Mengenal Super Flu, Apa Bedanya dengan Covid-19?
Daeng M Faqih dari IDI dalam konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB Jakarta, Kamis (16/4/2020). (DOKUMENTASI BNPB)
05:58
8 Januari 2026

Mengenal Super Flu, Apa Bedanya dengan Covid-19?

- Istilah “super flu” yang belakangan ramai diperbincangkan publik bukanlah istilah medis.

Ketua Dewan Penasihat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih menegaskan, istilah tersebut merupakan sebutan populer di masyarakat untuk virus influenza A (H3N2) subclade K yang saat ini dilaporkan oleh otoritas kesehatan global maupun nasional.

“Yang pertama, 'super flu' itu istilah masyarakat ya, istilah populer, bukan istilah medis. Kalau di dunia medis itu, yang dilaporkan oleh baik WHO maupun CDC Amerika Serikat, maupun kita sendiri Kementerian Kesehatan, itu adalah virus influenza A yang strain H3N2 subclade K,” kata Daeng kepada Kompas.com, Rabu (7/1/2026).

Menurut Daeng, influenza A H3N2 kemudian dikenal luas sebagai super flu karena tingkat penularannya yang relatif cepat.

Namun, dari sisi medis, tidak ditemukan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan influenza musiman yang selama ini dikenal masyarakat.

“Tapi kemudian dikenal dengan super flu,” ujarnya.

Super flu bukan dari virus Corona

Daeng juga meluruskan perbedaan mendasar antara super flu dan Covid-19. Meski sama-sama disebabkan oleh virus, keduanya berasal dari golongan virus yang berbeda.

“Kalau bedanya dengan Covid-19, Covid itu kan golongan virus Corona. Sama-sama virus, tetapi jenisnya berbeda. Ini virus influenza tipe A, H3N2, sedangkan Covid adalah virus Corona,” jelasnya.

Tingkat keparahan sama dengan flu biasa

Terkait tingkat bahaya, Daeng menyebutkan bahwa laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan tidak ada peningkatan keparahan dibandingkan influenza pada umumnya. Karena itu, ia meminta masyarakat tidak bereaksi berlebihan.

“Kalau tingkat bahayanya kebetulan sudah ada laporan WHO bahwa itu tidak ada tingkat keparahan yang melebihi influenza biasanya. Jadi masyarakat tidak perlu panik atau khawatir berlebihan, karena tidak dijumpai tingkat keparahan yang lebih berat dibandingkan influenza yang biasa kita kenal,” kata Daeng.

Ia menambahkan, virus influenza memiliki banyak tipe yang terus bermutasi dari waktu ke waktu.

“Virus influenza sendiri punya banyak tipe, seperti A, B, C, dan D. Saat ini yang mendominasi adalah influenza A H3N2, yang kemudian disebut masyarakat sebagai super flu,” ujarnya.

Menkes: Super flu bukan virus baru

Penjelasan IDI tersebut sejalan dengan pernyataan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin. Budi menegaskan bahwa super flu bukanlah virus baru dan tidak memiliki tingkat keganasan seperti Covid-19 varian Delta yang pernah memicu krisis kesehatan global.

“Karena ini sama seperti flu biasa bukan seperti Covid-19 yang dulu-dulu yang varian Delta mematikan,” ujar Budi di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (7/1/2026).


Budi menjelaskan, istilah super flu merujuk pada virus influenza tipe A dengan subclade K. Ia menekankan perbedaan karakteristik antara influenza dan Covid-19.

“Covid-19 itu nama virusnya. Tapi variannya kan ada yang Delta, Omicron, ada yang Beta, Alpha, segala macam. Jadi ini sebenarnya virus H3N2. Namanya, nama ininya, populernya Influenza A,” kata Budi.

Penularan super flu cepat tapi fatalitas rendah

Menurut Budi, influenza A (H3N2) sudah lama dikenal dan kerap muncul secara musiman, terutama di negara-negara dengan empat musim. Meski penularannya cepat, tingkat kematian (fatalitas) akibat virus ini sangat rendah.

“Ya dia penularannya cepat, tetapi kematiannya sangat rendah dan ini selalu terjadi biasanya di musim-musim dingin, di negara-negara maju tuh selalu terjadi kenaikan,” ujarnya.

Di Indonesia, Budi menyebutkan jumlah kasus masih terbatas dan mayoritas dapat ditangani dengan pengobatan standar. “Yang saya lihat laporan terakhir masih puluhan ya. Dan enggak parah sih. Artinya bisa dengan pengobatan biasa tetap sembuh,” kata Menkes.

Karena itu, ia meminta masyarakat tidak panik, meski tetap waspada. “Pesan saya ke masyarakat, nomor satu, kita harus hati-hati dan sadar ada ini, tapi tidak usah panik,” ujarnya.

Budi juga menekankan pentingnya menjaga imunitas tubuh sebagai benteng utama. “Kalau imunitas, sistem imunitas kita bagus, makannya cukup, tidurnya cukup, olahraga cukup, insya Allah kalau ada virus masuk dan virusnya lemah seperti yang super flu ini, kita bisa sembuh,” paparnya.

Selain itu, ia mengingatkan masyarakat untuk menerapkan langkah pencegahan sederhana seperti mencuci tangan dan memakai masker dalam situasi tertentu. “Nah, kalau ternyata di lingkungan kita banyak yang batuk-batuk, ya kita untuk precautions kita pakai masker lah, pakai masker dan rajin cuci tangan,” ucap Budi.

DPR dorong antisipasi dini

Di sisi lain, Anggota Komisi IX DPR RI, Neng Eem Marhamah Zulfa, meminta pemerintah tetap melakukan langkah antisipasi tanpa menunggu lonjakan kasus, mengingat influenza A (H3N2) subclade K telah terdeteksi di sejumlah negara seperti China, Korea Selatan, Jepang, hingga Singapura.

“Kami meminta pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, melakukan langkah antisipasi sejak dini. Sosialisasi penggunaan masker di ruang publik sangat penting karena terbukti efektif menekan penularan virus pernapasan, termasuk influenza,” ujar Neng Eem dalam keterangannya, Rabu.

Ia menekankan bahwa pencegahan lebih efektif dan lebih murah dibandingkan penanganan ketika kasus sudah meluas.

“Pencegahan lebih murah dan lebih efektif dibanding penanganan ketika kasus sudah meluas. Koordinasi lintas sektor dan kesiapan layanan kesehatan tidak boleh ditunda,” katanya.

 

Kementerian Kesehatan RI mencatat terdapat 62 kasus infeksi influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia hingga akhir Desember 2025.

Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI Prima Yosephine menyampaikan bahwa kasus tersebut tersebar di delapan provinsi.

“Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak,” kata Prima dalam siaran pers, Senin (5/1/2026).

Tag:  #mengenal #super #bedanya #dengan #covid

KOMENTAR