Gusma Sebut Pemuda Katolik Tidak Ingin Hanya Menjadi Objek Kampanye
– Pengurus Pusat Pemuda Katolik akan resmi meluncurkan Sekolah Politik & Demokrasi Batch 1 (POLITIKU) melalui Seminar Nasional dan Kick Off yang digelar oleh Pemuda Katolik Komda Jawa Timur di Malang, 7-8 Februari 2026. Inisiatif strategis ini hadir sebagai tindak lanjut terhadap hasil Sidang Agung Gereja Katolik serta menjadi ruang kaderisasi bagi orang muda Katolik untuk menyongsong Pemilu 2029.
Ketua Umum PP Pemuda Katolik, Stefanus Gusma, menegaskan bahwa organisasi harus mengambil peran sebagai jembatan aksi orkestrasi yang profesional.
"Saat ini, Indonesia berada pada situasi tantangan strategis di mana Generasi Z dan Milenial menguasai 52-55% suara nasional. Namun, kita menghadapi paradoks partisipasi; anak muda sangat peduli pada isu sosial tetapi cenderung apatis terhadap politik formal salah satunya karena hambatan pragmatisme dan politik uang, serta lebih memilih untuk menjadi suporter dari luar lapangan" ujar Gusma lewat keterangannya, Jumat (6/2).
Gusma menambahkan bahwa Sekolah Politik ini adalah model intervensi untuk mengisi kekosongan pendidikan politik berkelanjutan.
"Pemuda Katolik tidak ingin hanya menjadi objek kampanye. Melalui ekosistem POLITIKU, kami membekali kader dengan navigasi politik dan kecakapan teknokratis agar mampu bergerak 'dari altar ke pasar'. Kita harus memastikan politik dijalankan secara partisipatif dan berorientasi pada kepentingan umum, bukan sekadar kekuasaan," tegasnya.
Dukungan terhadap inisiatif ini juga disampaikan oleh Sekretaris Eksekutif Komisi Kerasulan Awam KWI, RD. Yohanes Kurnianto Jeharut. Ia menegaskan bahwa kaum awam Katolik memiliki panggilan khas untuk terlibat aktif dalam tata dunia dan dinamika kebangsaan. Menurutnya, setelah delapan dekade kemerdekaan, Indonesia patut bersyukur atas kemajuan demokrasi secara prosedural, namun masih memiliki pekerjaan rumah besar pada aspek substansial demokrasi.
“Kaum muda merupakan hadiah demografi yang menentukan masa depan bangsa dan kualitas demokrasi ke depan. Karena itu, penyelenggaraan Sekolah Politik dan Demokrasi Pemuda Katolik dipandang sebagai kontribusi nyata dalam pendidikan politik warga. Inisiatif ini diharapkan menjadi bagian dari upaya kolektif untuk memperkuat demokrasi Indonesia agar semakin berkualitas, inklusif, dan berkeadaban” kata RD. Yohanes Kurnianto Jeharut.
Sejalan dengan itu, Ketua Bidang Politik dan Kepemiluan PP Pemuda Katolik, Edi Murdani Sutrisno Silaban menyampaikan “Melalui tema ‘Bergerak dari Altar ke Pasar’, kami ingin menegaskan bahwa spiritualitas kader harus hadir dalam pelayanan nyata di tengah masyarakat.
Ini merupakan tindak lanjut amanat Rakernas dan Rapimnas 2025. Karena itu, Bidang Politik dan Kepemiluan memastikan nilai moral dan etika publik benar-benar menjadi kompas kader saat terlibat maupun mengawal proses demokrasi di ruang publik,” tandasnya.
Kegiatan yang berlangsung, lanjut Edi, di Aula SMA Katolik St. Albertus dan Rumah Retret Maria Magdalena Postel ini mempertemukan kader-kader terbaik dari wilayah Jawa untuk memperkuat pemahaman tata kelola pemilu dan demokrasi di daerah masing-masing.
Pemuda Katolik Komda Jawa Timur hadir melalui POLITIKU untuk merespons rendahnya partisipasi politik formal anak muda di tengah tingginya kepedulian sosial, dengan tujuan mentransformasikan potensi demografis tersebut menjadi kekuatan demokrasi yang berkeadaban.
Rangkaian kegiatan ini menghadirkan pakar lintas sektor, termasuk Komisi Kerawam KWI, Praktisi Pemilu Prof. A. Ramlan Surbakti, dan perwakilan dari KPU serta Bawaslu Jawa Timur, untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai aturan main pemilu dan strategi membangun gerakan sosial. Sesi yang diberikan diantaranya memuat nilai yaitu Literasi Politik & Digital, Navigasi Politik, dan Pengawasan Partisipatif.
Dengan infrastruktur organisasi yang solid di lebih dari 70% kabupaten/kota, Pemuda Katolik berkomitmen mendistribusikan narasi demokrasi ini hingga ke akar rumput. Kegiatan ini diharapkan mampu mempersiapkan kader-kader untuk terlibat secara aktif baik sebagai calon legislatif, eksekutif maupun aktif dibidang penyelenggaran dan pengawasan. Acara ini rencananya juga turut dihadiri Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, Tokoh-tokoh lain, dan romo Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan
Tag: #gusma #sebut #pemuda #katolik #tidak #ingin #hanya #menjadi #objek #kampanye