Riset Anthropic: Dibanding Programmer, Profesi Guru Lebih Susah Digantikan AI
- Kecanggihan Artificial Intelligence (AI) dalam mengotomatisasi tugas atau pekerjaan membuat teknologi ini kerap diramalkan bakal menggantikan peran manusia di sejumlah bidang atau profesi.
Menariknya, dari berbagai profesi, guru atau tenaga pendidik lebih susah digantikan AI dibanding programmer. Setidaknya demikian hasil riset dari para peneliti Anthropic, perusahaan teknologi yang mengembangkan model AI generatif Claude.
Baca juga: Ramalan 2028: AI Makin Pintar, Krisis dan Pengangguran Meningkat
Posisi guru dan programmer di hadapan AI
Institusi pendidikan sudah lekat dengan AI untuk membantu belajar. Akan tetapi, hasil riset Anthropic dalam laporan berjudul "Labor Market Impacts of AI: A New Measure and Early Evidence" menunjukkan tugas pengajaran guru di kelas belum bisa disentuh AI.
Sementara itu, tugas-tugas programmer seperti coding, membuat update, dan mengelola software, kini mulai banyak diambil alih secara otomatis oleh AI.
Dalam laporan tersebut, para peneliti mengidentifikasi potensi tugas apa saja yang bisa diotomatisasi AI. Selain itu, mereka juga membandingkan potensi itu dengan data riil pemakaian chatbot Claude oleh para profesional di dunia kerja saat ini.
Anthropic menyimpulkan kalau adopsi AI di dunia kerja nyatanya masih sangat jauh dari batas kemampuannya. Kemudian, laporan ini juga memetakan secara jelas profesi apa saja yang kini mulai "dijajah" AI dan mana yang masih tahan terhadap ancaman.
10 profesi yang terancam digantikan AI
Secara umum, dalam laporan Anthropic, profesi-profesi yang terancam digantikan AI adalah pekerjaan digital yang berkutat di depan layar. Salah satunya programmer yang menduduki peringkat teratas, berikut daftar lengkapnya.
- Programmer (74,5%): Posisi teratas ditempati oleh para programer. Mayoritas tugas mereka, coding, membuat update, dan mengelola software, kini mulai banyak diambil alih secara otomatis oleh AI.
- Customer service (70,1%): Interaksi dengan pelanggan, memproses pesanan, hingga menangani komplain, kini pelan-pelan mulai digantikan oleh chatbot AI.
- Data entry (67,1%): Pekerjaan repetitif seperti membaca dokumen sumber dan memasukkan datanya ke dalam sistem adalah "makanan empuk" buat AI.
- Spesialis rekam medis (66,7%): Mengompilasi, menyarikan, dan mengodekan data pasien kini masuk ke dalam tugas yang makin mudah diotomatisasi.
- Analis riset pasar dan pemasaran (64,8%): Tugas menyusun laporan, membuat grafik ilustrasi data, sampai menerjemahkan temuan riset rumit ke dalam teks tertulis kini sudah sangat lumrah dikerjakan mesin.
- Sales/tenaga penjualan grosir dan manufaktur (62,8%): Rutinitas menghubungi pelanggan untuk mendemonstrasikan produk dan meminta pesanan ternyata punya tingkat paparan AI yang cukup tinggi.
- Analis keuangan dan investasi (57,2%): Menganalisis informasi keuangan untuk memproyeksi kondisi bisnis, industri, atau ekonomi demi keputusan investasi kini bisa dieksekusi dengan cepat oleh LLM AI.
- Software QA/penguji perangkat lunak (51,9%): Pekerjaan memodifikasi software untuk memperbaiki bug atau meningkatkan performa rupanya mulai banyak didelegasikan ke AI.
- Analis keamanan informasi (48,6%): Melakukan penilaian risiko siber dan menguji keamanan pemrosesan data. Tugas krusial ini ternyata tak luput dari tren otomasi.
- Spesialis support komputer (46,8%): Menjawab pertanyaan pengguna terkait pengoperasian software atau hardware demi menyelesaikan masalah teknis kini makin sering ditangani oleh agen AI.
Baca juga: Saat AI Claude Bantu Matematikawan Menyelesaikan Soal Sulit…
Daftar profesi yang susah digantikan AI
Anthropic mencatat ada sekitar 30 persen pekerja di Amerika Serikat yang menduduki level paparan AI "nol persen". Secara umum, pekerjaan itu membutuhkan interaksi sosial langsung sehingga susah digantikan oleh mesin, berikut daftarnya.
- Guru dan tenaga pendidik: AI sekarang memang sudah bisa diandalkan untuk menilai PR atau tugas siswa. Namun, untuk urusan mengelola ruang kelas secara langsung, pekerjaan ini murni ranah manusia yang belum bisa disentuh mesin.
- Perawat dan praktisi kesehatan: Profesi perawat terdaftar memiliki tingkat paparan AI yang sangat minim pada kuadran proyeksi lapangan kerja.
- Pekerja lapangan dan kasar: Ini termasuk pekerja sektor pertanian (memangkas pohon, mengoperasikan traktor mesin) , mekanik sepeda motor , koki dan tukang cuci piring, penjaga pantai, bartender , hingga penjaga ruang ganti baju.
- Pengacara litigasi: Pekerjaan legal spesifik yang mengharuskan perwakilan klien secara lisan di ruang sidang pengadilan juga masih jauh dari jangkauan otomasi AI.
Pekerjaan gaji tinggi belum tentu tak tergantikan AI
Satu fakta menarik dari laporan ini adalah pekerja yang paling rawan tergusur AI ternyata justru berasal dari kalangan profesional berpendidikan tinggi dan bergaji besar.
Data menunjukkan bahwa pekerja yang sangat terpapar AI didominasi oleh lulusan sarjana (37,1 persen) dan pascasarjana (17,4 persen).
Rata-rata gaji mereka (32,69 dollar AS/jam) juga jauh lebih tinggi ketimbang pekerja yang tidak terpapar AI sama sekali (22,23 dollar AS/jam).
Baca juga: Pabrik Micin Ini Bantu AI Jadi Makin Cerdas
Meski daftar di atas terlihat meresahkan, ada kabar baik dari riset ini. Sampai laporan tersebut dirilis, Anthropic sama sekali tidak menemukan adanya lonjakan angka pengangguran yang masif, bahkan di kalangan profesi yang paling rentan sekalipun.
Jadi, ancaman PHK massal gara-gara AI tampaknya belum akan menjadi realitas dalam waktu dekat.
Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno. Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.
Tag: #riset #anthropic #dibanding #programmer #profesi #guru #lebih #susah #digantikan