WFH ASN Tak Selalu Ringan, Perempuan Bisa Hadapi Beban Ganda di Rumah
Ilustrasi WFH. WFH ASN tidak selalu membuat pekerjaan lebih ringan, terutama bagi perempuan yang harus membagi perhatian antara tugas kantor dan tanggung jawab domestik di rumah.(Freepik)
17:05
19 Mei 2026

WFH ASN Tak Selalu Ringan, Perempuan Bisa Hadapi Beban Ganda di Rumah

Bekerja dari rumah kerap dibayangkan sebagai cara untuk membuat rutinitas kerja terasa lebih ringan.

Namun, bagi sebagian perempuan, WFH justru bisa menghadirkan beban tambahan karena pekerjaan kantor bertemu langsung dengan tanggung jawab domestik di rumah.

Kondisi ini menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam kebijakan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN).

Dosen Sosiologi Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si., mengatakan bahwa WFH tidak selalu dimaknai sebagai bekerja dari rumah secara ideal.

Menurut dia, ada kecenderungan WFH dipahami sebagai waktu yang lebih longgar dibandingkan hari kerja di kantor.

“WFH lebih dimaknai sebagai liburan daripada bekerja di rumah. Di rumah orang justru merasa memiliki tanggungjawab lain,” kata Bagong saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (19/5/2026).

Situasi tersebut dapat membuat pekerjaan dari rumah tidak selalu terasa lebih sederhana.

Seseorang tetap harus menyelesaikan tugas kantor, tetapi pada saat yang sama juga berhadapan dengan berbagai urusan rumah yang sulit diabaikan.

Baca juga: WFH Jumat dan Pekerja Lajang, Sosiolog Ingatkan Pentingnya Waktu untuk Keluarga

Perempuan bisa menghadapi beban tambahan

Bagong menilai, tantangan WFH dapat terasa lebih berat bagi perempuan, terutama mereka yang juga memiliki tanggung jawab sebagai ibu.

“Bagi perempuan terutama, WFH justru menjadi beban tambahan karena status keibuannya yang bertanggung jawab pada pekerjaan domestik,” ujar Bagong.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa rumah tidak selalu menjadi ruang kerja yang netral.

Bagi sebagian perempuan, rumah juga merupakan tempat berbagai pekerjaan domestik berlangsung, mulai dari mengurus anak, mengatur kebutuhan keluarga, hingga menyelesaikan urusan rumah tangga lainnya.

Akibatnya, WFH bisa membuat batas antara tugas kantor dan tugas rumah menjadi semakin kabur.

Di satu sisi, perempuan tetap dituntut menyelesaikan pekerjaan profesional. Di sisi lain, mereka juga bisa merasa tetap bertanggung jawab terhadap pekerjaan domestik yang hadir di sekitarnya.

Baca juga: WFH Jumat Dinilai Bisa Buka Jalan Kerja 4 Hari, Sosiolog Ingatkan Syaratnya

WFH perlu dibaca sebagai perubahan pola kerja

Ilustrasi WFH, work from home. WFH ASN tidak selalu membuat pekerjaan lebih ringan, terutama bagi perempuan yang harus membagi perhatian antara tugas kantor dan tanggung jawab domestik di rumah.Google Gemini AI Ilustrasi WFH, work from home. WFH ASN tidak selalu membuat pekerjaan lebih ringan, terutama bagi perempuan yang harus membagi perhatian antara tugas kantor dan tanggung jawab domestik di rumah.

Sosiolog Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Nia Elvina, M.Si., menilai kebijakan WFH sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai perubahan tempat bekerja.

Menurut dia, kebijakan tersebut juga bisa dipahami sebagai bagian dari perubahan cara pandang terhadap waktu kerja.

“Saya kira kebijakan WFH ini sebaiknya dipahami sebagai langkah awal kebijakan 4 hari atau 5 hari kerja,” kata Nia saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (19/5/2026).

Nia mengatakan, waktu libur memiliki hubungan dengan produktivitas kerja.

“Banyak kajian menunjukkan waktu libur berkaitan erat dengan produktifitas kerja,” ujar dia.

Karena itu, kebijakan WFH perlu diikuti dengan pemahaman bahwa waktu kerja, waktu istirahat, dan waktu keluarga memiliki batas yang perlu dihormati.

Tanpa batas tersebut, bekerja dari rumah bisa berubah menjadi kondisi yang melelahkan, terutama bagi pekerja yang harus menjalankan lebih dari satu peran di rumah.

Baca juga: WFH Jumat untuk ASN, Sosiolog UI: Jangan Sekadar Pindah Kerja ke Rumah

Batas kerja dan keluarga perlu diperhatikan

Nia menambahkan, perhatian terhadap waktu kerja dan waktu keluarga mulai menjadi hal penting dalam dunia kerja.

“Waktu kerja dan waktu libur/keluarga mulai mendapatkan perhatian yang lebih, karena hal ini amat berkaitan dengan kesehatan mental dan produktifitas kerja tadi,” kata Nia.

Ia juga mencontohkan bahwa di beberapa negara, batas komunikasi kerja mulai diatur lebih tegas.

“Dan untuk di beberapa negara, mulai menerapkan jam kerja yang sebenarnya. Atasan atau lainnya tidak diperkenankan untuk mengontak teman sejawat atau bawahannya mengenai pekerjaan,” ujar Nia.

Dalam konteks WFH, batas seperti ini menjadi penting agar pekerja tidak merasa harus terus tersedia hanya karena sedang berada di rumah.

Bagi perempuan yang memiliki tanggung jawab domestik, batas kerja yang jelas dapat membantu mengurangi tumpang tindih antara urusan kantor dan urusan rumah.

Baca juga: Kartini Modern Tak Hanya di Ruang Publik, Ini Pandangan Sosiolog

WFH satu hari masih bisa dikelola

Meski demikian, Bagong menilai WFH ASN yang dilakukan satu hari masih lebih mudah dikelola dibandingkan jika dilakukan lebih sering.

“Ini masih mendingan karena WFH cuma 1 hari. Jadi ada 4 hari kerja yang harus dijalani,” kata Bagong.

Ia juga menyebut bahwa interaksi kerja tetap dapat berjalan meski pegawai tidak bertemu langsung di kantor.

“Soal interaksi tidak menjadi masalah karena bisa melalui media sosial atau gadget,” ujar dia.

Dengan demikian, WFH ASN dapat memberi manfaat bila dijalankan dengan budaya kerja yang jelas.

Namun, bagi perempuan, kebijakan ini tetap perlu dilihat secara lebih hati-hati karena bekerja dari rumah tidak selalu berarti beban menjadi lebih ringan.

Baca juga: Cara ASN Mengatur Waktu agar WFH Jumat Tak Bikin Burnout

Tag:  #selalu #ringan #perempuan #bisa #hadapi #beban #ganda #rumah

KOMENTAR