Pesona Akulturasi Budaya Tionghoa dan Jawa dalam Batik Peranakan
- Batik peranakan bukan selembar kain tradisional biasa. Salah satu wastra ini merupakan wujud nyata akulturasi budaya Nusantara yang sangat sarat akan nilai sejarah.
Perpaduan harmonis antara budaya pendatang dan lokal ini melahirkan karya seni yang turut memperkaya keindahan fesyen tradisional di Indonesia.
Pameran batik bertajuk "Metamorfosa" di Lantai 8 Menara Kompas, Jakarta, kembali mengingatkan publik pada pesona akulturasi ini.
Di balik ragam coraknya yang indah, tersimpan rentetan filosofi kehidupan etnis keturunan yang membaur sempurna.
"Batik peranakan ini menjadi satu hal yang spesial karena perpaduan dua budaya, budaya Tionghoa dan budaya Jawa," ujar pembatik dari Jakarta, Dave Tjoa, dalam talkshow "Merayakan Batik Peranakan di Indonesia" di lokasi, Sabtu (11/4/2026).
Baca juga: Menelusuri Jejak Sejarah Batik Peranakan di Pameran Metamorfosa
Pembatik Jakarta, Dave Tjoa, dalam talkshow Merayakan Batik Peranakan di Indonesia di pameran batik peranakan Metamorfosa di Lantai 8 Menara Kompas, Jakarta, Sabtu (11/4/2026).
Akulturasi ornamen budaya Tionghoa
Peleburan dua kebudayaan ini paling jelas tertuang pada goresan ragam hias motifnya. Ornamen yang dibawa oleh masyarakat keturunan Tionghoa perlahan dilebur secara apik bersama isen-isen khas Jawa.
Isen adalah ornamen pengisi latar kain batik yang masih kosong. Fungsinya adalah untuk mempercantik, sekaligus membuat motif utama terasa lebih hidup.
Inspirasi desain ini kerap mengambil elemen-elemen sakral dan dekoratif. Berbagai corak tersebut sering dijumpai pada bangunan arsitektur tradisional seperti klenteng.
"Kita bisa melihat apa yang menjadi motif dari batik tersebut ditambahkan dari budaya Tionghoa, seperti contoh bisa ada burung hong, naga, bunga-bunga peony," tutur Dave.
Baca juga: Pameran Metamorfosa Tampilkan Indahnya Batik Peranakan
Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.
Pada masa lampau, motif figuratif sakral seperti naga sangat jarang digunakan untuk rancangan busana harian. Kain bermotif naga kala itu lebih dikhususkan sebagai kain altar atau yang biasa disebut tok wi.
Meski begitu, wastra pesisir ini selalu menyematkan harapan dan doa khusus dalam setiap helai benangnya. Batik juga menjadi penentu standar keanggunan bagi sang pemakai.
"Filosofi dari batik peranakan itu intinya adalah ketika perempuan memakai batik tersebut, dia harus tampil cantik, mempesona, anggun, dan berwibawa," tambah Dave.
Baca juga: Dedikasi Dave Tjoa Lestarikan Batik Peranakan Lewat Kain 8 Meter
Jejak pengaruh Putri Ong Tien di Cirebon
Sejarah persilangan budaya ini juga terekam sangat kuat melalui jejak goresan canting di daerah pesisir Kota Cirebon, Jawa Barat. Akulturasi tersebut tidak lepas dari dinamika masyarakat keturunan di kawasan Trusmi.
Pembatik asal Cirebon sekaligus pemilik Batik Kanoman, Giok, dalam talkshow Merayakan Batik Peranakan di Indonesia di pameran batik peranakan Metamorfosa di Lantai 8 Menara Kompas, Jakarta, Sabtu (11/4/2026).
Masuknya pengaruh gaya Tionghoa dalam corak lokal sangat lekat dengan figur Putri Ong Tien. Ia merupakan putri asal Tiongkok yang berlayar ke Nusantara dan menikah dengan Sunan Gunung Jati.
