Keseringan Main Gadget Anak Berisiko Alami Virtual Autism
Ilustrasi anak menggunakan gawai(FREEPIK)
16:35
13 April 2026

Keseringan Main Gadget Anak Berisiko Alami Virtual Autism

Penggunaan gawai pada anak yang semakin masif di era digital memunculkan fenomena baru yang perlu diwaspadai, yaitu virtual autism atau autisme virtual. 

Kondisi ini sering kali disalahartikan sebagai autisme, padahal memiliki penyebab yang berbeda.

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak di FK-KMK UGM/RS Sardjito, Prof. dr. Mei Neni Sitaresmi, Ph.D, Sp.A(K) menjelaskan, gejala virtual autism memang sekilas menyerupai autisme, terutama dalam hal interaksi sosial dan komunikasi anak.

“Autis itu prinsipnya gangguannya pada interaksi sosial, komunikasi, berbagi, bermain peran yang tidak ada pada anak. Kalau virtual autism ini dipicu oleh penggunaan gawai berlebih,” jelas Prof. Mei saat diwawancarai Kompas.com, Sabtu (11/4/2026).

Baca juga: Penggunaan Gawai Dikaitkan dengan Memburuknya Kesehatan Mental Remaja

Fenomena ini menjadi perhatian karena banyak orangtua yang belum menyadari bahwa kebiasaan anak bermain gawai tanpa batas dapat memengaruhi perilaku dan perkembangan sosialnya.


Gejala yang mirip dengan autisme

Virtual autism ditandai dengan berbagai gejala yang menyerupai autisme, meskipun akar masalahnya berbeda. Anak yang mengalami kondisi ini menunjukkan perubahan perilaku yang cukup signifikan.

“Kemudian, cirinya anak-anak jadi hiperaktif, dia fokus hanya ketika melakukan yang dia suka, terkadang dipanggil tidak merespon, dan mudah teralihkan,” ujar Prof. Mei.

Gejala tersebut sering kali membuat orangtua khawatir, karena anak terlihat seperti tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya.

Padahal, kondisi ini berkaitan erat dengan pola penggunaan gawai yang berlebihan dan kurangnya stimulasi interaksi langsung.

Baca juga: Anak Tantrum saat Gadget Diambil? Ini Cara Mengatasinya Menurut Psikolog

Siswa mengoprasionalkan gawai saat pembelajaran Teknologi berbasis AI di SMPN 24 Kota Malang Jawa Timur pada 7 April 2026. KOMPAS.com/ PUTU AYU PRATAMA SUGIYO Siswa mengoprasionalkan gawai saat pembelajaran Teknologi berbasis AI di SMPN 24 Kota Malang Jawa Timur pada 7 April 2026.

Berkaitan dengan keterlambatan bicara

Selain perubahan perilaku, virtual autism juga dapat berdampak pada kemampuan komunikasi anak. Dalam beberapa kasus, kondisi ini berkaitan dengan keterlambatan bicara.

“Gejala ini juga banyak terjadi pada anak dengan ADHD. Tapi untuk virtual autism ini juga bisa disertai keterlambatan bicara pada anak dan enggan berinteraksi dengan sekitar,” lanjutnya.

Kurangnya interaksi dua arah membuat anak tidak mendapatkan stimulasi yang cukup untuk mengembangkan kemampuan bahasa.

Akibatnya, anak cenderung pasif dalam berkomunikasi dan lebih memilih aktivitas yang bersifat individual, seperti bermain gawai.

Baca juga: Waspadai Jika Anak Enggan Main di Luar karena Gadget

Dampak pada emosi dan pola tidur

Penggunaan gawai yang tidak terkontrol juga memengaruhi kondisi emosional anak. Anak menjadi lebih mudah marah dan mengalami gangguan tidur.

“Dari sisi emosional, anak juga mudah marah dan tidurnya juga terganggu karena kecanduan gawai,” kata Prof. Mei.

Gangguan tidur ini dapat memperburuk kondisi anak secara keseluruhan, termasuk konsentrasi, suasana hati, dan kesehatan fisik. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menghambat tumbuh kembang anak secara optimal.

Bisa diperbaiki dengan mengurangi screen time

Meski terdengar mengkhawatirkan, virtual autism bukanlah kondisi permanen. Prof. Mei menegaskan bahwa kondisi ini masih dapat diperbaiki jika ditangani dengan tepat.

“Namun, untuk virtual autism jika screen time-nya di-stop, dikurangi, dan digantikan dengan aktivitas yang berinteraksi dua arah, maka kondisinya akan membaik,” tuturnya.

Pendampingan orangtua menjadi kunci penting dalam mengatasi masalah ini. Dengan membatasi penggunaan gawai serta mendorong anak untuk lebih banyak berinteraksi secara langsung, perkembangan sosial dan emosional anak dapat kembali optimal.

Kesadaran akan dampak screen time berlebih menjadi langkah awal yang penting bagi orangtua di tengah era digital saat ini.

Baca juga: Perjuangan Ira Membesarkan Anak dengan ADHD, Tentang Menerima dan Mencintai

Tag:  #keseringan #main #gadget #anak #berisiko #alami #virtual #autism

KOMENTAR