CEO Microsoft Satya Nadella Terdengar Cemas terhadap Masa Depan AI dan Risiko Gelembung Teknologi Global
Satya Nadella, CEO Microsoft (Futurism)
20:36
21 Januari 2026

CEO Microsoft Satya Nadella Terdengar Cemas terhadap Masa Depan AI dan Risiko Gelembung Teknologi Global

- Kepala eksekutif Microsoft, Satya Nadella, menyuarakan nada kehati-hatian terhadap masa depan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dengan menyinggung risiko munculnya gelembung teknologi, yakni kondisi ketika lonjakan investasi dan valuasi tidak diimbangi oleh manfaat ekonomi riil. Pernyataan ini mencuat di tengah euforia global terhadap AI yang masih mendorong arus modal besar ke sektor teknologi.

Kecemasan tersebut disampaikan Nadella saat berbicara dalam forum World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. Menurut laporan Futurism, Nadella menilai keberhasilan jangka panjang AI tidak bisa diukur semata dari besarnya belanja modal dan ekspektasi pasar, melainkan dari sejauh mana teknologi ini benar-benar digunakan secara luas dan menghasilkan dampak nyata di berbagai sektor ekonomi.

Nadella menegaskan bahwa AI berpotensi berubah menjadi gelembung spekulatif apabila manfaatnya hanya terkonsentrasi di industri teknologi.

"Agar ini tidak menjadi gelembung secara definisi, manfaat dari teknologi ini harus tersebar jauh lebih merata," ujar Nadella, seperti dikutip Financial Times.

Nadella menilai bahwa cara paling sederhana membaca risiko gelembung AI adalah dengan melihat siapa yang menikmati hasilnya.

"Indikasi bahwa ini adalah gelembung adalah jika hanya perusahaan teknologi yang mendapatkan manfaat dari kebangkitan AI," katanya.

Sebagai ilustrasi, Nadella menyinggung pemanfaatan AI di industri farmasi. Menurutnya, teknologi tersebut tidak harus selalu menemukan "molekul ajaib," tetapi cukup memberikan kontribusi nyata, seperti mempercepat uji klinis obat atau meningkatkan efisiensi proses pengembangan produk secara keseluruhan.

Meski bernada waspada, Nadella tetap menyatakan keyakinannya terhadap potensi jangka panjang AI.

"Saya jauh lebih yakin bahwa ini adalah teknologi yang akan dibangun di atas fondasi komputasi awan dan komputasi perangkat mobile, menyebar lebih cepat, meningkatkan produktivitas secara signifikan dan berkelanjutan, serta membawa surplus lokal dan pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia," ujarnya.

Nada kehati-hatian ini muncul bersamaan dengan komitmen Microsoft untuk terus menginvestasikan puluhan miliar dolar AS dalam pembangunan pusat data dan infrastruktur AI. Di sisi lain, pernyataan Nadella mencerminkan tekanan yang dihadapi perusahaan teknologi besar untuk membuktikan bahwa investasi masif tersebut benar-benar menghasilkan nilai tambah ekonomi.

Dalam beberapa kesempatan terakhir, Nadella juga bersikap defensif terhadap kritik publik mengenai kualitas konten yang dihasilkan AI. Awal bulan ini, dia meminta publik berhenti menggunakan istilah AI "slop" untuk menyebut teks, gambar, dan video berkualitas rendah hasil kecerdasan buatan, istilah yang kemudian dinobatkan Merriam-Webster sebagai kata paling populer sepanjang tahun karena mencerminkan meluasnya perdebatan publik global mengenai mutu konten buatan AI.

Kekhawatiran Nadella sejalan dengan meningkatnya keraguan di kalangan industri teknologi global. Sejumlah analis menilai bahwa, meskipun ledakan AI telah berlangsung beberapa tahun, teknologi ini belum secara konsisten menghasilkan lonjakan produktivitas yang signifikan di luar sektor teknologi itu sendiri.

Nada serupa juga muncul dari OpenAI. Chief Financial Officer OpenAI, Sarah Friar, menyatakan bahwa perusahaan akan memfokuskan strategi pada adopsi praktis AI sepanjang 2026.

"Fokus kami adalah bagaimana orang, perusahaan, dan negara menggunakan AI dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya, menandai pergeseran industri dari ambisi besar menuju pembuktian manfaat nyata.

Editor: Candra Mega Sari

Tag:  #microsoft #satya #nadella #terdengar #cemas #terhadap #masa #depan #risiko #gelembung #teknologi #global

KOMENTAR