Tren Investasi Gen Z: Aktif Mulai, Tapi Masih Mencari Cara
- Ketidakpastian ekonomi dan derasnya arus informasi finansial di media sosial mendorong semakin banyak Gen Z mulai aktif berinvestasi.
Namun, pola investasinya masih cenderung eksploratif, berpindah instrumen mengikuti kebutuhan, sentimen pasar, hingga peluang keuntungan yang dianggap paling menarik.
Ezra (26), misalnya, mengaku mulai tertarik berinvestasi untuk kebutuhan jangka panjang sejak memutuskan akan berkeluarga sekitar empat tahun lalu.
Menjelang kelahiran anak pertamanya, dia kini semakin aktif menyiapkan dana untuk kebutuhan masa depan anak.
Baca juga: Ekonomi Tak Pasti Bikin Menabung dan Investasi Tak Cukup, Ini Seni Kelola Uang Aman dan Bertumbuh
Selama empat tahun ini, instrumen investasi yang dia gunakan tidak menentu karena mengikuti kebutuhan atau tujuan yang ingin dia capai.
Selain itu, karena masih dalam tahap membangun portofolio, Ezra memilih menempatkan dana di instrumen yang relatif aman dengan membaginya ke beberapa aset seperti obligasi negara ritel (ORI), saham, deposito, hingga emas fisik.
"Ya, pasti pindah-pindah kalau ada keperluan misalnya beli motor atau beli ponsel beberapa dicairin. Atau misalnya bunga deposito rada turun pindah ke ORI atau saham," ujarnya kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Masih Cari Cara
Bagi Ezra, keputusan investasi juga sangat dipengaruhi perkembangan informasi di media sosial agar dapat lebih mudah memahami kondisi pasar.
Untuk itu, dia mengaku rutin memantau sejumlah influencer keuangan untuk memahami sentimen negatif maupun positif yang tengah mempengaruhi pasar, termasuk kebijakan pemerintah, sebelum menentukan langkah investasi berikutnya.
"(Media sosial dan influencer) pengaruh banget, selalu pantau sentimen negatif apa positif dari pasar, termasuk kebijakan pemerintah," ungkapnya.
"Kalau ORI atau deposito bunga cenderung turun, saham lagi volatile, ya sering pantau terus saja terus kemarin baru banyakin beli emas saat turun," imbuhnya.
Selain instrumen investasi, sampai saat ini Ezra mengaku masih mencari cara untuk melakukan investasi secara nyaman dan aman.
Salah satu cara yang sedang dia jalani ialah mengatur investasi melalui platform Bank Jago.
Menurut Ezra, fitur kantong di aplikasi Bank Jago membantunya memisahkan alokasi dana sesuai kebutuhan, mulai dari investasi, dana darurat, hingga tabungan untuk anak.
"Ngaruh banget, buat atur bagian untuk investasi, nabung buat anak dan dana darurat di masa depan," ucapnya.
Fenomena meningkatnya minat investasi di kalangan generasi muda juga tecermin dari perubahan pola pengelolaan aset masyarakat.
Minat Investasi Meningkat, Tabungan Masih Dominasi
Fenomena meningkatnya minat investasi di kalangan generasi muda juga tecermin dari perubahan pola pengelolaan aset masyarakat.
Direktur Group Riset Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Seto Wardono mengatakan, simpanan di bank masih mendominasi aset keuangan individu dengan porsi sekitar 68 persen per Februari 2026.
Meski demikian, porsinya menurun dibandingkan sekitar 73 persen pada 2023.
Sebaliknya, porsi investasi di saham dan surat berharga negara (SBN) meningkat dari sekitar 27 persen menjadi 32 persen dalam periode yang sama.
"Perkembangan ini menunjukkan bahwa instrumen investasi seperti saham dan SBN sudah mulai banyak diminati oleh masyarakat," ujar Seto kepada Kompas.com, Rabu (6/5/2026).
Baca juga: Survei: Karier Tak Lagi Soal Jabatan, Gen Z dan Milenial Kini Cari Hidup Seimbang
Tantangan Gen Z Bukan Lagi Memulai
Meningkatnya minat investasi ini dinilai sejalan dengan kesadaran generasi muda untuk mengejar tujuan keuangan jangka panjang yang sulit dicapai hanya melalui tabungan biasa.
