Kuat Bukan Berarti Harus Sendiri, Refleksi Perempuan Tangguh Masa Kini
Didikan orangtua yang menanamkan kemandirian membentuk Alfina Rahmatia jadi perempuan tangguh hingga kini menempuh S3 di luar negeri.(dok. Alfina Rahmatia)
16:10
22 April 2026

Kuat Bukan Berarti Harus Sendiri, Refleksi Perempuan Tangguh Masa Kini

Saat ini, banyak perempuan yang memilih menjalani berbagai peran sekaligus, mulai dari berumah tangga hingga menempuh pendidikan.

Namun, di balik itu, muncul pertanyaan: apakah menjadi tangguh harus selalu berarti menghadapi segalanya sendiri?

Refleksi berbeda datang dari pengalaman Alfina Rahmatia. Perempuan 30 tahun yang kini menempuh studi doktoral (S3) di Turki ini justru menemukan bahwa ketangguhan tidak selalu identik dengan kesendirian.

Saat ini, Alfina menjalani berbagai peran dalam waktu bersamaan: sebagai ibu, mahasiswa doktoral, peneliti, sekaligus aktif dalam organisasi.

Di balik capaian tersebut, ia tumbuh dari pola asuh yang menanamkan kemandirian sejak dini.

Mandiri Sejak Kecil

Sejak kecil, Alfina terbiasa mengambil keputusan sendiri. Orangtuanya memberi ruang kebebasan, namun tetap menanamkan tanggung jawab atas setiap pilihan.

Pengalaman yang paling membentuk terjadi saat ia harus melanjutkan pendidikan ke pesantren di luar pulau setelah lulus sekolah dasar.

Jauh dari orangtua, ia belajar mengurus diri sendiri dan menghadapi berbagai tantangan tanpa bergantung pada keluarga.

“Di sana saya belajar mandiri. Kepribadian saya banyak terbentuk sejak masa itu,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com baru-baru ini.

Kemandirian ini kemudian menjadi bekal penting dalam berbagai fase kehidupannya, termasuk saat mengambil keputusan besar seperti melanjutkan studi ke luar negeri.

Baca juga: Kartini Modern Tak Hanya di Ruang Publik, Ini Pandangan Sosiolog

Didikan orangtua yang menanamkan kemandirian membentuk Alfina Rahmatia jadi perempuan tangguh hingga kini menempuh S3 di luar negeri.dok. Alfina Rahmatia Didikan orangtua yang menanamkan kemandirian membentuk Alfina Rahmatia jadi perempuan tangguh hingga kini menempuh S3 di luar negeri.

Ketika Mandiri Berubah Menjadi Beban

Namun, di balik kekuatan tersebut, Alfina menyadari ada sisi lain yang sempat luput ia pahami.

Terbiasa mandiri membuatnya merasa harus mampu menghadapi semua masalah sendiri.

Saat menghadapi masa sulit, ia memilih memendam perasaan dan tidak membuka diri, bahkan kepada orangtua.

“Tiap orang pasti punya momen jatuh. Waktu itu, saya merasa semua bisa dilakukan sendiri,” ungkapnya.

Kondisi tersebut justru membuat beban terasa semakin berat.

Hingga akhirnya, ia mendapatkan saran untuk mulai membuka diri dan tidak menanggung semuanya sendirian.

Dari situ, Alfina mulai memahami bahwa ketangguhan bukan berarti menutup diri dari bantuan orang lain.

Belajar Menjadi Anak

Pengalaman tersebut menjadi titik balik penting. Alfina menyadari bahwa hubungan antara anak dan orangtua bukanlah hubungan satu arah.

Jika selama ini ia melihat orangtua sebagai pihak yang belajar membesarkan anak, kini ia memahami bahwa dirinya juga perlu belajar menjadi anak, termasuk belajar terbuka dan mempercayai orangtua.

“Saya belajar bahwa bukan hanya orangtua yang belajar menjadi orangtua, tapi saya juga belajar menjadi anak,” katanya.

Kesadaran ini membuatnya lebih mampu menyeimbangkan antara kemandirian dan keterbukaan.

Baca juga: Cerita Alfina Rahmatia: Dibesarkan Mandiri Sejak Kecil, Kini Jadi PhD Mother di Turki

Kuat Tidak Harus Sendiri

Dalam menghadapi tekanan maupun kegagalan, nilai yang ditanamkan orangtua tetap menjadi pegangan.

Salah satu nasihat yang selalu ia ingat adalah pentingnya melibatkan Tuhan dalam setiap proses kehidupan.

“Sholat, mengaji, berdzikir, dan bersyukur. Itu yang selalu diingatkan,” tuturnya.

Nilai tersebut membantunya menemukan ketenangan, sekaligus mengingatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar sendiri.

Kini, sebagai perempuan yang menjalani berbagai peran, Alfina melihat ketangguhan dari sudut pandang yang lebih utuh.

Bagi dia, menjadi kuat bukan berarti menutup diri, melainkan memahami kapan harus berdiri sendiri dan kapan perlu bersandar.

Baca juga: Kartini Modern Bukan Sekadar Kuat, Ini Cara Mendidik Anak Perempuan Tangguh

Refleksi Perempuan Masa Kini

Pengalaman Alfina menjadi refleksi bagi banyak perempuan di masa kini.

Tuntutan untuk selalu kuat sering kali membuat perempuan merasa harus menyelesaikan semuanya tanpa bantuan.

Padahal, memiliki dukungan, baik dari keluarga, pasangan, maupun lingkungan, justru menjadi bagian penting dalam proses bertumbuh.

Ketangguhan bukan hanya tentang kemampuan bertahan, tetapi juga tentang keberanian untuk mengakui keterbatasan dan membuka diri.

Di tengah berbagai peran yang dijalani, Alfina menekankan bahwa menjadi perempuan adalah anugerah yang perlu dijalani dengan penuh kesadaran dan rasa syukur.

“Berbahagialah menjadi perempuan. Sibukkan diri dengan ilmu dan amal baik,” pungkasnya.

Tag:  #kuat #bukan #berarti #harus #sendiri #refleksi #perempuan #tangguh #masa #kini

KOMENTAR