Gen Z Muak dengan Kebocoran Data Pribadi: Server Pemerintah Jebol, Diteror Spam dan Pinjol
– Kalau kamu pernah jadi korban teror SMS ataupun telepon spam yang isinya pinjaman dan judi online, percaya deh, kamu bukan satu-satunya yang menderita di Indonesia.
Narasi yang meminta warga untuk menjaga data pribadi yang kerap didengungkan pemerintah terdengar sumbang di telinga para Generasi Z (Gen Z).
Bagi mereka, upaya memproteksi diri justru dinilai sia-sia karena data-data penting milik warga justru berkali-kali bocor dan diduga diperjualbelikan di situs ilegal seperti Darkweb.
Keresahan ini diungkapkan oleh Faiza (23) salah satu Gen Z yang berprofesi sebagai karyawan swasta.
Faiza menyoroti ironi di mana masyarakat dipaksa menyerahkan data sensitif seperti Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Kartu Keluarga (KK) untuk keperluan administrasi, namun tak pernah ada jaminan keamanan dari pemerintah yang memegang data warganya.
"Sebenernya gini sih, kita juga pasti pilih-pilih gitu buat mencet link atau ngirim data pribadi. Tapi liat aja berapa kali instansi pemerintah di-hack, enggak make sense aja kalau jadi bilang kita yang enggak jaga privasi," ujar Faiza kepada Kompas.com, Selasa (30/12/2025).
Faiza mengaku bingung dari mana data pribadinya bocor, mengingat banyaknya persyaratan verifikasi identitas di era digital ini.
"Enggak tau sih, kadang kan kalau aktivasi kartu itu emang pake NIK sama KK ya. Atau beberapa aplikasi kayak dompet digital itu kan juga kadang baru bisa jalan maksimal kalau kita verifikasi identitas," jelasnya.
"Jadi enggak tau nih datanya yang bocor, atau sistemnya yang emang sengaja ngejual datanya. Tapi kan kantor pemerintah juga berkali-kali ya bocor datanya, kayak yang pas data pemilih pilpres di KPU tuh, jadi gak heran juga, mau gimana lagi,” sambungnya.
Ia bahkan mencurigai data masyarakat Indonesia sudah menjadi komoditas liar di pasar gelap internet.
"Kalau emang servernya gampang di-hack mah, percuma juga. Data kita kayaknya sekarang udah dijual di dark web deh," ucap dia.
Teror Puluhan Telepon Sehari
Akibat kebocoran data yang masif tersebut, Faiza merasakan dampak langsung berupa teror digital. Ponselnya tak henti-hentinya menerima panggilan dari nomor tidak dikenal
"Jujur itu udah bukan di tahap keganggu lagi sih, tapi udah kayak terror. Biasanya telepon sih yang paling ngeganggu. Sehari tuh bisa 5 sampai 10 kali telepon masuk dari nomor nggak dikenal. Itu sick banget sih," keluh Faiza.
Selain telepon, pesan singkat (SMS) berisi promosi judi online juga membanjiri kotak masuknya. Faiza pun kini memilih untuk mengaktifkan mode tolak otomatis (auto-reject) untuk semua nomor tak dikenal, meski hal itu berdampak pada aktivitas hariannya.
"Sekarang sih udah males gitu, auto reject aja semua nomor yang nggak ada di kontak. Tapi serba salah juga, kadang kan kalau ada tukang paket nelpon juga gak ketauan nomornya malah enggak keangkat, kirain spam," katanya.
Ketakutan Faiza kemudian memuncak saat ia mengangkat telepon tersebut dan hanya mendengar keheningan (silent call).
"Sebenernya pernah diangkat beberapa kali, nah biasanya tuh mereka antara emang ada suara robot yang nawarin promosi, atau pernah juga cuma diem doang. Jadi pas diangkat tuh emang hening aja, nah itu malah yang serem kayaknya. Soalnya takut kayak modus yang ngambil data lewat telepon," ungkap dia.
Pakai Provider Pelat Merah, Tetap Tidak Aman
Kisah serupa dialami Rakha (24), yang secara spesifik memilih menggunakan layanan internet dari perusahaan pelat merah (BUMN) dengan harapan keamanan data yang lebih terjamin karena dikelola negara.
