Bos OpenAI Setarakan AI dengan Makanan Manusia selama 20 Tahun
CEO OpenAI Sam Altman saat hadir sebagai pembicara di acara Express Adda di sela-sela KTT India-AI Impact 2026, 20 Februari 2026.(YouTube IndianExpress)
14:09
23 Februari 2026

Bos OpenAI Setarakan AI dengan Makanan Manusia selama 20 Tahun

- Isu krisis lingkungan akibat konsumsi listrik dan air yang masif oleh pusat data (data center) kecerdasan buatan (AI) kian menjadi sorotan tajam. Namun, CEO OpenAI, Sam Altman, justru melontarkan pembelaan yang memicu kontroversi.

Altman mengeklaim bahwa chatbot AI seperti ChatGPT sebenarnya jauh lebih efisien secara energi ketimbang manusia dalam memproses informasi.

Pernyataan tersebut disampaikan Altman saat hadir sebagai pembicara di acara Express Adda di sela-sela KTT India-AI Impact 2026, pekan lalu.

Lantas, apa dasar argumen Altman dan mengapa pernyataannya memicu reaksi keras di dunia maya? 

Altman menyebut bahwa diskusi seputar konsumsi energi ChatGPT kerap tidak adil. Menurut dia, publik hanya menyoroti besarnya listrik untuk melatih model AI, tanpa melihat seberapa besar "biaya energi" yang dihabiskan untuk mencetak satu manusia cerdas.

"Butuh banyak energi juga untuk melatih manusia. Butuh waktu hidup 20 tahun dan semua makanan yang Anda makan selama waktu itu sebelum Anda menjadi pintar," dalih Altman.

Dengan logika tersebut, Altman meyakini jika diukur dari tingkat efisiensi energi untuk sekadar menjawab satu pertanyaan spesifik, AI kemungkinan besar sudah mengejar atau bahkan melampaui efisiensi manusia.

Dalam kesempatan itu, ia juga membantah tegas rumor yang menyebut bahwa satu kueri pencarian di ChatGPT menguras energi setara dengan 1,5 kali pengisian daya baterai iPhone.

"Tidak mungkin sebanyak itu," tampiknya, seperti dikutip KompasTekno dari IndianExpress.

Baca juga: Marina Budiman Jadi Wanita Terkaya di Indonesia, Punya Bisnis Data Center

Sebut isu boros air "berita palsu"

Tak hanya soal listrik, Altman juga menepis kekhawatiran mengenai jutaan liter air yang dikuras untuk mendinginkan server AI. Ia menyebut klaim bahwa satu kueri ChatGPT membutuhkan 17 galon air adalah berita bohong.

"Itu sama sekali tidak benar," tegas Altman.

Ia mengeklaim isu tersebut muncul karena ketidaktahuan publik bahwa pusat data saat ini sudah mulai meninggalkan sistem pendingin evaporasi yang rakus air.

Yang menarik, Altman juga sempat menyindir ambisi saingannya, Elon Musk, yang berniat membangun pusat data di luar angkasa.

Menurut dia, ide tersebut sangat konyol untuk dekade ini mengingat tingginya biaya peluncuran roket dan sulitnya memperbaiki chip GPU yang rusak di orbit.

Baca juga: Borosnya Listrik AI GPT-5, Setara Produksi Harian Dua PLTN

Hitungan matematis netizen patahkan klaim Altman

Alih-alih meredakan kritik, analogi Altman justru menjadi bumerang di media sosial X (dahulu Twitter). Sejumlah pakar dan praktisi teknologi ramai-ramai mengkritik bos pembuat ChatGPT tersebut dengan hitungan matematis yang telak.

Seorang pengguna X memaparkan bahwa manusia rata-rata mengonsumsi 2.000 kalori per hari. Jika diakumulasi selama 20 tahun, total energi makanan yang dihabiskan hanya sekitar 17 Megawatt-jam (MWh) atau setara 17.000 kWh.

Sebagai perbandingan, proses pelatihan model GPT-4 diperkirakan menyedot listrik hingga 50 Gigawatt-jam (GWh). Angka tersebut setara dengan energi "pelatihan" 3.000 manusia untuk satu kali siklus pemodelan AI.

"Membandingkan perkembangan manusia dengan pelatihan model AI adalah pernyataan yang buta nada dan secara strategis sangat sembrono," kritik salah satu pengembang AI di platform X.

Baca juga: Tren AI Bikin Konsumsi Air Dunia Meningkat, Kok Bisa?

Kendati menuai hujatan, Altman sebelumnya memang mengakui bahwa ancaman lonjakan konsumsi listrik secara global akibat AI memang nyata.

Oleh karena itu, ia mendesak agar industri teknologi segera berinvestasi dan beralih ke sumber energi bersih seperti nuklir, angin, atau surya dalam waktu dekat.

Tag:  #openai #setarakan #dengan #makanan #manusia #selama #tahun

KOMENTAR