Berakar dari Fiksi Ilmiah, Ini Kisah Tommy Ambiyo Rintis Tas BYO
BYO, jenama tas lokal yang terinspirasi dari kesukaan Tommy akan fiksi ilmiah, di brightspotCITY di Agora Mall, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026).(Kompas.com / Nabilla Ramadhian)
09:20
28 Mei 2026

Berakar dari Fiksi Ilmiah, Ini Kisah Tommy Ambiyo Rintis Tas BYO

- Ajang pameran brightspotCITY tengah digelar di Agora Mall, Kompleks Thamrin Nine, Jakarta Pusat, sepanjang 27-31 Mei dan 4-7 Juni 2025.

Di antara berbagai jenama lokal yang hadir memeriahkan pameran, BYO turut berpartisipasi dengan membuka stan khusus.

Didirikan oleh Tommy Ambiyo Tedji, jenama aksesori fesyen ini sudah berjalan lebih dari satu dekade, bahkan beberapa kali mengikuti perhelatan mode bergengsi Jakarta Fashion Week (JFW).

"Aku sudah mulai sejak 2010 sebenarnya. Jadi waktu itu ide awalnya, gagasannya adalah untuk bikin suatu brand tas karena aku passionate banget sama tas," ucap dia kepada Kompas.com dalam sesi private opening brightspotCITY, Selasa (26/5/2026).

Baca juga: Cerita Pengunjung, Niatnya Cuma Lihat-lihat ke BrightspotCITY, Akhirnya Belanja

Perjalanan BYO melahirkan desain tas yang inovatif

Eksplorasi seni dan fiksi ilmiah

Perjalanan karier Tommy bermula dari minatnya pada desain produk, dan sempat bekerja kantoran sebagai penata visual gerai belanja.

Kegemarannya pada arsitektur dan film fiksi ilmiah seperti Star Wars kemudian mendorongnya berinovasi menciptakan aksesori dengan pendekatan yang berbeda.

Baca juga: Tas Birkin Milik Konglomerat Vietnam yang Dipenjara Laku Rp 8,9 Miliar dalam 30 Menit

Pendiri sekaligus desainer BYO, Tommy Ambiyo Tedji, saat ditemui dalam sesi private opening brightspotCITY di Agora Mall, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026). BYO adalah jenama tas lokal yang terinspirasi dari kesukaan Tommy akan fiksi ilmiah.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Pendiri sekaligus desainer BYO, Tommy Ambiyo Tedji, saat ditemui dalam sesi private opening brightspotCITY di Agora Mall, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026). BYO adalah jenama tas lokal yang terinspirasi dari kesukaan Tommy akan fiksi ilmiah.

"Karena aku pendidikannya desain industrial desain, terus interest aku sama science fiction, arsitektur dan sesuatu hal yang eksperimental, akhirnya saya membuat BYO," kata dia.

Tommy memiliki ketertarikan mendalam pada konsep world-building, atau pembangunan dunia fiktif yang kerap muncul dalam fiksi ilmiah.

Hal inilah yang menjadi benang merah berdirinya BYO, di mana ia ingin mewujudkan imajinasi objek-objek futuristik tersebut ke dalam karya fesyen dunia nyata.

Baca juga: Strategi Brand Fesyen Lokal Tembus Pasar Global

Desain tas buatan Tommy sengaja diformulasikan dari hasil eksplorasi gaya yang tidak biasa. Produk pertamanya terinspirasi dari pesawat luar angkasa dalam film Star Wars, dan terbuat dari material tyvek, yakni bahan sintetis menyerupai kertas yang tahan air dan tidak bisa robek.

"Awalnya banyak yang suka cuma ternyata di tahun tersebut belum banyak yang bisa apresiasi kayak 'Kok gampang rusak sih, gampang jelek' gitu. Padahal sebenarnya kan itu patina bagian dari keunikannya," ungkap dia.