President International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia Aidil Akbar mengatakan, tantangan generasi muda saat ini bukan lagi sekadar mulai berinvestasi, tetapi menjaga konsistensi di tengah gaya hidup konsumtif dan derasnya kemudahan transaksi digital.
Kemudahan belanja online hingga akses pinjaman digital membuat banyak anak muda lebih mudah mengeluarkan uang untuk kebutuhan konsumtif dibandingkan membangun aset.
"Generasi muda kalau yang pasti sekarang itu banyak orang yang sangat boros. Kenapa boros? Karena kita dipermudah dengan akses belanja gampang, pakai ponsel tinggal tekan-tekan, tinggal check out-checkout, masuk keranjang. Sementara yang dibelanjain itu adalah hal-hal yang sifatnya konsumtif," ungkapnya kepada Kompas.com, Senin (4/5/2026).
Karena itu, Aidil menekankan pentingnya memilih instrumen sesuai tujuan keuangan dan profil risiko.
Untuk kebutuhan jangka panjang, dia menyarankan masyarakat menggunakan instrumen investasi yang mampu memberikan pertumbuhan nilai aset dalam waktu lama.
Selain pemilihan instrumen, konsistensi juga dinilai menjadi faktor penting dalam investasi.
Menurut Aidil, hasil investasi umumnya baru benar-benar terasa setelah berjalan lebih dari lima tahun.
"Harus sabar, investasi itu buat jangka panjang. Investasi itu baru kelihatan kalau dia sudah di atas 5 tahun, di atas 8 tahun. Tapi kalau kebutuhannya jangka pendek, masuk ke produk jangka pendek seperti tabungan, deposito, emas, buat yang jangka pendek sama jangka menengah," kata Aidil.
Ilustrasi investasi
Pengelolaan Keuangan Digital Makin Dibutuhkan
Seakan menjawab permasalahan tersebut, perubahan perilaku finansial generasi muda mulai direspons industri perbankan digital melalui fitur pengelolaan uang yang lebih terstruktur.
Head of Retail Banking Brand and Marketing Bank Jago Michael Hartawan mengatakan, banyak nasabah sebenarnya bukan hanya kesulitan menyimpan uang, tetapi juga mengelolanya dengan disiplin.
Menurut dia, dana kebutuhan harian, tabungan, hingga rencana jangka panjang sering tercampur dalam satu rekening sehingga tujuan finansial sulit tercapai.
Melalui fitur kantong, pengguna dapat memisahkan alokasi dana sesuai tujuan keuangan tanpa perlu membuka banyak rekening.
Michael menyebut kebutuhan nasabah kini juga berkembang dari sekadar mengatur pengeluaran menjadi menumbuhkan aset lewat investasi.
"Pengguna kini tidak hanya menyimpan dan membagi dana, tetapi juga mulai berinvestasi di berbagai instrumen, sering kali melalui lebih dari satu platform," jelasnya kepada Kompas.com, Selasa (5/5/2026).
Karena itu, Bank Jago menghadirkan integrasi dengan Bibit dan Stockbit agar pengguna dapat mengelola dana sekaligus memantau investasi dalam satu aplikasi.
Melalui integrasi ini, perjalanan finansial nasabah menjadi lebih seamless, dari mengatur dan mengalokasikan dana di aplikasi Bank Jago, hingga langsung mengembangkannya melalui investasi tanpa harus berpindah ekosistem.
"Kami percaya, pengelolaan keuangan adalah langkah awal, tetapi nilai sebenarnya terletak pada bagaimana dana tersebut terus bertumbuh seiring waktu," ucapnya.
Untuk melengkapi kebutuhan pengelolaan investasi, aplikasi Bank Jago juga menghadirkan fitur Portofolio Investasi yang memungkinkan nasabah memantau berbagai aset dalam satu tampilan.
Melalui fitur ini, instrumen seperti reksa dana hingga saham dapat terlihat secara menyeluruh sehingga nasabah tidak perlu lagi berpindah-platform untuk memahami posisi keuangannya.
"Mereka bisa memantau nilai aset, komposisi portofolio, dan pergerakannya secara real-time," tuturnya.
Baca juga: Survei: Karier Tak Lagi Soal Jabatan, Gen Z dan Milenial Kini Cari Hidup Seimbang
Tag: #tren #investasi #aktif #mulai #tapi #masih #mencari #cara