"Jujur kayaknya hampir enggak ada kali ya sekarang orang yang enggak ngerasain datanya bocor. Sebenernya sih simpel ya, ini BUMN punya pemerintah kan seharusnya keamanannya paling bagus lah, harusnya enggak bakal dijual sembarangan gitu data kita kalau dikelolanya bener," kata Rakha.
Rakha bahkan sempat memilik untuk membayar lebih saat membeli kuota internet, untuk fitur keamanan tambahan yang ditawarkan oleh provider tersebut, berupa fitur Anti-Spam.
"Gong-nya tuh bahkan gue sampai sempet langganan fitur tambahan waktu beli kuota, sengaja milih paket yang katanya ada pengamanan dari spam-nya gitu lah, anti spam berbayar waktu beli kuota,” kata dia.
Namun, usahanya untuk menjauhkan telepon maupun SMS spam itu ternyata tak membuahkan hasil. Teror dari nomor tak dikenal tetap menghantui dirinya.
“Tapi sama aja boong deh. SMS penipuan sama telpon spam juga masih banyak banget," ujarnya.
Ia juga mengeluhkan gangguan dari provider itu sendiri berupa iklan pop-up yang muncul saat ponsel dinyalakan.
Menurutnya, provider tersebut seringkali memberikan notifikasi pop up yang sangat mengganggu dan tidak bisa dicegah.
"Setau gue kan itu harusnya dipake buat hal darurat ya, kayak peringatan gempa atau yang lain lah gitu, malah ikutan nyepam," kata dia.
Ditagih Utang Orang Tak Dikenal
Dampak kebocoran data bagi Rakha bahkan merembet hingga ke ranah pinjaman online (pinjol), meski dirinya tak pernah memiliki utang apapun.
Ia diteror debt collector yang menagih utang teman kampusnya, padahal ia tidak mengenal dekat dengan orang tersebut
"Masalahnya, si 'A' ini temen kampus yang gua juga nggak deket sama sekali, kenal doang aja... Pas gue konfrontasi ke orangnya, ternyata dia enggak masukin kontak gua sama sekali, cuma masukin keluarga sama pacarnya ke kontak darurat," jelas Rakha.
Rakha pun menduga aplikasi pinjol tersebut melakukan praktik contact scraping atau menyedot seluruh kontak di ponsel peminjam.
"Ternyata, aplikasi yang dia install itu bisa nyedot isi kontak dia. Dan karena nomor gue emang kesimpen di HP dia, data gue jadi ikut keshare," tambahnya.
Saat melaporkan hal ini ke pihak provider, Rakha pun mengaku kecewa karena hanya diberi solusi yang tak membantu menyelesaikan masalah.
"Gue lapor ke CS provider, jawabannya template banget: 'Silakan blokir manual'. Lah, gue bayar fitur anti-spam buat apa kalau ujung-ujungnya disuruh kerja sendiri?” ucap dia.
Ia pun merasa bahwa privasi data pribadi di Indonesia sudah tak ada harganya dan tidak mengherankan apabila data-data miliknya beredar luas di internet.
“Rasanya kita sebagai warga tuh nggak ada perlindungan sama sekali, data kita kayak gorengan aja gitu," ucapnya.
Senada, Faiza pun mendesak pemangku kebijakan untuk berhenti menganggap remeh masalah kebocoran data di Indonesia, yang dapat berdampak pada banyak hal.
"Simpel aja sih sebenernya. Stop normalisasi kebocoran data lah. Kalau di luar negeri pemerintah kena hack tuh heboh, di sini kayak ada terus,” kata Faiza.
Ia pun menagih adanya perbaikan dari pemerintah agar kejadian kebocoran data tak berulang secara terus-menerus dan merugikan warga.
“Jangan cuma minta maaf terus, tapi besoknya kejadian lagi. Sama ini, kalau ada instansi yang datanya bocor, ya harus ada sanksi yang jelas lah," tegasnya.
Tag: #muak #dengan #kebocoran #data #pribadi #server #pemerintah #jebol #diteror #spam #pinjol