Tas tersebut dianggap rusak karena materialnya yang sebenarnya unik. Awalnya, material memang kaku. Namun, semakin sering digunakan, material akan melembut, sehingga bentuknya akan berbeda pada setiap pengguna.

"Menurutku itu keren banget. Itu bagian dari keunikannya," tutur Tommy.

Baca juga: 5 Inspirasi Bergaya dengan Motif Polkadot yang Jadi Tren Fesyen

Cerita unik di balik sistem modular

Koleksi Alchemy dari BYO, jenama tas lokal yang terinspirasi dari kesukaan Tommy akan fiksi ilmiah, di brightspotCITY di Agora Mall, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Koleksi Alchemy dari BYO, jenama tas lokal yang terinspirasi dari kesukaan Tommy akan fiksi ilmiah, di brightspotCITY di Agora Mall, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026).

Berangkat dari kendala material tersebut dan menurunnya penjualan, Tommy kemudian mencari material alternatif yang jauh lebih kokoh.

Ia kemudian merilis koleksi ikonik bernama Alchemy berbahan PVC pada tahun 2014, yang mengandalkan kuncian sistem tekstil modular tanpa jahitan maupun lem.

"Kita cari bahan yang lebih kuat, pas saat itu PVC. Lebih kuat dan enggak akan rusak juga. Cuma gimana caranya bikin sesuatu dari plastik, cuma kelihatannya sangat lebih high-end," sebut dia.

Sementara itu, nama produk tasnya, Warrior Bag, diambil secara acak saat ia sedang merangkai tas sambil menonton film laga berjudul Warrior yang dibintangi oleh Tom Hardy.

"Terus namanya Warrior karena pas aku menganyam, aku lagi nonton film Warrior. Terus saat air mata aku menetes, tasnya pas udah jadi, 'Wuih bagus' gitu," tutur dia.

Baca juga: Cara Merawat Tas Kulit di Musim Hujan

Mengolah sisa kulit mewah

Koleksi Echo Bag dari BYO, jenama tas lokal yang terinspirasi dari kesukaan Tommy akan fiksi ilmiah, di brightspotCITY di Agora Mall, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Koleksi Echo Bag dari BYO, jenama tas lokal yang terinspirasi dari kesukaan Tommy akan fiksi ilmiah, di brightspotCITY di Agora Mall, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026).

Koleksi terbarunya, Echo Bag ia luncurkan pada pembukaan brightspotCITY. Keunikan dari koleksi ini karena dibuat dari sisa potongan bahan kulit asli dari pabrik jok otomotif dan furnitur mewah asal Eropa.

"Jadi ujung-ujung kulit yang tadinya dibuang atau sesuatu yang enggak terlalu bermanfaat, kita bisa jadi satu yang baru lagi," lanjut dia.

Nama koleksi tas berdesain minimalis ini juga bukan merujuk pada konsep ekologi alam, melainkan kata "echo" dalam bahasa Inggris yang berarti "gema".

Baca juga: 4 Alasan Tas Asia Jadi Favorit Gen Z, Ada Brand Lokal Indonesia

Tommy sengaja menggunakan kata tersebut untuk merepresentasikan proses daur ulang yang ia lakukan.

"Aku kepikiran 'Echo from another life' gitu, 'Echo from another industry' in this case. Jadi industri luxury otomotif sisa-sisanya adalah ini (barang dalam industri fesyen)," ucap Tommy.

Dari semua koleksi yang ada sejak BYO berdiri, Alchemy menjadi yang paling diminati sampai saat ini, khususnya yang berwarna hitam.

Terkait harga, harga tas Alchemy dibanderol mulai dari Rp 1 jutaan, sedangkan Echo Bag mulai dari Rp 3,9 jutaan.

Baca juga: Freitag Menyulap Limbah Terpal Plastik Jadi Tas Serbaguna

Tag:  #berakar #dari #fiksi #ilmiah #kisah #tommy #ambiyo #rintis

KOMENTAR