Menhut Sebut Risiko Karhutla 2026 Lebih Besar, Pencegahan Harus Diperkuat
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni (dua dari kiri) menjelaskan potensi kebakaran hutan dan lahan, Senin (6/4/2026). (KOMPAS.com/ZINTAN)
20:26
22 April 2026

Menhut Sebut Risiko Karhutla 2026 Lebih Besar, Pencegahan Harus Diperkuat

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2026 ini berpotensi lebih besar dari tahun 2025.

Sebab, prediksi kemarau akan datang lebih cepat dan akan berakhir lebih lambat, sehingga diperlukan upaya untuk mencegah terjadinya karhutla.

"Artinya dibandingkan tahun lalu, kemungkinan terjadinya karhutla tahun ini lebih besar dibandingkan tahun lalu,” ujar Raja Juli dalam keterangannya, Rabu (22/4/2026).

Raja Juli menyebut tahun 2026 ini sebagai tahun latihan untuk mengantisipasi meningkatnya angka karhutla.

Baca juga: Menhut Jelaskan Pembatasan Kuota Wisatawan Taman Nasional Komodo Tidak Tiba-tiba

Ia merujuk data BMKG yang menyebut, El Nino tahun 2026 berpotensi muncul lebih cepat pada semester kedua tahun ini atau mulai bulan Juni atau Juli,

Data BMKG menyebut El Nino itu akan muncul dengan intensitas lemah hingga moderat yang menyebabkan musim kemarau diprediksi datang lebih awal dan lebih kering.

“Saya sering sampaikan ini adalah tahun kita latihan tahun kita belajar untuk mengantisipasi apa yang akan kita hadapi," ucapnya.

Ia juga mengatakan Indonesia merupakan bangsa pembelajar, hal ini dibuktikan dengan terus menurunnya angka karhutla.

Pada 2025, menurutnya, ada sekitar 2,6 juta hektar luas karhutla yang kemudian turun menjadi 1,6 juta hektar pada 2019.

Angka ini kembali turun pada 2023 yang luasnya sekitar 1,1 juta hektar.

Baca juga: Anggota DPR Minta Pemerintah Waspadai Kebakaran Hutan Lebih Dini

Kemudian, tahun 2025 turun lagi hingga sekitar 350.000 hektar pada tahun lalu.

Untuk mencegah potensi karhula tahun ini, Raja Juli melakukan penandatanganan nota kesepahaman atau MoU dengan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani di Kantor BMKG, Jakarta.

Menurutnya, kerja sama yang dilakukan mencakup integrasi data dan informasi meteorologi, klimatologi, dan kehutanan, penguatan kapasitas sumber daya manusia, hingga pelaksanaan modifikasi cuaca serta analisis risiko berbasis sains.

Raja Juli mengatakan BMKG menjadi bagian penting dalam penurunan angka karhutla, khususnya dengan prediksi cuaca yang presisi dan teknologi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Dia memastikan koordinasi untuk mencegah terjadinya karhutla akan terus dilakukan dengan diiringi pengecekan tinggi muka air tanah.

Baca juga: ISPA Lansia di Tengah El Nino Godzilla, Kapan Harus Waspada?

“OMC yang dilakukan jauh-jauh hari sebelum apinya menyala. Sekarang sedang berkoordinasi dengan berbagai instansi, tinggi muka air tanah kita pantau ketika nanti di bawah 40 cm kita adalah OMC untuk menambah permukaan air tanah, terutama di daerah-daerah gambut kalau sudah menyala sulit padam, kalau cadangan airnya cukup insya Allah kita tidak akan terjadi kebakaran,” jelasnya.

Tag:  #menhut #sebut #risiko #karhutla #2026 #lebih #besar #pencegahan #harus #diperkuat

KOMENTAR