"Putri Ong Tien ini katanya, menurut cerita, pandai membuat batik, sehingga batik-batiknya juga agak lain dan itu warna-warnanya dari tumbuh-tumbuhan," ungkap pembatik asal Cirebon sekaligus pemilik Batik Kanoman, Giok.
Filosofi dalam pembuatan batik asal Cirebon ternyata tidak hanya berhenti pada corak semata. Proses pembuatannya pun sangat bergantung pada kestabilan emosi dan ketenangan jiwa sang pengrajin.
Ketenangan batin menjadi kunci utama agar goresan malam canting, khususnya teknik tembokan merawit yang rumit, dapat menempel sempurna.
Baca juga: Cerita di Balik Batik Jaga Rawat Bhinneka Karya Dave Tjoa
Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.
Tembokan merawit adalah teknik membatik menggunakan canting tembokan untuk menghasilkan goresan tipis yang tidak putus di atas kain.
"Membatik itu punya emosi, kemudian juga mesti berpikir dengan akalnya. Makanya kenapa pembatik saya kalau lagi marah-marah, saya suka bilang 'stop ya'," papar Giok.
Selain mengadaptasi corak luar, filosofi visual Cirebon juga banyak terinspirasi dari doa para petani lokal. Salah satunya tercermin pada corak ikonik Mega Mendung, yang diambil dari kata mega (awan) dan mendung.
Dahulu, para petani sangat merindukan turunnya rintik hujan di tengah sengatan musim kemarau panjang.
"Diharapkan sekali meganya cepat mendung, sehingga disebutnya Mega Mendung, karena Cirebon itu udaranya panas dan musim kemaraunya lebih panjang," jelas Giok.
Baca juga: Makna Mendalam Batik Jaga Rawat Bumi Karya Dave Tjoa, Suarakan Krisis Lingkungan
Pembatik asal Lasem sekaligus sosok di balik jenama Batik Nyah Kiok, Sulistyono, dalam talkshow Merayakan Batik Peranakan di Indonesia di pameran batik peranakan Metamorfosa di Lantai 8 Menara Kompas, Jakarta, Sabtu (11/4/2026).
Simbol kerukunan corak Lasem
Keunikan sejarah perpaduan budaya ini juga kental mewarnai industri wastra di wilayah Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Daerah pesisir ini dulunya menjadi denyut nadi utama bagi ratusan pengrajin batik keturunan Tionghoa.
Pembatik asal Lasem sekaligus sosok di balik jenama Batik Nyah Kiok, Sulistyono, menuturkan bahwa kawasan pesisir ini bahkan sejak lama mendapat julukan sebagai "Tiongkok Kecil".
"Sejarah di Lasem sendiri, batik peranakan itu memang asal batik di Lasem dulu semuanya Tionghoa. Sekitar abad 18-19 itu ada 200 lebih yang membuat," tutur Sulistyono.
Kekayaan sejarah tersebut hingga kini terus dilestarikan melalui upaya revitalisasi yang konsisten. Sulistyono bahkan mengaku masih memegang teguh resep-resep pewarnaan dan pola warisan leluhurnya.
Baca juga: 5 Tempat Beli Batik di Pekalongan untuk Oleh-oleh Mudik
Pameran batik peranakan bertajuk Metamorfosa di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Pameran ini berlangsung pada 9 April-5 Mei 2026.
Dari segi pendekatan desain, corak klasik Lasem sengaja memadukan elemen flora dan fauna dalam satu kanvas kain. Perpaduan ini merepresentasikan keseimbangan alam semesta.
Visualisasi aneka ragam hias fauna dalam lembaran wastra tersebut juga senantiasa dilukis secara berdampingan, yang melambangkan kebersamaan dan kerukunan.
Apabila ingin mengenal lebih dekat dengan batik peranakan Tionghoa, pameran "Metamorfosa" dibuka untuk umum sampai 5 Mei 2026, setiap hari pukul 10.00-17.00 WIB.
Baca juga: Motif Batik Parang di Jersey Timnas Indonesia, Ini Kata CEO Kelme
Tag: #pesona #akulturasi #budaya #tionghoa #jawa #dalam #batik #peranakan