Banjir di Sumatera, Bak Tsunami yang Datang dari Gunung dan Bukit
Dua dekade lalu, gelombang raksasa dari Samudera Hindia memorak-porandakan Aceh. Gelombang yang tak terbayangkan besarnya itu menyapu setiap sudut wilayah, menyeret rumah, kapal, mobil, dan apa pun yang menghalangi jalurnya.
Di tengah kehancuran, sejumlah masjid tetap berdiri tegak. Salah satu yang menjadi saksi keajaiban itu adalah Masjid Baiturrahman Aceh.
Dua dekade berlalu, bencana serupa kembali melanda, kini menjangkau tiga provinsi yang terdampak paling besar: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Namun kali ini air bah itu bukan datang dari laut. Mereka turun dari gunung, lereng, dan sungai yang meluap. Air mengalir sambil menyeret batang-batang pohon dan balok kayu, bukti bisu kawasan yang telah dibabat manusia.
Pemandangan ini bisa terlihat dari berbagai video amatir dan foto yang beredar. Kayu gelondongan menjadi bagian yang paling banyak hanyut terbawa air bah yang berasal dari lereng gunung dan perbukitan.
Airnya menyapu setiap benda yang mencoba menghalangi, rumah ambruk, bangunan runtuh, korban hanyt atau tertimbun longsor.
Sebabnya tentu berbeda dari tsunami, bencana ini adalah kategori hidrometeorologi yang disebabkan oleh hujan dengan intensitas tinggi, ditambah dengan kerusakan alam yang disebabkan oleh aktivitas manusia.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M., menyampaikan, bencana ini berdampak di daerah Provinsi Sumatera Utara, Aceh dan Sumatra Barat dalam konferensi pers dari Bandara Silangit, Tapanuli Utara, Sumatra Utara.
Dalam keterangannya, sebanyak 174 jiwa meninggal dunia, 79 hilang dan 12 luka-luka akibat bencana ini.
Adapun dampak dari bencana yang terjadi di Sumatra Utara, hingga saat ini terdapat 116 korban meninggal dunia dan 42 orang hilang.
Korban tersebar di beberapa wilayah, di antaranya Tapanuli Utara sebanyak 11 orang, Tapanuli Tengah 51 orang, Tapanuli Selatan 32 orang, Kota Sibolga 17 orang, Humbang Hasundutan 6 orang, Kota Padang Sidempuan 1 orang, serta Pakpak Barat 2 orang.
“Per hari ini kami mendata korban meninggal dunia 116 dan 42 masih dalam pencarian. Tentu saja data ini akan berkembang terus masih ada titik-titik yang belum ditembus. Yang diindikasikan di lokasi longsor itu mungkin juga ada korban jiwa,” ungkap Suharyanto dalam konferensi pers, Jumat (28/11/2025).
Berikutnya dari Provinsi Aceh, BNPB mencatat 35 korban meninggal, 25 orang hilang, dan 8 luka-luka. Korban terbanyak berasal dari Bener Meriah, Aceh Tenggara, dan Aceh Tengah.
Tim SAR gabungan mengevakuasi korban banjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat (28/11/2025). BPBD Tapanuli Selatan mencatat hingga Jumat (28/11) sebanyak 32 orang meninggal dunia akibat banjir bandang pada Selasa (25/11).
Pengungsian tersebar luas di 20 kabupaten/kota, termasuk 96 titik di Kota Lhokseumawe. Kondisi ini menjadi perhatian utama pemerintah daerah dan pusat untuk percepatan distribusi logistik dan layanan dasar.
“Per sore ini yang mengungsi ada 4.846 KK,” ungkap Suharyanto.
Lalu ada Sumatera Barat, tercatat 23 korban meninggal, 12 orang hilang, dan 4 luka-luka yang tersebar di beberapa wilayah seperti Padang Panjang, Tanah Datar, Agam, Kota Padang, serta Pasaman Barat.
Beberapa wilayah melaporkan titik pengungsian, di antaranya 50 titik di Pesisir Selatan, 3 titik di Kota Padang, dan beberapa titik lain di Kabupaten Solok, Pasaman, dan Tanah Datar. Jumlah total sementara pengungsi ada 3.900 KK.
“Di Sumatera Barat itu 23 meninggal dunia, 12 hilang dan 4 luka-luka,” ungkap Suharyanto.
“Pengungsi terdata ada 3.900 KK. Yang terparah ada di Padang Pariaman, Tanah Datar, Kabupaten Solok dan Kota Padang,” imbuhnya.
Operasi modifikasi cuaca serentak
Untuk menurunkan risiko banjir susulan, BNPB memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara serentak.
Operasi lintas kementerian dan lembaga ini berfungsi sebagai dukungan mitigasi dan penanganan darurat dengan tujuan utama mengurangi potensi curah hujan di kawasan rawan bencana melalui rekayasa pengalihan awan hujan ke wilayah yang lebih aman.
“Kami melaksanakan OMC di masing-masing provinsi,” jelas Suharyanto.
