Bos Samsung Ungkap 3 Kunci agar AI Dipercaya Pengguna
- Artificial Intelligence (kecerdasan buatan, AI) semakin menjadi bagian dalam hidup manusia. Penggunaan AI makin marak sejak hadirnya ChatGPT.
Namun, masalah sesungguhnya yang hadir bukan hanya soal infrastruktur, data, atau segala macam hal teknis. Persoalan "kepercayaan" juga menjadi momok di industri ini. Faktor "kepercayaan" pengguna akan menjadi kunci agar AI bisa semakin "membumi".
Dalam forum bertajuk "In Tech We Trust? Rethinking Security and Privacy in the AI Age" yang digelar dalam acara Samsung The First Look di Consumer Electronics Show (CES) 2026) pekan lalu, riset Edelman menunjukkan adanya kesenjangan tingkat kepercayaan antara teknologi secara umum dan AI.
Jurnalis KOMPAS.com Yudha Pratomo hadir langsung dalam forum yang digelar di Las Vegas, Amerika Serikat, tersebut.
Artinya, meskipun masyarakat terbiasa menggunakan teknologi digital, AI masih dipandang dengan kecurigaan.
Hal inilah yang menjadi sorotan. Head of Security Governance Lab. APC Samsung Shin-chul Baik menilai, kepercayaan pada kecerdasan buatan (AI) tidak cukup dibangun lewat klaim atau janji, tetapi harus bisa dirasakan secara nyata oleh pengguna.
Dalam forum di Samsung The First Look 2026, Selasa (6/1/2026) para panelis sepakat bahwa kepercayaan adalah salah satu kunci AI bisa membumi.
Menurut Shin, konsumen membutuhkan faktor yang membuat AI bisa dipercaya dan terlihat dalam penggunaan AI sehari-hari, terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran soal privasi dan keamanan data.
Shin mengatakan, setidaknya ada tiga sinyal utama yang menentukan apakah pengguna bisa mempercayai AI.
Pertama adalah prediktabilitas, yaitu kemampuan AI untuk bekerja secara konsisten dan transparan, sehingga pengguna merasa memegang kendali, bukan dikendalikan oleh sistem.
Kedua, perlindungan data secara lokal, khususnya untuk menangani informasi sensitif dan data pribadi.
"Ketiga, adalah ekosistem yang mampu melindungi dirinya sendiri, di mana perangkat saling memantau dan mengautentikasi satu sama lain untuk menghadapi potensi ancaman," kata Shin.
Shin menambahkan, di sinilah Samsung mengambil peran, salah satunya lewat fitur keamanan Samsung Knox.
Knox dirancang sebagai inti keamanan di ekosistem perangkat Samsung. Perlindungan Knox bahkan hadir di chipset, di mana ini adalah komponen dasar yang dimiliki oleh berbagai perangkat.
Samsung juga melengkapinya dengan Knox Matrix, sebuah sistem keamanan lintas perangkat yang memungkinkan produk-produk dalam satu ekosistem saling mengenali, mengautentikasi, dan menjaga satu sama lain.
Lewat Knox Matrix, perangkat Samsung tidak bekerja sendiri-sendiri. Semua perangkat dalam satu ekosistem bisa saling memantau.
Jika ada satu perangkat yang terdeteksi memiliki potensi masalah keamanan, sistem akan langsung memberi peringatan ke perangkat lain, sehingga pengguna bisa lebih cepat menyadari dan mencegah risiko yang lebih besar.
"Jadi dengan Samsung Knox, saya rasa selama lebih dari 10 tahun terakhir, kami telah menunjukkan hal ini dengan rekam jejak yang terbukti bahwa dengan platform keamanan yang kuat, kami dapat menangani informasi sensitif ini dengan aman," kata Shin.
Pandangan serupa diutarakan CEO Open Machine Allie K. Miller dalam forum yang sama. Ia sepakat bahwa kepercayaan adalah prasyarat utama adopsi AI.
"Inovasi secanggih apa pun tidak akan diterima jika pengguna merasa tidak aman atau tidak memahami cara kerja teknologi yang mereka gunakan," kata Miller.
Karena itu, menurut Miller, kepercayaan pada AI harus dibangun sejak awal, bukan sebagai tambahan di belakang.
Kesenjangan kepercayaan di berbagai kelompok
Kesenjangan kepercayaan terhadap AI semakin kompleks karena tidak merata di berbagai kelompok.
Edelman mencatat adanya perbedaan penerimaan AI berdasarkan kelas ekonomi, wilayah, usia, dan industri. Kelompok berpendapatan tinggi lebih terbuka terhadap AI dibandingkan kelompok berpendapatan rendah.
Negara berkembang justru cenderung lebih menerima AI dibandingkan negara maju. Dari sisi usia, generasi muda relatif lebih terbuka, meski di Amerika Serikat hanya sekitar 40 persen Gen Z yang menyatakan percaya pada AI.
Sementara itu, sektor teknologi dan jasa keuangan menjadi industri yang paling menerima AI, berbanding terbalik dengan industri tradisional seperti makanan dan transportasi.
Di sisi lain, kekhawatiran pengguna terhadap AI masih cukup tinggi. Studi menunjukkan lebih dari 70 persen pengguna khawatir terhadap cara data mereka diproses dan takut kehilangan kendali atas jejak digital mereka.