

Namun pada kenyataannya, walau tidak “memiliki” selat secara penuh, Iran memegang posisi strategis yang signifikan. Negara itu menguasai seluruh garis pantai utara serta sejumlah pulau penting di dekat jalur pelayaran.

Keunggulan geografis ini memberi Teheran kemampuan pengawasan dan posisi militer yang kuat.

Saat ini, jalur ini banyak dilalui kapal tanker raksasa pengangkut minyak dan gas dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, UEA, dan Iran. Sekitar 20 persen konsumsi minyak global, setara 20 juta barrel minyak mentah dan bahan bakar per hari, melewati perairan ini.

Selain itu, seperempat atau lebih perdagangan gas alam cair (LNG) global juga melintasi koridor sempit tersebut.

Dalam situasi tegang, Iran secara teori dapat memantau bahkan berpotensi mengganggu lalu lintas kapal yang melewati selat tersebut. Namun, penutupan total akan melanggar hukum internasional dan berdampak besar pada ekonomi kawasan.

Tag:  #kabel #internet #selat #hormuz #jadi #mesin #uang #baru #iran

KOMENTAR