Sering Memposting Kehidupan di Media Sosial Bukan Hal yang Baik, Begini 6 Alasannya Menurut Pakar Psikologi
Sering Memposting Kehidupan di Media Sosial Bukan Hal yang Baik (Dreamsteam)
10:50
10 Mei 2024

Sering Memposting Kehidupan di Media Sosial Bukan Hal yang Baik, Begini 6 Alasannya Menurut Pakar Psikologi

Media sosial tampaknya menjadi tempat untuk mengekspresikan diri seseorang ketika mereka merasa senggang.

Namun tahukah Anda, terlalu sering memposting kehidupan pribadi di media sosial bukanlah hal yang baik. Mengapa demikian?

Berdasarkan penelitian dari Cornell University, para peneliti telah menemukan adanya perbedaan cara individu memandang dirinya sendiri di dunia nyata dan cara orang lain memandang dirinya di media sosial.

Penelitian yang dilakukan oleh oleh Profesor Qi Wang dari Culture and Cognition Lab, pertama kali meneliti dan menganalisis persepsi kepribadian berdasarkan postingan online.

Menurut laman Earth.com dikutip oleh JawaPos.com, Jumat (10/5), menyampaikan lima alasan mengapa media sosial bukanlah sesuatu yang baik saat memposting kehidupan pribadi Anda:

1. Representasi diri yang baru

Para peneliti mengungkapkan bahwa rasa diri dan identitas Anda dieksternalisasikan dalam dunia yang dimediasi secara digital.

Perkembangan media sosial dan internet selama beberapa dekade terakhir telah memperkenalkan cara-cara baru dalam representasi dan ekspresi diri.

Memposting pengalaman dan opini pribadi di media sosial adalah aktivitas sehari-hari bagi banyak orang.

Dengan audiens yang tidak terbatas dan penyimpanan permanen informasi bersama di ruang siber.

Aktivitas ini telah menjadi sarana penting bagi individu untuk mencapai ikatan sosial dan ekspresi pribadi.

Namun, sedikit yang diketahui tentang bagaimana presentasi diri melalui postingan online dilihat oleh pengguna media sosial lainnya.

2. Realita versus persepsi

Kesan yang dibentuk orang-orang terhadap kita di media sosial berdasarkan apa yang kita unggah bisa berbeda dengan cara kita memandang diri kita sendiri,” kata Profesor Wang.

Ketidaksesuaian antara diri Anda dan cara orang memandang dapat mempengaruhi kemampuan Anda untuk merasa terhubung secara online dan manfaat terlibat dalam interaksi media sosial.

3. Postingan di media sosial

Menariknya, para peneliti menemukan bahwa jenis konten yang dibagikan mempengaruhi keakuratan penilaian tersebut.

Pembaruan status yang menyertakan elemen multimedia seperti foto, video, atau tautan memberikan representasi kepribadian pengguna yang lebih akurat dibandingkan yang hanya terdiri dari teks.

4. Norma sosial

Salah satu aspek yang menarik dari penelitian ini adalah temuannya mengenai norma-norma budaya dan manifestasinya dalam persona online.

Penelitian menunjukkan bahwa pembaruan status Facebook sering kali mencerminkan norma budaya terkait gender dan etnis, bahkan ketika pemirsanya tidak mengetahui identitas penggunanya.

Misalnya, pengguna perempuan dinilai lebih ekstrovert dibandingkan pengguna laki-laki, hal ini sejalan dengan ekspektasi masyarakat luas.

5. Pembuatan makna dan kesalahpahaman

Misalnya pengguna Facebook berkulit putih dipandang lebih ekstrovert dan memiliki harga diri yang lebih tinggi dibandingkan pengguna Facebook di Asia, yang budayanya lebih menekankan kesopanan.

“Anda menampilkan diri kami sesuai dengan kerangka budaya Anda, dan orang lain dapat melihat kepribadian budaya Anda sendiri melalui pembuatan makna pada postingan Anda,” kata Profesor Wang.

6. Ekspresi diri yang otentik

Profesor Wang mengatakan temuan ini dapat membantu pengembang merancang antarmuka yang memungkinkan orang mengekspresikan diri mereka secara lebih autentik.

Bagi pengguna, kesalahpahaman tentang siapa mereka di media sosial mungkin tidak menimbulkan kerugian langsung, namun dapat menghambat upaya mereka untuk membina komunikasi dan hubungan yang baik.

“Jika pandangan orang terhadap kita sangat berbeda dengan diri kita sebenarnya, atau bagaimana kita ingin dianggap, hal ini dapat merusak kehidupan sosial dan kesejahteraan kita.” Ujarnya.

Editor: Hanny Suwindari

Tag:  #sering #memposting #kehidupan #media #sosial #bukan #yang #baik #begini #alasannya #menurut #pakar #psikologi

KOMENTAR