F5 Networks Indonesia Punya 2 ''Senjata'' Baru untuk Tangkal Risiko AI
– Perusahaan keamanan sistem penghubung aplikasi (API) asal Amerika Serikat, F5 Networks, memperkenalkan dua pendekatan baru untuk mengamankan penggunaan kecerdasan buatan (AI) perusahaan di Indonesia.
Kedua pendekatan yang bertipe layanan (service) tersebut adalah AI Guardrails dan AI Red Team.
Country Head of Solutions Engineering F5 Networks Indonesia, Danang Wijanarko mengatakan kedua solusi ini hadir untuk meminimalisir risiko yang ditimbulkan dari pemakaian AI di ekosistem API dan cloud suatu perusahaan.
Baca juga: F5 Rilis Guardrails dan Red Team, Tameng untuk Amankan Sistem AI Enterprise
"AI memang membawa efisiensi besar dan kini banyak diadopsi. Namun di sisi lain, teknologi ini membuka risiko baru yang sebenarnya belum dipahami organisasi" ujar Danang kepada KompasTekno di kantor F5 Networks Indonesia, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).
"Risiko tersebut bisa timbul karena AI itu non-deterministik, tidak ada polanya. Dia bersifat generatif. Kita masukkan apa saja, dia akan jawab dan akan terima, baik itu berbahaya atau tidak. Nah, ini yang harus diatur dan diawasi," imbuh Danang.
AI Guardrails, pagar pengaman sistem AI
Country Head of Solutions Engineering F5 Networks Indonesia, Danang Wijanarko menjelaskan AI Guardrails di Media Briefing di kantor F5 Networks Indonesia, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).
Sederhananya, AI Guardrails bisa dipahami sebagai “pagar pengaman” yang dipasang sebelum pengguna terhubung ke sistem AI.
Danang menyebut saat ini, banyak perusahaan di Indonesia menggunakan model AI yang berjalan di internet (cloud) bersifat publik.
Agar AI bisa menjawab pertanyaan sesuai kebutuhan bisnis, sistem biasanya menggabungkan pertanyaan pengguna dengan data internal perusahaan. Metode ini dikenal sebagai Retrieval Augmented Generation (RAG).
Masalahnya, proses ini berisiko membuat data sensitif yang disimpan dalam database perusahaan tidak disaring (filter) dan ikut terkirim ke luar perusahaan dan sistem cloud AI.
"Di sini muncul istilah oversharing, di mana data perusahaan yang tak seharusnya tersimpan baik malah bocor dan diterima sekaligus diproses oleh AI. Biasanya, oversharing ke AI ini tidak disadari oleh suatu perusahaan," jelas Danang.
Baca juga: Platform Keamanan Aplikasi F5 Diperbarui, Tutup Celah Serangan Siber
Danang melanjutkan, AI Guardrails berperan mengurangi oversharing. Sistem ini bekerja untuk mengontrol dan mengawasi alur data yang bergerak dari perusahaan ke sistem AI, begitu juga sebaliknya.
Lebih lengkapnya, AI Guardrails punya tugas seperti ini:
- Memeriksa pertanyaan (prompt) sebelum dikirim ke AI
- Mencegah kebocoran data sensitif
- Memblokir percobaan manipulasi sistem (prompt injection)
- Mengatur siapa saja yang boleh mengakses fitur tertentu
Dengan kata lain, AI Guardrails bisa memastikan perusahaan agar tetap bisa memanfaatkan AI tanpa kehilangan kendali atas data mereka.
AI Red Team, penguji ketahanan sistem
Fungsi AI Red Team bikinan F5 Networks, ditampilkan dalam acara Media Briefing di kantor F5 Networks Indonesia, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).
Nah, jika AI Guardrails adalah pagar pengaman, maka AI Red Team adalah simulasi serangan yang dibuat F5 Networks untuk menguji ketahanan sistem.
Dalam dunia keamanan siber, “red team” berarti tim yang berpura-pura menjadi peretas (hacker) untuk mencari celah sebelum penjahat siber sungguhan menemukannya.
Dalam konteks AI, simulasi pengujian ini mencakup:
- Menguji apakah AI bisa dimanipulasi lewat pertanyaan tertentu
- Menguji apakah data rahasia bisa “dipancing” keluar
- Menguji apakah sistem bisa dilewati dengan trik tertentu
Danang menjelaskan bahwa serangan pada AI sejatinya berbeda dengan serangan aplikasi biasa.
"Sebab, serangan AI tidak sekadar virus atau malware, melainkan bisa bertipe manipulasi terhadap logika, sistem bisnis, dan cara kerja sistem suatu perusahaan. Artinya, sistem pengamanannya juga akan berbeda," tutur Danang.
Baca juga: F5: Adopsi Agentic AI Melonjak, Keamanan API Indonesia Masih Tertinggal
Danang tak menampik bahwa AI sebenarnya bisa mengelabui sistem pengaman, dalam hal ini AI Guardrails yang sudah berjalan.
Namun untuk meminimalisir risiko tersebut, F5 Networks rutin melakukan simulasi hingga lebih dari 10.000 teknik serangan AI baru setiap bulannya.
"Simulasi teknik serangan ini akan terus dilakukan rutin setiap bulan, sehingga database pengaman AI (AI Guardrails) makin kaya dan pintar, sehingga nantinya tak ada celah lagi bagi risiko AI untuk masuk dan menyusup ke sistem perusahaan," klaim Danang.
Adopsi AI tinggi, tingkat kesadaran rendah
Country Head of Solutions Engineering F5 Networks Indonesia, Danang Wijanarko menjelaskan bagaimana AI Guardrails bisa mengawasi data yang bergerak dari perusahaan ke sistem AI, dijelaskan di Media Briefing di kantor F5 Networks Indonesia, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).
Danang mengatakan kedua solusi di atas penting dan relevan untuk Indonesia. Sebab, tingkat penggunaan dan adopsi AI di Tanah Air cukup tinggi.
Namun dari sisi kesiapan terkait risiko keamanan siber (cybersecurity readiness), tingkat kesadaran Indonesia disebut Danang sangat rendah.
Danang mengatakan sebenarnya sudah banyak perusahaan yang memasang firewall untuk melindungi jaringan dan aplikasi web. Namun, perlindungan tersebut belum tentu cukup untuk menghadapi risiko baru di level API dan AI.
“Implementasi security di layer 7 seperti WAF (Web Application Firewall) itu berbeda dengan security di level API. Dan berbeda lagi di level AI. Itu konteks yang berbeda, sehingga perlu pengamanan ekstra,” kata Danang.
Baca juga: F5 Hadirkan PoP Baru di Indonesia, Dongkrak AI dan Keamanan Aplikasi Lokal
Danang melanjutkan AI sendiri sejatinya memang tak berbahaya dan bisa digunakan untuk produktivitas kerja.
Namun, teknologi ini harus diawasi dan dikendalikan oleh perusahaan, sehingga pihak yang tidak bertanggung jawab tak memakainya untuk menghasilkan malware, mengeksploitasi sistem, atau mengakses data sensitif.
"AI Guardrails dan AI Red Team merupakan dua solusi penting supaya perusahaan tetap bisa inovatif dan berbisnis dengan bantuan AI, namun tak mengorbankan sisi keamanan," pungkas Danang.
Tag: #networks #indonesia #punya #senjata #baru #untuk #tangkal #risiko