Di Aceh, OMC baru resmi dimulai hari ini, Jumat (28/11/2025), menggunakan pesawat PK-SNP dari Posko Bandara Sultan Iskandar Muda.
Sementara itu, di Sumatera Utara, operasi telah dimulai lebih awal pada Kamis (27/11/2025) dari Posko Bandara Kualanamu, di mana hingga saat ini telah diselesaikan empat sortie penerbangan dengan total 3.200 kilogram bahan semai Natrium Klorida (NaCl) dan Kalsium Oksida (CaO).
Adapun operasi di Sumatera Barat dijadwalkan akan mulai beroperasi besok, Sabtu (29/11/2025), dengan mengerahkan pesawat PK-DPI dan PK-SNK dari Posko Bandara Internasional Minangkabau.
Intervensi Modifikasi Cuaca ini menjadi sangat krusial mengingat kondisi darurat terkini, di mana intensitas hujan ekstrem telah memicu banjir meluas di wilayah Aceh, meningkatkan ancaman longsor dan banjir bandang di sebagian besar Sumatera Utara, serta menimbulkan dampak serius pada infrastruktur dan pemukiman di Sumatera Barat.
Tiga langkah cepat yang harus dilakukan pemerintah
Ketua Bidang Organisasi Palang Merah Indonesia (PMI), Sudirman Said berharap agar pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret dalam bencana yang melanda daerah-daerah di Pulau Sumatera.
Ia menekankan tiga prioritas utama: menghidupkan kembali sistem komunikasi darurat, memasok energi cadangan, dan mengirim logistik makanan siap saji melalui jalur udara karena akses darat terputus total.
“Nomor satu, hidupkan sistem komunikasi dengan cara apapun dan lengkapi titik-titik pemerintahan itu dengan alat komunikasi. Kedua, menjaga pasokan energi, apakah ada listrik darurat, apa pun caranya. Ketiga adalah soal logistik, mungkin prioritasnya makanan-makanan yang siap dimakan,” ujar Sudirman.
Menurut Sudirman, kondisi di lapangan saat ini jauh lebih parah daripada yang tergambar di media nasional.
Listrik padam total di hampir seluruh Aceh dan tower seluler tumbang, sehingga sinyal telepon dan internet hilang selama berhari-hari. Akibatnya, koordinasi penanganan bencana menjadi lumpuh.
“Bahkan Polsek, Koramil, dan Puskesmas tidak memiliki radio komunikasi yang hidup. Semua aparat di lapangan mengaku ‘lumpuh’ karena tidak bisa berkomunikasi,” ujar Sudirman.
Ia menceritakan, perjalanan dari Takengon ke Banda Aceh yang biasanya ditempuh dalam hitungan jam menjadi tiga hari karena jalan nasional terendam banjir sedalam satu meter lebih dan puluhan titik longsor menutup jalur. Hanya truk trailer yang masih bisa melintas di beberapa segmen.
Sudirman juga menyaksikan langsung bagaimana masyarakat Aceh bertahan dengan inisiatif sendiri, saling menolong, mengungsi ke masjid, membagi sisa makanan, dan mengantre di warung kopi yang memiliki genset untuk sekadar mengisi daya ponsel.
Namun ia memperingatkan, dalam hitungan hari stok makanan rumah tangga dan tabung LPG akan habis total.
“Pasar tutup, SPBU kehabisan solar karena truk tangki tidak bisa masuk, warung-warung mulai kosong. Kalau tidak segera ada intervensi besar dari pusat, kita akan menghadapi krisis pangan dan energi yang sangat serius,” katanya.
Sudirman menceritakan, Pemerintah Daerah Aceh sendiri baru mengumumkan status darurat bencana pada Kamis sore karena selama ini mereka juga tidak mengetahui secara utuh magnitude kerusakan akibat ketiadaan komunikasi.
Untuk itu, ia menegaskan, atensi pemerintah pusat sangat dibutuhkan untuk bencana banjir di Aceh dikarenakan masyarakat lokal sudah mengupayakan apa pun yang mereka bisa lakukan.
Ia pun meminta juga agar pemerintah segera menyalurkan bantuan melalui jalur darat sudah tidak mungkin lagi. Ia meminta pemerintah pusat segera mengerahkan helikopter untuk dropping logistik serta mengaktifkan sistem komunikasi cadangan yang selama ini terabaikan.
“Dan sebisa mungkin dideploy alat-alat komunikasi terdahulu. Karena itu akan membantu mereka untuk melakukan komunikasi antar yang membantukan. Ini sifatnya sangat sporadis sekarang, aparat di lapangan betul-betul kerja sendiri, seadanya,” imbuhnya.
Sudirman pun mengatakan, kehadiran pemerintah pusat dalam bencana di Provinsi Aceh saat ini sangat dinanti oleh masyarakat.
“Yang paling penting adalah restoring confidence ya dari publik, supaya masyarakat merasa pengurus negara ini memberi perhatian pada rakyatnya,” tegas Sudirman.
Tag: #banjir #sumatera #tsunami #yang #datang #dari #gunung #bukit