7 Ciri VPN Palsu yang Wajib Diwaspadai Pengguna Internet
- Penggunaan VPN semakin populer untuk menjaga privasi dan keamanan saat berselancar di internet. Namun, di tengah tingginya minat tersebut, beredar pula berbagai aplikasi VPN palsu yang justru membahayakan pengguna.
Alih-alih melindungi data, VPN palsu dapat mencuri informasi pribadi, memasang malware, hingga menyalahgunakan aktivitas browsing pengguna tanpa diketahui.
Maka dari itu, penting bagi setiap pengguna internet untuk memahami tanda-tanda VPN tidak aman. Berikut 7 ciri VPN palsu yang perlu diwaspadai agar Anda dapat tetap aman saat mengakses layanan digital.
Identitas perusahaan tidak transparan
VPN palsu biasanya tidak menjelaskan siapa yang mengoperasikan layanan tersebut, di mana mereka berbasis, atau sejak kapan perusahaan berdiri. Jika halaman “About Us” kosong atau sangat minim informasi, ini adalah tanda bahwa penyedia tidak ingin identitasnya ditelusuri. Penyedia VPN tepercaya justru terbuka tentang lokasi, tim, dan regulasi yang menaungi mereka.
Tidak memiliki kebijakan privasi yang jelas
Setiap VPN yang kredibel seharusnya memiliki kebijakan privasi yang rinci mengenai data apa yang dikumpulkan dan bagaimana data tersebut digunakan. VPN palsu sering tidak memiliki halaman privasi sama sekali atau menuliskan kebijakan yang sangat umum.
Jika informasi soal pengelolaan data tidak transparan, kemungkinan besar mereka menjual atau menyalahgunakan data pengguna.
Menjual data pengguna ke pihak ketiga
Banyak VPN palsu, terutama yang gratis, mengumpulkan data seperti alamat IP, riwayat browsing, dan informasi perangkat. Data ini kemudian dijual ke pengiklan atau broker data. Praktik ini berbahaya karena tujuan VPN adalah melindungi privasi, tetapi layanan palsu justru bertindak seperti ISP yang menjual data pengguna.
Berpotensi menjadikan perangkat sebagai botnet
Beberapa VPN palsu diketahui menggunakan perangkat pengguna untuk mencuri bandwidth atau menjalankan aktivitas jaringan ilegal. Perangkat bisa dijadikan bagian dari botnet tanpa disadari. Kasus Hola VPN menjadi contoh populer, di mana lalu lintas pengguna dialihkan untuk kepentingan pihak lain demi menghemat biaya operasional.
Menyisipkan malware ke perangkat
Penelitian CSIRO menemukan hampir 40 persen VPN gratis mengandung malware. Jenisnya beragam, termasuk adware, spyware, hingga ransomware. Malware ini dapat mencuri kredensial login, data bank, atau bahkan mengunci perangkat dan meminta tebusan. VPN yang menyisipkan malware jelas bukan layanan keamanan, melainkan ancaman.
Tidak menggunakan enkripsi yang aman
VPN palsu sering kali tidak mengenkripsi trafik internet dengan benar, atau hanya menggunakan enkripsi lemah seperti 128-bit yang sudah tidak aman. Bahkan ada yang tidak mengenkripsi data sama sekali, membuat aktivitas browsing mudah disadap atau dicuri.
VPN asli biasanya menggunakan protokol tepercaya seperti OpenVPN, WireGuard, atau enkripsi modern lain.
Tidak memiliki aplikasi resmi dan dukungan pengguna buruk
VPN yang tidak memiliki aplikasi resmi untuk Android, iOS, Windows, atau macOS patut dicurigai. Jika pengguna diminta mengunduh file konfigurasi manual atau mengubah pengaturan ponsel sendiri, itu merupakan red flag besar.
VPN palsu juga jarang menyediakan dukungan pelanggan yang layak, tidak ada live chat, respons email lambat, atau akun media sosial yang tidak aktif.
Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno.
Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.
Tag: #ciri #palsu #yang #wajib #diwaspadai #pengguna #internet