Bisnis Baru Isuzu, Lakukan Rekondisi Mesin Nyasris Seperti Mesin Baru
Mesin multi bahan bakar yang diluncurkan Isuzu yang bisa beradaptasi dengan beraneka bahan bakar. (dok. Isuzu). (Dony)
06:04
1 Januari 2026

Bisnis Baru Isuzu, Lakukan Rekondisi Mesin Nyasris Seperti Mesin Baru

Isuzu Motors melakukan langkah strategis bisninya dengan memperluas inisiatif remanufaktur mesin truk bekas guna memperpanjang masa pakai kendaraan serta mempercepat perputaran penjualan domestik. Upaya ini sekaligus menjadi langkah strategis untuk mempersiapkan infrastruktur kendaraan berbasis perangkat lunak di masa mendatang.

Jenama kendaraan komersial asal Jepang tersebut menargetkan pengiriman 8.000 unit mesin rekondisi setiap tahun pada 2030, yang mencerminkan peningkatan sekitar 60 persen dibandingkan capaian 2022 sebesar 5.120 unit mesin.

Isuzu tercatat sebagai satu-satunya produsen Jepang yang melakukan produksi massal mesin rekondisi dalam jumlah signifikan setiap tahun dengan seluruh proses dilakukan secara internal—suatu pendekatan yang relatif jarang di industri otomotif.

Proses remanufaktur dijalankan di fasilitas khusus Isuzu yang berlokasi di Hokkaido, Jepang. Mesin-mesin truk rusak dari berbagai daerah dikirim ke pabrik ini untuk menjalani pembongkaran menyeluruh. Komponen-komponen mesin kemudian disortir berdasarkan tingkat kelayakan, di mana bagian yang masih dapat digunakan menjalani proses pembersihan, pemeriksaan tingkat keausan, dan rekondisi jika diperlukan.

Selanjutnya, komponen-komponen tersebut dirakit ulang menggunakan metode yang setara dengan produksi mesin baru. Sebelum didistribusikan, mesin hasil rekondisi menjalani uji standar yang setara dengan pengujian mesin baru guna memastikan kualitasnya.

Sebagai langkah strategis untuk meningkatkan volume produksi, Isuzu merencanakan pengotomasian sejumlah proses manufaktur. Selain itu, perusahaan juga bertujuan untuk meningkatkan rasio penggunaan ulang komponen hingga mencapai 60–70 persen, naik dari posisi saat ini yang berada di kisaran 40–50 persen.

Program remanufaktur mesin ini pertama kali dimulai pada 2010, dengan fasilitas khusus yang mulai beroperasi sejak 2015. Pabrik Isuzu di Hokkaido memiliki kapasitas untuk menangani mesin truk dari model tahun 1999, mencakup 184 tipe mesin untuk 19 model kendaraan yang berbeda. Komponen hasil rekondisi diklaim mampu mencapai kondisi nyaris setara dengan mesin baru menurut keterangan perwakilan kantor pusat bisnis Isuzu di fasilitas tersebut.

Mengatasi kendala umum dalam perbaikan kompleks mesin yang biasanya dilakukan di bengkel lokal dan memerlukan waktu lebih dari satu bulan, Isuzu menerapkan strategi penyimpanan stok mesin rekondisi di Prefektur Tochigi untuk berbagai model kendaraan.

Langkah ini memungkinkan truk kembali beroperasi dalam kurun waktu beberapa hari hingga dua minggu saja, sehingga mengurangi dampak finansial bagi operator kendaraan komersial.

Secara umum, kendaraan niaga kerap menempuh jarak jauh dalam waktu singkat, menyebabkan tingkat keausan mesin lebih cepat dibandingkan kerusakan pada bagian bodi. Dalam banyak kasus, bagian luar kendaraan masih dalam kondisi baik, sehingga penggantian mesin menjadi solusi perbaikan yang paling efisien.

Mesin hasil rekondisi juga memperpanjang usia pakai kendaraan lama, termasuk model yang sudah tidak lagi diproduksi oleh pabrikan. Hal ini menjadikan Isuzu sebagai alternatif pilihan yang lebih kompetitif bagi konsumen. Di sisi lain, Isuzu juga tengah mengembangkan kendaraan berbasis perangkat lunak atau software-defined vehicles.

Sistem ini memungkinkan fitur dan fungsi kendaraan untuk diperbarui secara digital setelah penjualan guna meningkatkan kapabilitas kendaraan. Apabila pembaruan perangkat lunak dapat memperpanjang siklus hidup produk, hal ini akan memberikan manfaat bagi efisiensi produk jangka panjang.

Komponen yang tahan lama dinilai merupakan kunci dalam membangun loyalitas pelanggan. Oleh karena itu, Isuzu bekerja sama dengan divisi pengembangan produk untuk meneliti pola keausan komponen guna memastikan daya tahan keseluruhan sistem.

Inisiatif ini dianggap semakin relevan mengingat tantangan perlambatan pasar di Thailand serta tekanan tarif eksportasi ke Amerika Utara yang tengah dihadapi oleh perusahaan. Melalui penguatan bisnis remanufaktur serta layanan purna jual, Isuzu optimis dapat mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar dalam segmen kendaraan niaga di Jepang sekaligus menjaga kepercayaan pelanggan.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra

Tag:  #bisnis #baru #isuzu #lakukan #rekondisi #mesin #nyasris #seperti #mesin #baru

KOMENTAR